Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengaduh dan mengaduh pada ibunya, sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek.
“Anakku…,” kata sang ibu sambil bercucuran air mata.
“Tuhan tidak memberikan pada kita bangsa kerang sebuah tangan pun sehingga ibu tak bisa menolongmu. Aku tahu anakku, itu sakit sekali, tetapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu, jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu, karena hanya itu yang bisa kau perbuat,” kata ibunya dengan sendu dan lembut.
Anak kerang pun melakukan nasehat bundanya, memang ada hasilnya. Tetapi rasa sakit bukan alang kepalang, kadang di tengah kesakitannya, ia ragukan nasehat ibunya. Dengan air mata ia bertahan bertahun-tahun lamanya.
Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya, makin lama makin halus, rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar, rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.
Hingga akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna.
Penderitaannya berubah menjadi mutiara, air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini sebagai hasil derita bertahun-tahun lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang Cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.
Cerita ini adalah sebuah paradigma yang menjelaskan bahwa “kerang biasa” menjadi “kerang luar biasa”. Bahwa kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah “orang biasa” menjadi orang luar biasa”. Jadi, jika anda sedang menderita hari ini, apa pun sebabnya, bersiap-siaplah menjadi “orang luar biasa”.***
Senin, 07 Juli 2008
Kamis, 03 Juli 2008
Persaudaraan
Ada dua orang bersaudara bekerja bersama menggarap ladang milik keluarga mereka. Yang seorang, si kakak, telah menikah, dan memiliki keluarga yang cukup besar. Si adik masih lajang, dan berencana tidak menikah. Ketika musim panen tiba, mereka selalu membagi hasil sama rata. Selalu begitu.Pada suatu hari, si adik yang masih lajang itu berpikir. "Tidak adil jika kami membagi rata semua hasil yang kami peroleh. Aku masih lajang dan kebutuhanku hanya sedikit." Maka, demi si kakak, setiap malam, dia akan mengambil sekarung padi miliknya, dan dengan diam-diam, meletakkan karung itu di lumbung milik kakaknya. Sekarung itu ia anggap cukuplah untuk mengurangi beban si kakak dan keluarganya.
Sementara itu, si kakak yang telah menikah pun merasa gelisah akan nasib adiknya. Ia berpikir, "Tidak adil jika kami selalu membagi rata semua hasil yang kami peroleh. Aku punya istri dan anak-anak yang akan mampu merawatku kelak ketika tua. Sedangkan adikku, tak punya siapa-siapa, tak akan ada yang peduli jika nanti dia tua dan miskin. Ia berhak mendapatkan hasil lebih daripada aku."
Karena itu, setiap malam, secara diam-diam, ia pun mengambil sekarung padi dari lumbungnya, dan memasukkan ke lumbung mulik adik satu-satunya itu. Ia berharap, satu karung itu dapatlah mengurangi beban adiknya, kelak.
Begitulah, selama bertahun-tahun kedua bersaudara itu saling menyimpan rahasia. Sementara padi di lumbung keduanya tak pernah berubah jumlah. Sampai....suatu malam, keduanya bertemu, ketika sedang memindahkan satu karung ke maring-masing lumbung saudaranya. Di saat itulah mereka sadar, dan saling menangis, berpelukan. Mereka tahu, dalam diam, ada cinta yang sangat dalam yang selama ini menjaga persaudaraan mereka. Ada harta, yang justru menjadi perekat cinta, bukan perusak. Demikianlah jika bersaudara.***
Mandikan aku Bunda
Saya terenyuh membaca sebuah kisah sedih di internet, sebagai bahan renungan untuk kita bersama. Moga-moga kita sebagai orang tua dari seorang anak yang di atas namakan buah cinta kasih, tidak mengalaminya.Ini ada kisah sedih tentang kehidupan kita sebagai seorang ibu dan wanita karir, semoga dapat diambil hikmahnya baik yang sudah berkeluarga maupun yang masih single. Saya hanya ingin bertutur tentang seorang sahabat saya. Sebut saja Rani namanya.
Semasa kuliah ia tergolong berotak cemerlang dan memiliki idealisme yang tinggi. Sejak awal, sikap dan konsep dirinya sudah jelas : meraih yang terbaik, baik itu dalam bidang akademis maupun bidang profesi yang akan digelutinya. Ketika Universitas mengirim kami untuk mempelajari Hukum
Internasional di Universiteit Utrecht, di negerinya bunga tulip, beruntung Rani terus
melangkah. Sementara saya, lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran dan berpisah dengan seluk beluk hukum dan perundangan. Beruntung pula, Rani mendapat pendamping yang "setara " dengan dirinya, sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi. Alifya, buah cinta mereka lahir ketika Rani baru saja diangkat sebagai staf Diplomat bertepatan dengan tuntasnya suami Rani meraih PhD. Konon nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah "alif" dan huruf terakhir "ya", jadilah nama yang enak didengar : Alifya. Tentunya filosofi yang mendasari pemilihan nama ini seindah namanya pula. Ketika Alif, panggilan untuk puteranya itu berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila saja. Frekuensi terbang dari satu kota ke kota lain dan dari satu negara ke negara lain makin meninggi. Saya pernah bertanya , Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal ?" Dengan sigap Rani menjawab: "Saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Everything is ok. "Dan itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya walaupun lebih banyak dilimpahkan ke baby sitter betul-betul mengagumkan. Alif tumbuh menjadi anak yang lincah, cerdas dan pengertian. Kakek neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu tentang ibu-bapaknya. "Contohlah ayah-bunda Alif kalau Alif besar nanti." Begitu selalu nenek Alif,ibunya Rani bertutur disela-sela dongeng menjelang tidurnya. Tidak salah memang. Siapa yang tidak ingin memiliki anak atau cucu yang berhasil dalam bidang akademis dan pekerjaannya. Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau Alif minta adik. Waktu itu, Ia dan suaminya menjelaskan dengan penuh kasih-sayang bahwa kesibukan mereka belum kemungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini "dapat memahami" orang tuanya.
Mengagumkan memang. Alif bukan tipe anak yang suka merengek. Kalau kedua orang tuanya pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Kisah Rani,Alif selalu menyambutnya dengan penuh kebahagiaan. Rani bahkan menyebutnya malaikat kecil. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orang tua sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby-sitternya." Alif ingin bunda mandikan." Ujarnya. Karuan saja Rani yang dari detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, menjadi gusar. Tak urung suaminya turut membujuk agar Alif mau mandi dengan tante Mien, baby-sitternya. Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan," Bunda, mandikan Alif " begitu setiap pagi. Rani dan suaminya berpikir, mungkin karena Alif sedang dalam masa peralihan ke masa sekolah jadinya agak minta perhatian. Suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. " Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency". Setengah terbang, saya pun ngebut ke UGD. But it was too late. Allah sudah punya rencana lain. Alif, si Malaikat kecil keburu dipanggil pemiliknya. Rani, bundanya tercinta, yang ketika diberi tahu sedang meresmikan kantor barunya, shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan anaknya. Dan itu memang ia lakukan, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku."Ini bunda,Lif. Bunda mandikan Alif." Ucapnya lirih, namun teramat pedih. Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu berkata, " Ini sudah takdir, iya kan ? Aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, dia pergi juga kan ? ". Saya diam saja mendengarkan. "Ini konsekuensi dari sebuah pilihan." lanjutnya lagi, tetap tegar dan kuat. Hening sejenak. Angin senja berbaur aroma kamboja. Tiba-tiba Rani tertunduk. " Aku ibunya !" serunya kemudian," Bangunlah Lif. Bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan bunda sekali lagi saja, Lif". Rintihan itu begitu menyayat. Detik berikutnya ia bersimpuh sambil mengais-kais tanah merah.***
Anjing kecil
Seekor anak anjing yang kecil mungil sedang berjalan-jalan di ladang pemiliknya. Ketika dia mendekati kandang kuda, dia mendengar binatang besar itu memanggilnya."hai anjing kecil ... kamu pasti masih baru di sini, cepat atau lambat kamu akan mengetahui kalau pemilik ladang ini mencintai saya lebih dari binatang lainnya. Karena saya bisa mengangkut banyak barang untuknya, saya kira binatang sekecil kamu tidak akan bernilai sama sekali baginya," ujar kuda dengan sinis.
Anjing kecil itu menundukkan kepalanya dan pergi. Tapi, dari kandang sebelah, ia mendengar suara seekor sapi.
"Hai anjing kecil ... tahukah kamu bahwa saya adalah binatang yang paling terhormat di sini sebab nyonya di sini membuat keju dan mentega dari susu saya. Kamu tentu tidak berguna bagi keluarga di sini," dengan nada mencemooh.
Belum lagi kesedihannya hilang, ia mendengar teriakan domba. "Hai sapi, kedudukanmu tidak lebih tinggi dari saya. Aku memberi mantel bulu kepada pemilik ladang ini. Saya memberi kehangatan kepada seluruh keluarga. Tapi omonganmu soal anjing kecil itu, memang benar. Dia sama sekali tidak ada manfaatnya di sini."
Satu demi satu binatang di situ ikut serta dalam pencemoohan itu, sambil menceritakan betapa tingginya kedudukan mereka di ladang itu. Ayam pun berkata bagaimana dia telah memberikan telur, kucing bangga bagaimana dia telah mengenyahkan tikus-tikus pengerat dari ladang itu. Semua binatang sepakat kalau si anjing kecil itu adalah mahluk tak berguna dan tidak sanggup memberikan kontribusi apapun kepada keluarga itu.
Terpukul oleh kecaman binatang-binatang lain, anjing kecil itu pergi ke tempat sepi dan mulai menangis menyesali nasibnya. Sedih rasanya, sudah yatim piatu, dianggap tak berguna, disingkirkan dari pergaulan pula.
Dan ternyata tak jauh dari situ, ada seekor anjing tua mendengar tangisan tersebut, lalu menyimak keluh kesah si anjing kecil itu," anjing tua ... saya tidak dapat memberikan pelayanan kepada keluarga di sini, sayalah hewan yang paling tidak berguna di sini."
Terharu, anjing tua berkata, "Memang benar bahwa kamu terlalu kecil untuk menarik pedati. Kamu tidak bisa memberikan telur, susu ataupun bulu. Tetapi bodoh sekali jika kamu menangisi sesuatu yang tidak bisa kamu lakukan. Kamu harus menggunakan kemampuan yang diberikan oleh Sang Pencipta untuk membawa kegembiraan."
Malam itu ketika pemilik ladang baru pulang dan tampak amat lelah karena perjalanan jauh di panas terik matahari, anjing kecil itu lari menghampirinya, menjilat kakinya dan melompat ke pelukannya. Sambil menjatuhkan diri ke tanah, pemilik ladang dan anjing kecil itu berguling-guling di rumput disertai tawa ria. Akhirnya pemilik ladang itu memeluk dia erat-erat dan mengelus-elus kepalanya, dan berkata:
"Meskipun saya pulang dalam keadaan letih, tapi rasanya semua jadi sirna, bila kau menyambutku semesra ini. Kamu sungguh yang paling berharga di antara semua binatang di ladang ini. Kamu kecil, tapi sangat mengerti artinya kasih."
Nah ...Jangan sedih ketika kita tidak dapat melakukan sesuatu seperti orang lain karena memang tidak memiliki kemampuan untuk itu. Tetapi apa yang kita dapat lakukan, kerjakan itu dengan sebaik-baiknya. Jangan sombong jika kita merasa banyak melakukan beberapa hal pada orang lain, karena orang yang tinggi hati akan direndahkan dan orang yang rendah hati akan ditinggikan. Selalu begitu.***
Rabu, 02 Juli 2008
Bak Menggantang Asap
Asap mulai membumbung mengancam pernapasan warga, khususnya di wilayah Dumai, Duri dan Ujungtanjung. Saat ini lahan yang terbakar lebih dari 1.000 hektare. Berbagai upaya sudah dilakukan, tetapi belum mampu menghadang rambatan api di dalam gambut. Pemadaman bukan hanya menggunakan semprotan, tetapi dengan bom air yang menggunakan helikopter. Upaya ini belum bisa menghentikan kepulan asap, sebab api berada di dalam gumpalan gambut, yang kedalamannya sampai 1,5 meter. Artinya api itu seperti dalam sekam. Kendati bagian atas sudah padam, bagian dalam sekam itu tetap menyala kendati kita siram berulang kali.
Satu-satunya upaya memadamkan api dalam gambut itu adalah dengan turunnya hujan. Masalahnya, berulang kali dilakukan Salat Istiqa, salat minta hujan, tapi sering kali Allah SWT jarang mengabulkannya. Entah apa penyebabnya, mungkin sudah terlalu banyak dosa umat manusia ini. Semua yang kita alami saat ini seharusnya menjadi pelajaran bagi kita semua.
Dan kalau pun diturunkan hujan, biasanya yang terjadi adalah muncul bencana banjir. Habis asap terbitlah banjir, demikian media menyebutnya. Kita jadi gamang, bagaimana menyikapi perubahan iklim yang terjadi saat ini.
Kebijakan yang dilakukan ibarat menggantang asap, semua sepertinya sia-sia saja. Asap dan banjir sudah semakin akrap. Mereka tidak mau berjarak. Bukankah di awal Februari ini sebagian Riau kebanjiran, namun dalam bulan yang sama pula muncul kebakaran lahan.
Seandainya asap ini laku diekspor, mungkin Riau memperoleh pendapatan yang cukup lumayan, tetapi masalahnya asap dianggap benda yang membahayakan. Asap bebas terbang ke mana saja, karena asap memang tidak bisa diarahkan. Negara yang disinggahi pun risih, ibarat kedatangan penyakit, sampai-sampai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ditegur PM Singapura Lee Hsien Loong dan Malaysia Abdullah Badawi atau Pak Lah.
Teguran ini seakan-akan Indonesia, khususnya Riau adalah provinsi yang paling bersalah. Padahal kalau dilihat data beberapa tahun lalu, bahwa perusahaan-perusahaan yang diduga membakar lahan itu adalah perusahaan yang pendanaannya dari warga negara Malaysia. Pertanyaannya, apakah Pemerintah Malaysia merelakan pengusahannya itu dihukum. Jawabannya, tentu mereka tidak rela. Tapi tolong jangan disalahkan warga negara Indonesia yang dituduh membakar lahan itu.
Demikian juga Pemerintah Singapura, berapa keuntungan yang diperoleh dari pedagangan minyak sawit, pulp dan kertas. Jangan mahu untungnya saja, tolong sisihkan sedikit keuntungan itu untuk dana pemadaman asap di Riau.
Pernah beberapa tahun waktu lalu, seorang petani di Desa Sungai Alam, Kecamatan Bengkalis ditangkap polisi dan dihukum oleh pengadilan, tersebab membakar lahan. Padahal lahan yang dibakar itu tak sampai satu jempo atau satu jalur. Keluarga sang petani menangis menghadap saya, kebetulan saya Wakil Ketua HKTI dan anggota DPRD Bengkalis, maka wajar mereka mengadu ke saya.
Saya berpikir, bagaimana mungkin petani yang sejak dulu sudah terbiasa membakar ladangnya itu dihukum. Mereka saat membakar berada di ladang, tidak membiarkan begitu saja. Artinya mereka betul-betul mengawasi pembakaran ladangnya itu. Sementara perusahaan perkebunan besar tidak satu pun yang diusik hukum. Yang menjadi pertanyaan, mengapa petani itu yang ditahan. Sejumlah petani yang dianggap bersalah ini pun tetap bersabar, mereka menjalani hukuman dengan perasaan tidak bersalah.
Kebetulan pada saat itu DPRD Riau sedang membahas Perda Karhutla, salah satu isinya menjelaskan bahwa petani tradisional dibolehkan membakar lahan maksimal seluas dua hektare. Tapi, harapan itu pun kandas, sebab Mendagri menolaknya.
Nah, jangan salahkah jika petani saat ini ketakutan ke ladang. Mereka takut ditangkap, sebab sekarang di mana-mana mulai diselimuti asap. Mereka (baca: petani) takut dijadikan kambing hitam.
Bagi kepolisian, setiap muncul kabut asap dan sulit diatasi, tentu harus ditangkap pelakunya. Tapi siapa yang ditangkap? Adakah pengusaha? Petani lah yang paling mudah ditangkap. Selain mereka lemah, mereka juga tidak ada yang membela.
Kepolisian dipaksa oleh publik menangkap pembakar lahan, tetapi masalahnya mereka berhadapan dengan sejumlah pengusaha besar. Untuk melaporkan ke Mabes Polri, bahwa mereka telah berhasil menangkap sejumlah pelaku pembakaran lahan di Riau, tentulah petani lugu itu yang ditangkap.
Haruskah asap yang mulai mengepul di Dumai dan Duri itu akan menjadikan petani sebagai kambing hitamnya? Kita tidak tahu.
Seharusnya dibedakan antara petani tradisional dengan petani berdasi. Harus dibedakan pula petani ladang yang sudah lama bermukim dengan petani pembalak hutan, yang membakar hutan untuk dijadikan ladang.
Jangan sampai petani yang memang betul-betul petani itu yang ditangkap, sementara petani jadi-jadian alis siluman itu bebas membakar hutan. Biasanya petani berdasi jarang turun ke lapangan.
Petani yang tidak bertanggung jawab biasanya setelah membakar ladangnya, mereka tinggalkan begitu saja. Nah, inilah yang perlu dikejar pihak kepolisian. Jangan menangkap petani yang sedang bekerja di ladang.
Trauma pasca-penangkapan petani tradisional di Pulau Bengkalis sampai kini masih dirasakan. Untuk itu perlu penangan yang lebih arif lagi terkait pembakaran lahan ini. Semoga kabut asap kali ini tidak mengkambinghitamkan petani tradisional lagi.***
Bagus Santoso SAg MP, Wakil Ketua DPRD Bengkalis dan Wakil Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Bengkalis.
Mempertaruhkan 53 Ribu PNS
“Untuk menjamin netralitas Pegawai Negeri sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), Pegawai Negeri dilarang menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik”. Pasal 3 ayat (3) Undang-undang No.43/1999Kutipan undang-undang di atas mengandung makna yang dalam. Pertama, bagi sebagian PNS, yang bukan pengurus partai mereka menjadi lebih tenang, sebab lebih leluasa saat memilih calon yang dijagokannya saat Pilkada atau Pemilu. Apakah pemilihan bupati, gubernur atau presiden atau pula saat Pemilu yang memilih wakil rakyat di tingkat kabupaten/kota, provinsi dan pusat.
Kedua, bagi yang pernah merasakan nikmatnya menjadi pengurus partai mereka menjadi gamang, minimal harus memilih jadi PNS karir atau pengurus partai.
Selain itu, larangan ini akan menjadi hambatan untuk mencari kader-kader baru partai dari kalangan akademisi (dosen) atau birokrat. Seperti yang pernah diungkapkan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, partai memerlukan orang-orang pintar dari kalangan akademisi, jangan sampai dengan adanya larang PNS masuk partai, mengakibatkan partai hanya dipenuhi kalangan saudagar saja.
Wajar saja JK berpikiran demikian, sebab Amien Rais juga merupakan akademisi yang pemikirannya sangat diperlukan mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM) saat ini. Makanya setelah tidak lagi memimpin partai Amien Rais kembali duduk di depan kelas.
Setiap orang memang berhak menafsirkan sisi baik dan buruknya dari undang-undang tersebut dan wajar saja JK memberi pemahaman yang berbeda. Undang-undag tentu ada sisi baik dan buruknya.
53 Ribu PNS Riau
Pada dasarnya setiap individu cenderung pada pilihan hati nuraninya, namun kadang kala pilihan itu sering dikaburkan oleh sistem, maka jarang heran kalau PNS masa Orde Baru tidak mampu berdiri tegak membusungkan dada bahwa dirinya punya pilihan sendiri —takut dikucilkan. Saat itu akan merasa bangga kalau bisa menjadi pengurus Golkar, apakah di tingkat desa atau kecamatan, apalagi di tingkat kabupaten dan provinsi.
Nah, pasca diberlakukankannya UU No 43/1999, maka PNS sedikit bernapas lega, sebab PNS dilarang menjadi pengurus Parpol. Artinya bebas memilih siapapun yang dianggapnya sesuai dengan keinginannya.
Anda dapat membayangkan, jika suara PNS se-Riau yang jumlahnya lebih 53 ribu lebih ini akan ”dipaksa” memilih partai atau tokoh tertentu saja. Jumlah 53 ribu bukan angka yang sedikit. Itu baru angka PNS, belum lagi istri, anak dan keluarga mereka. Anggap saja PNS tersebut memiliki tiga anak ditambah satu istri, maka jumlahnya menjadi lima. Kalai lima dikali 53 ribu, jumlahnya sekitar 250 ribu lebih. Angka ini adalah angka yang signifikan dalam memenangkan calon tertentu.
Sisi lain, biasanya sosok PNS besar pengaruhnya di masyarakat. Anggap saja sekitar 10 keluarga yang terpengaruh pada PNS ini, maka jadilah 2.500 suara, maka totalnya mencapai 2.750 suara. Yakni suara PNS ditambah keluarganya dan 10 keluarga di sekitarnya. Angka tersebut hanya prediksi sederhana, namun diperkirakan lebih dari angka itu, jika PNS dijadikan ”mesin politik”.
PNS dapat digunakan untuk mesin Pilkada dan Pemilu, sebab PNS memiliki jaringan luas. Misalnya hubungan antara atasan dan bawahan, yang harus ”dipahami” oleh bawahan —Soal ‘’paham’’ ini sampai-sampai dalam seleksi jabatan sang calon harus ”sepaham” dengan atasannya, sementara pendidikan SPAMA dinomorduakan.
Korpri Bukan Alat Politik
Sebagai wadah tempat berkumpulnya PNS, Korpri harus pula berani melakukan reaktualisasi atas tugas dan fungsinya. Korpri yang dibentuk berdasarkan Keppres 82/1971 pada 29 Nopember 1971, dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas mental, moral, pengabdian, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) PNS. Bukan untuk diperalat demi kemenangan partai tertentu.
Korpri (PNS) bukan alat politik. Jika ada tindakan pemimpin Korpri atau instansi terhadap anggotanya yang bertentangan dengan semangat reformasi dan hakikat Korpri haruslah diluruskan.
Sejatinya dengan persatuan itulah Korpri mestinya menghormati perbedaan aspirasi politik anggotanya, bukan memaksakan kehendak yang merugikan anggotanya. Keniscayaan tersebut merupakan bagian integral dari realitas PNS sebagai unsur aparatur negara, abdi negara, dan abdi masyarakat, dalam menyelenggarakan pemerintahan dan pembangunan.***
Bagus Santoso SAg MP, Wakil Ketua DPRD Bengkalis.
Menangkap Pesan Idul Fitri
Tatkala seseorang usai menunaikan zakat senilai 2,5 persen dari hartanya, maka sudah terpenuhilah hukum Islam yang dibebankan padanya. Sementara usai membayar zakat, terlihat seorang anak yang kelaparan, orang itu pun pikir-pikir untuk membantunya. Padahal zakat itu adalah standar minimal yang ditetapkan hukum Islam. Kalau Anda mau membayar lebih, tentu yang lebih ini lebih utama.Kita selama ini lebih banyak menjalankan ibadah standar ”lunas’’, tidak ada keinginan untuk lebih baik. Nah pada ibadah puasa ini Allah SWT mengisyaratkan mau pilih yang mana? Mau puasa sekadarnya saja, menahan rasa lapar dan haus, atau menjalankan ibadah puasa sebaik mungkin.
Menurut Cak Nun (Emha Ainun Najib) manusia seperti ini adalah manusia fiqh, yakni melaksanakan ibadah sebatas anjuran fiqh. Kalau sudah melaksanakan ibadah sesuai dengan rukunnya, maka sudah selesailah urusannya ibadahnya pada Allah.
Pada tahap ini, kesadaran manusia beragama baru pada taraf sekadar menjalankan aturan main dari Tuhan atau agama. Misalnya, kalau zakat mensyaratkan cukup 2,5 persen, padahal ia mampu 10 persen, maka yang ia pilih adalah yang 2,5 persen. Dengan kata lain, yang ia pilih hanyalah sekadar untuk memenuhi ritual sesuai hukum fiqh.
Di atas manusia fiqh adalah cinta atau hub. Kalau orang sampai pada tataran ini, ia tidak lagi sekadar memenuhi aturan hukum fiqh. Ia akan melakukan apa saja yang terbaik bagi ciptaan Allah berdasarkan rasa cinta. Ia akan rela menolong siapa saja meskipun hukum, misalnya, tidak mewajibkan hal itu. Sederhana saja, landasannya adalah rasa cinta.
Di atas cinta adalah takwa, yang merupakan tujuan utama berpuasa. Salah satu ciri orang yang betakwa adalah menyerahkan semua hidupnya hanyalah kepada Allah. Ia hanya menangis di hadapan Allah dan tidak di hadapan manusia. Ia tidak akan berbalik perilakunya meskipun puasa telah berlalu.
Makanya Allah pun isyaratkan manusia yang benar-benar menjalankan ibadah puasa akan memperoleh titel takwa. Puasa tidak hanya menahan lapar dan haus alias sekadar lunas. Puasa baginya merupakan proses pendidikan rohani. Ia akan kreatif memainkan kecerdasan emosional, intelektual, dan kecerdasan spiritual untuk mencari hikmah di balik puasa.
Misalnya ia makin paham bahwa ketika siang hari nafsunya menuntun akan menghabiskan seluruh makanan yang ada di meja saat buka puasa nanti, begitu berbuka tiba, ia baru sadar bahwa nafsu besar tadi akan ditolak oleh perut. Perut adalah bagian badan yang jujur bahwa ia memiliki keterbatasan. Di sinilah ibadah puasa itu menjelaskan mana sejati dan mana yang palsu.
Islam memang menganjurkan kita memperoleh harta yang berlimpah, tetapi tidak untuk dikonsumsi sendiri. Harta itu harus bermanfaat. Harta itu tidak akan bisa dibawa mati. Tapi ada cara lain, bagaimana agar harta itu bisa dibawa mati. Caranya? Ya dimanfaatkan untuk kebaikan. Harta itu bermanfaat bagi orang lain, dan dari manfaat itulah pahalanya bisa dibawa pulang ke ‘’kampung akhirat’’.
Padahal puasa mengajarkan mana yang sejati dan mana yang palsu. Yang sejati bisa di bawa mati, sedangkan yang palsu hanya menjadi rebutan anak cucu ketika ia meninggal. Islam juga mempersilakan umatnya untuk mencari harta sebanyak mungkin, asal halalal dan thoyyiban. Dan yang penting, harta adalah benda material yang harus ditransformasikan menjadi “energi” agar dapat di bawa mati.
Dalam term agama disebut “diamalsalehkan”. Sebuah mobil yang ia miliki tidak bisa dibawa mati kalau hanya berujud mobil. Benda itu dapat dibawa mati ketika diamalkan, misalnya sering untuk menolong tetangga yang memerlukannya.
Yang terjadi pada bulan puasa adalah kebaikan semu. Lihat saja nanti begitu menjelang hari raya kurang tiga hari, orang sudah lupa Salat Tarawih, sudah lupa bersedekah, lupa berpenampilan baik dan sabar. Yang ia pikirkan adalah memenuhi nafsu memborong segala keperluan yang berlebihan menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Memaafkan Itu Menyehatkan
Memang Idul Fitri bukanlah suatu yang akhir. Masih akan ada perjuangan yang harus dilalui sesudahnya. Seperti yang pernah diisyaratkan Rasulullah seusai Perang Badr di akhir Ramadan. Bahwa, dari perang kecil (Badr) masih ada perang yang lebih besar untuk menegakkan agama yang benar.
Beragama yang benar adalah nasihat menasihati. Sabda Rasul: Addinun Nashihhat, arti nasehat bukan sekadar membimbing dengan kata-kata, tetapi menunjukkan serta mendukung segala kebajikan dengan amal perbuatan, sehingga pemberi nasihat mengantar orang yang dinasihati kepada suasana keterbukaan, tenggang rasa, serta insyaf bahwa keperluan manusia tidak dapat dipenuhi kecuali dengan bantuan orang lain.
Yang lebih penting, semoga saja tak cuma simbol yang melekat pada diri kita selepas puasa sebulan penuh ini. Segala aspek kehidupan yang lurus yang kita jalani selama Ramadan ini hendaknya menjadi titik tolak untuk melangkah ke depan. Hal ini kita mulai dari diri kita sendiri, barulah kemudian ke jenjang yang lebih besar yakni saudara, keluarga, tetangga, hingga masyarakat luas.
Adapun mengenai perayaan Idul Fitri yang berbeda waktunya janganlah dijadikan perdebatan dan masalah besar. Sebaliknya, terimalah perbedaan itu sebagai rahmat dan tetap menjalin tali silaturahmi. Bukankah diturunkan ajaran Islam ini untuk rahmatan lil alamin.
Masih ingat di saat kita masih anak-anak dulu kala. Hari Raya Idul Fitri merupakan hari yang sangat indah. Bukan berarti harus berbaju baru atau makanan yang lezat, tetapi orang tua kita mengajarkan pada diri kita bahwa kita telah ”menang”, karena selama
Belajar dari Kejayaan Islam
Orang miskin dilarang sakit.Orang miskin jangan bermimpi kuliahDemikian ungkapan miris yang sering kita dengar. Namun itulah kenyataan kehidupan kita hari ini. Bertepatan dengan pengumuman hasil
Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) yang kebatulan hari ini, Jumat, 3 Agustus 2007. Penulis ini ingin mencermati dunia pendidikan, khususnya perguruan tinggi. Salah satu masalah pendidikan yang sangat krusial adalah mahalnya biaya pendidikan.
Mulai dari Taman Kanak-kanak (TK) sampai Perguruan Tinggi (PT), semuanya mahal. Tidak ada yang gratis. Kalau pun gratis cuma di bibir saja, tapi kenyataanya, ya harus bayar. Sampai-sampai sejumlah kepala daerah saat ini ”digugat” karena tidak bisa memberikan pendidikan gratis sebagaimana dijanjikan pada masa kampanye.
Hari ini, bagi yang lulus maupun yang gagal SPMB, sama-sama pusing. Bagi yang lulus, dari kalangan orang tuanya yang kurang mampu, mereka saat ini berpikir keras bagaimana mendapatkan uang kuliah. Termasuk biaya kos di kota yang kian mahal. Sampai-sampai karena mahalnya biaya kos, sejumlah mahasiswa pun menjadi gharim di masjid. Ya, itulah kenyataannya.
Bagaimana bagi yang tidak lulus? Tentunya makin berat lagi, sebab iklan biaya pendidikan yang ditawarkan PTS lebih mahal lagi, atau tak jauh beda dengan negeri.
Kondisi ini menggambarkan bahwa pendidikan itu menjadi barang yang mahal. Kendati bagi sebagian orang yang mampu, dianggap biaya tersebut masih murah, bahkan mereka berani mengambil jalur khusus. Kabarnya dengan uang, sejumlah bangku di perguruan tinggi elit pun dapat dibeli, dengan alasan otonomi perguruan tinggi. Siapa yang tidak ingin anaknya menjadi sarjana?
Hal ini disebabkan ketimpangan antara yang kaya dan miskin di negeri sangat kontras. Sehingga kebijakan pemerintah sering kali menggenalisir antara si miskin dan kaya. Padahal yang mampu membayar uang kuliah itu dari kalangan yang mampu saja, akibatnya si miskin dianggap mampu membayar uang kuliah juga, kendati harus banting tulang —itupun kalau masih tahan banting.
Sejumlah jurus sudah dilakukan pemerintah, seperti mengupayakan pendidikan gratis mulai dari SD sampai SMA, bahkan subsidi untuk perguruan tinggi di daerah pun ditingkatkan, namun semua belum sesuai dengan yang diharapkan. Masih banyak sejumlah remaja yang terpaksa harus berhenti sekolah dan kuliah karena miskin.
Belajar dari Sejarah Islam
Ada baiknya kita merenung sejenak, bagaimana belajar dari kejayaan Islam di masa Rasulullah SAW dan sahabatnya.
Mengapa Islam dalam waktu singkat menjadi kiblat ilmu pengetahuan di dunia? Jawabannya karena pendidikan gratis —lebih dari 20 persen menganggarkan dana pendidikannya.
Kita masih ingat sejumlah perguruan tinggi fenomenal seperti Al-Azhar yang dibangun masa Bani Fatimiyah, perguruan tinggi Nizamiah yang dipimpin Al-Gazali dan sejumlah perguruan tinggi Islam di Spanyol yang menyumbang kemajuan peradaban Barat.
Pendidikan gratis yang dijalankan pemerintah Islam saat itu terbukti berbuah zaman keemasan. Inilah yang ditiru Jepang di saat kalau perang, sebagiamana pernah ditulis tokoh pendidikan Riau, yakni Pak Djauzak Achmad yang saat ini menjabat sebagai Kepala Majelis Pendidikan Riau. Di setiap tulisannya, beliau sering kalau mengutip strategi Jepang di saat kalah perang melawan Amerika.
Bukan hanya Jepang, strategi kebijakan pendidikan di zaman keemasan Islam, saat ini juga ditiru negeri jiran kita, Singapura. Mereka tidak ragu-ragu berinvestasi di bidang pendidikan. Sampai-sampai siswa Riau yang berhasil meraih medali emas saat Olimpiade Fisika pun ditawari menjadi warga negara Singapura. Artinya, mereka sangat menghargai orang-orang pintar.
Hal ini juga dilakukan Jerman, di mana mereka berhasil ‘’meminang’’ BJ Habiebie untuk bekerja di sana. Anehnya, pemerintah negara kita tidak memanfaatkannya. Bahkan kabarnya, sejumlah doktor alumni Jerman yang pernah bekerja di IPTN saat ini mereka berhamburan pergi ke Malaysia, Jerman dan sejumlah negara yang menawari mereka dengan pekerjaan tetap dan gaji yang lumayan.
Aneh bin ajaib, mengapa orang-orang pintar di negeri ini kita lepas ke luar. Artinya apa? Kita enggan berinvestasi di bidang pendidikan dan kurang menghargai orang pintar.
Sejarah Islam menjelaskan sejumlah ulama besar seperti Ibnu Sina, Arrazy, Alkhawarijmi dan lainnya mereka didukung pemerintah melakukan riset. Bahkan tak tanggung-tanggung sang khilafah pun rela membangun labor dan perguruan tinggi yang megah.
Tapi sayang, bangsa Tartar memberangus kejayaan Islam. Sampai-sampai Sungai Tiggris di Irak pun berwarna hitam karena buku-buku mereka bakar dibuang ke sungai. Hal ini juga yang dilakukan Amerika Serikat saat ini di Irak, mereka meruntuhkan peninggalan Islam.
Kita memang tidak bisa mendapatkan pendidikan yang ideal, karena banyak keterbatasan kita, tapi kita dianjurkan berusaha bagaimana mendapatkannya.
Melihat potret buram pendidikan kita saat ini, sudah saatnya kita melakukan koreksi dan perbaikan. Baik bagi pemerintah maupun pengusaha yang berinvestasi di bidang pendidikan.
Kita jangan hanya menginstruksi wajib belajar enam tahun, sembilan tahun dan seterusnya, sementara mereka tidak mampu membayarnya. Wajib belajar, tapi mengapa harus bayar?***
Bagus Santoso SAg MP, dosen STAI Bengkalis.
Negeri Kacau-balau
Menyertai nasib bangsa besar Indonesia yang terus didera murka alam bencana dan musibah akibat tangan-tangan jahil manusia. Maka menambah panjang rintihan pilu perjalanan sejarah, selama kurun era reformasi dan puncaknya dua tahun terakhir. Di masa penuh cobaan yakni sejak terpilihnya Susilo Bambang Yudoyono presiden pertama kali hasil pilihan rakyat secara langsung.Berbagai program dan kebijakan pemerintah sudah dimulakan untuk mengatasi segala problema dengan harapan untuk menyejahterakan rakyat.
Sebenarnya beberapa kegiatan demi memberikan rasa aman dan nyaman bagi rakyat sudah ditempuhnya. Di antaranya telah dinaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dari listrik, telepon, gaji pegawai dan pejabat. Tidak itu saja berlanjut hingga pemberian uang tunai, jatah raskin serta operasi pasar murah.
Kebijakan yang populis begitu komentar dan pendapat sebagian masyarakat yang setuju. Sebalikmya bagi yang tidak sepaham menyebut tidak lebih dari sekadar pengaplikasian teknis bermain catur, karena dipandang hanya sebuah pendekatan berisiko ‘’coba-coba’’ padahal dapat berakibat fatal. Tetapi setidak-tidaknya pemerintah sudah menunjukkan kesungguhannya dalam meretas kesengsaraan dan kemiskinan
Naiknya harga minyak, listrik, telepon secara teori dikabarkan demi rakyat. Coba tanya pada mereka apakah rasa aman dan nyaman betul terpenuhi. Naiknya harga-harga keperluan dasar hidup diimbangi dengan kenaikan gaji abdi negara.
Padahal menurut hitungan penduduk Indonesia dari 165 juta jiwa cuma berapa persen yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sekali lagi mari bertanya pada suara mayoritas masyarakat bawah.
Eit, sabar dulu dimaklumkan untuk rakyat Indonesia syarat punya identitas kartu miskin berhak atas bantuan langsung tunai Rp300 ribu per bulan.
Sekarang mari dihitung bersama berapa tingkat keberhasilan pendekatan pemerintah yang bertekad memberikan rasa aman dan nyaman pada rakyat. Di Tangerang Banten meskipun pemerintah melalui Bulog mengadakan operasi pasar, yakni penjualan beras dengan harga lebih murah sekalipun, ternyata tidak semua masyarakat kelas bawah mampu membelinya, di Sumatera Selatan warga terpaksa makan oyek, nasi di campur tiwul.
Bagaimana di negeri kita Riau, dampak melonjaknya harga beras, memaksa 30 orang warga Kecamatan Rumbai Pekanbaru harus mencampur nasi dengan tiwul, mereka tak mampu lagi membeli beras sementara operasi pasar beras tak pernah singgah ke daerah mereka.
Apa yang terjadi pada episode pemberian dana uang tunai kepala RT/RW terpaksa mengundurkan diri karena tak tahan didemo warga di lingkungannya yang rata-rata miskin, namun tidak terdata kecuali hanya beberapa orang saja.
Sementara akibat melonjaknya harga BBM, nelayan tidak bergairah lagi melaut karena hasil tangkapannya tidak dapat menutup membeli solar.
Petani enggan menanam padi karena harga pupuk tidak terjangkau, sementara di beberapa tempat pupuk subsisi diperjulbelikan di pasaran. Bahkan petani tak berani membuka lahan karena takut ditangkap, sudah puluhan petani yang mendatangi penulis, karena keluarganya dipenjara.
Dapat ditarik benang merah, bahwa setiap terjadi kenaikan harga dasar keperluan hidup yang paling terkena dampaknya adalah masyarakat kelas bawah; buruh, petani, dan nelayan.
Lalu apa yang mesti kita perbuat bersama untuk dapat menyejahterakan bangsa ini supaya masyarakat negeri ini mengenyam nikmat kesejahteraan, perut kenyang, lingkungan aman dan nyaman.
Pertama, kita memaklumi bahwa negara kita selama ini menganut prinsip harga murah, namun dengan memakai dana subsidi. Di antaranya: Listrik oleh PLN dijual dengan harga murah tidak lebih dari Rp650 per Kwh, padahal mereka harus mengeluarkan biaya mahal untuk menghasilkan energi listrik Rp1.550 per Kwh.
Sebuah teori ekonomi yang jelas-jelas tak dapat diterapkan, jangankan berharap untung balik modal saja sampai kiamat pun tak akan bisa. Maka perlu rumusan yang tepat untuk kebijakan subsidi kemudian perlahan memberikan pemahaman kepada rakyat dan menyediakan lapangan pekerjaan, sehingga terjadi peningkatan pendapatan.
Negeri ini penghasil minyak bumi, tetapi tetap saja tergantung dengan negara luar karena bangsa ini hanya mampu menjadi penjual bahan mentah dengan harga super murah.
Sementara untuk menjadikan barang mentahan menjadi barang konsumsi untuk warga, bangsa yang hebat ini belum dapat lepas.
Secara gentlemen kita mengakui ketangguhan Singapura, tidak memiliki sumber daya alam, tetapi mereka lebih piawai memerankan sebagai negera penjual jasa.
Thailand negeri berkembang tidak memiliki sumber minyak, tetapi tidak pernah kelangkaan minyak. Jiran kita Malaysia yang dahulu belajar kepada Pertamina sekarang laju meninggalkan Indonesia. Dengan Petronasnya melesak hebat menggurita ke berbagai belahan dunia. Sementara apa yang dapat dibanggakan, dari negeri yang alamnya subur dan kaya raya ini.
Kedua, pemimpin negeri yang bersungguh-sungguh mesti menerapkan pepatah Anjing Mengongong Kafilah Berlalu. Maknanya program kegiatan yang sudah melalui serangkaian perencanaan matang harus konsisten dilaksanakan. Berbagai kritik anggap sebagai sebuah tantangan untuk cepat mewujudkan kegiatan yang dirancang.
Kata finalnya buktikan bahwa output yang dihasilkan terbukti berhasil guna. Jika ternak yang dikembangkan terbukti menambah pendapatan dan berdampak menggairahkan perekonomian lainnya, kalau proyek padi teruji petani sejahtera, jika membangun berbagai sarana infrastruktur teknologi hasil produksinya nyata, bukan menjadi onggokan besi tua.
Masukan, kritik saran jangan ditabukan, program pembangunan senantisa dievaluasi. Bahkan hentikan jika ternyata kegiatan yang tidak terencana karena hasilnya tidak lebih kepada unsur pemubaziran.
Sebab marwah, wibawa sang pemimpin tidak akan jatuh gara-gara menghentikan proyek yang diluar perkiraan nalar apalagi terbukti setelah jadi tidak optimal atau sama sekali tak dapat difungsikan.
Tidak keliru meniru langkah berani Gubernur DKI Sutiyoso konsisten membangun transportasi trans Jakarta meskipun dihadang tantangan demontrasi. Tetapi Sutiyoso berhasil membuktikan diri sebagai penyedia transportasi lancar dan murah bagi masyarakat. Sebuah mega proyek yang perlu keberanian karena sudah terencana dan terukur.
Ketiga, bersama mari ciptakan ketertiban dan kenyamanan mulai dari lingkungan masing-masing. Karena suasana yang tertib dan nyaman adalah syarat mutlak untuk memulai menata harapan hidup.
Salah satu dari keengganan pemilik modal masuk ke negeri kita karena unsur tertib dan aman belum terpenuhi. Kalangan kaya pemilik modal banyak yang lari tunggang langgang karena berbelitnya proses birokrasi dan merebaknya preman di sembarang tempat.
Sudah saatnya negeri kacau-balau ini kita tinggalkan menuju bangsa yang tertib dan nyaman. Semoga dengan mengakui ‘’kekurangan’’ serta ikhtiar menata dengan derap optimisme, insya Allah bangsa kita dijauhkan dari bala dan bencana. Amin.***
Bagus Santoso SAg MP, Wakil Ketua DPRD Bengkalis, dosen STAI Bengkalis.
Mimpi Negeri Saudagar Beras
TAHUN 1984 boleh disebut sebagai masa gemilang bagi petani. Mereka mendapat peran penting sebagai motor pembangunan ekonomi daerah dan nasional. Era puncak kejayaan petani berlanjut dengan pengakuan dari organisasi pangan internasional FAO. Torehan sejarah dan prestasi yang dapat dibanggakan sehingga bangsa Indonesia berhak atas predikat sebagai negara berswasembada beras.Pendekatan keamanan dan kesejahteraan sosial terbukti ampuh untuk memompa semangat petani menggarap kebun, sawah dan ladangnya. Rakyat tidak kesulitan memilih dan membeli keperluan makanan pokok, negara tidak pernah kekurangan beras. Penduduk tak cemas dan was-was untuk mengkonsumsi pangan karena keterjaminan produksi petani kita melimpah, sehingga menutup peluang pedagang jahat memanipulasi ‘’beras semiran’’. Masa keberhasilan dan kedamaian petani tersenyum merekah sepertinya sulit terujud lagi.
Kegemilangan itu tinggal kenangan manis, sekarang petani mengalami masa-masa buruk, dihadapkan pada permasalahan yang super kompleks dan kronis. Akibatnya hasil produksi menurun drastis, kebijakan pemerintah banyak menyinggung hati petani (baca: Tak berpihak ke petani) bangsa kita lebih bangga menjadi bangsa pengimpor beras dalam jumlah besar. Kebijakan yang kurang populer tetapi didukung oleh kekuatan politik. Menteri Pertanian Anton Apriyanto awalnya menentang keras impor beras sekarang justeru berbalik paling getol mendukung dan mengatakan pentingnya impor beras.
Apa yang terjadi di negeri ini? Hampir dapat dipastikan rakyat Indonesia lebih banyak mengkonsumsi beras. Riau salah satu contoh daerah yang mempunyai areal produksi seluas 137,04 hektare dengan hasil produksi 422.787 ton (Distan Riau 2004). Sedangkan struktur ekonomi Provinsi Riau didominasi sektor migas seperti pertambangan dan industri. Jujur saja kalau kita keluarkan unsur migas dari perhitungan maka tidak dapat dipungkiri ternyata pertanian menjadi andalan pertama sebagai motor penggerak roda perekonomian sekaligus menyumbangkan kontribusi besar bagi pendapatan di Riau. Sayang potensi pertanian terutama untuk komiditi pangan khususnya padi di Riau belum digarap secara maksimal bahkan terkesan bukan menjadi prioritas pada setiap tahun pengangaran belanja daerah.
Belum lagi sektor pertanian secara luas mendapat sentuhan prioritas, beberapa tahun terakhir ini Riau mengalami booming kebun sawit. Bahkan pemerintah tak segan-segan membuat program K2I untuk kebun sawit. Tanpa digerakkan melalui anggaran daerahpun petani sudah terhipnotis apalagi mendapat dukungan pemerintah maka beramai-ramailah petani mengalihkan peruntukan lahannya. Sawah dan ladang subur yang sangat cocok ditanami padi disulap seketika menjadi hamparan sawit. Sejumlah daerah yang dulunya menjadi lumbung padi kini sudah tidak dapat diharapkan lagi. Perangkat penataan ruang tak dapat mencegah kemauan petani. Salah satu penyebabnya selain sudah usang tata ruang, juga tidak konsistennya pemerintah dalam mererapkan ketentuan peruntukan lahan.
Fakta membuktikan sekarang petani pangan lebih untung menanam sawit dibandingkan bercocok tanam padi. Pilihan petani bukan tanpa alasan meraka telah berhasil membuktikan bahwa dengan alih lahan padi menjadi kebun sawit memberikan kemudahan dan peningkatan pendapatan. Hitungan kasar 1 hektare petani padi hanya panen sekali per tahun dengan jumlah produksi tidak lebih dari 2,5 ton harga jual gabah Rp3.000 per kg. Bandingkan dengan hasil sawit dalam 1 hektare setiap 1 bulan panen 2 kali atau 24 kali per tahun rata-rata sekali panen mencapai 1,2 ton atau 28,8 ton per tahun harga sawit paling jatuh Rp600 per kg, bahkan sekarang melampau harga Rp1.000, bahkan Rp1.100 per kg. Bayangkan berapa keuntungan yang bisa diraup dari usaha bercocok tanam sawit itu.
Dengan berbagai kemudahan dan kelebihan sawit, petani padi yang berusaha bertahan akhirnya angkat tangan tergiur untuk mengganti ladangnya ditanami sawit. Petani sudah merasakan lebih mudah merawat sawit dari proses pembersihan lahan, penyiapan benih dan pemeliharaan hingga pemasaran. Sementara untuk menanam padi tergantung musim hujan, penyiapan lahan terbatas waktu, pemeliharaan yang dinilai sangat rewel, harga pupuk melangit ditambah harga gabah anjlok jika musim panen maka lengkaplah penderitaan, sehingga tidak ada pilihan lain kecuali petani ramai-ramai ‘’gantung cangkul’’, kapok menanam padi. Namun biarlah mereka bebas menentukan pilihan namun pemerintah semestinya memberikan batasan dan ruang gerak melalui panduan perangkat peraturan yang jelas.
Diakui di zaman negara mampu swasembada beras tingkat pendapatan dan kemakmuran petani padi belum sebanding dengan jerih payahnya. Karena waktu itu pemerintah juga belum mampu mentransformasi sosial-ekonomi pedesaan meski telah mampu surplus pangan. Namun setidak-tidaknya pendekatan keamanan dan kesejahteraan sosial memberikan rasa aman kepada rakyat (baca: Ketahanan pangan). Di negara kita kebijakan yang dipakai justeru menjadikan semua hasil pertanian diperas habis untuk mendukung industri secuil untuk penguatan pertanian dan lembaga sosial ekonomi di pedesaan.
Masa kegemilangan yang patut dicermati karena menyisakan kenangan pahit —kebijakan politik Orde Baru masa itu lewat operasi pangan murah ada udang di sebalik batu yaitu agar upah buruh murah. Akhirnya sektor pertanian yang sudah mampu swasembada dan tinggal melanjutkan selangkah lagi menuju kemakmuran rontok di tengah jalan. Maka berbondong-bondonglah urbanisasi karena generasi muda tidak betah di desa, bertani tidak menjanjikan masa depan.
Di beberapa negara seperti Cina, Korea Selatan dan Jepang menjadikan hasil pertanian sebagai pendorong industri, namun setelah industri menghasilkan keuntungan dikembalikan lagi kepada sektor pertanian. Berbagai subsidi dikucurkan kepada petani maka tidak heran jika petani di beberapa negara industri mendapat status dan keterjaminan hidup lebih layak dan terhormat. Sebuah kebijakan saling mendukung dan terkait kelindan antara pertanian-industrialisasi.
Berdasarkan kondisi yang terjadi maka sektor pertanian dapat digerakkan menjadi tongkat penyelamat perekonomian negara kita yang hingga hari ini menguras duit triliunan untuk mengimpor pangan. Padahal jika kita mampu menggerakkan sektor pertanian, duit itu dapat digunakan untuk keperluan pembangunan infrastruktur yang diperlukan rakyat.
Khusus di Provinsi Riau potensi pertanian kenyataannya belum tergarap secara maksimal. Padahal sektor ini masih memiliki peluang menghasilkan produk pertanian untuk mencukupi keperluan konsumsi bagi penduduk Riau. Sumber daya alam migas yang dihasilkan perut bumi Riau adalah sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui. Maknanya, jika minyak habis maka tidak ada pilihan kecuali mengharapkan hasil pertanian dengan harapan bisa memberikan kontribusi terhadap pendapatan untuk keberlangsungan pemerintahan.
Kita boleh bermimpi dengan membanggakan bahwa kita akan menjadi negeri maju, menjadi pusat perdagangan di Asia Tenggara. Tapi tirulah Jepang, Korea Selatan dan Cina, walau negeri industri tetapi ketahanan pangannya sangat kuat. Kita mesti sadar bahwa dalam peradaban sejarah manusia tidak ada satu bangsa pun di dunia ini yang mampu survive tanpa tersedianya pangan yang cukup. Kalau mengingat perjuangan nenek moyang kita, generasi Indonesia ibarat kacang lupa kulit, bahwa kita sebenarnya hidup dari pertanian. Kita tidak perlu malu karena atuk, kakek nenek kita adalah petani dan pelaut. Kita mesti pegang wasiat yang tertoreh dalam buku sejarah: Semua kegiatan bisa ditunda kecuali dua perkara yakni bernafas dan makan. Maka kembalikanlah sektor pertanian menjadi sentral pembangunan, Insya Allah bangsa kita akan lebih bermartabat dengan sebutan negara agraris dari pada bermimpi menjadi negeri saudagar, tetapi rakyat antre beli beras.***
Bagus Santoso SAg MP, mantan wartawan Riau Pos, Wakil Ketua DPW PAN Riau, Wakil Ketua HKTI Bengkalis.
Selasa, 01 Juli 2008
Tuhan Tukang Cukur
SEPERTI biasanya, seorang laki-laki sebut saja Steve, datang ke sebuah salon untuk memotong rambut dan jenggotnya. Ia pun memulai pembicaraan yang hangat dengan tukang cukur yang melayaninya. Berbagai macam topik pun akhirnya jadi pilihan, hingga akhirnya Tuhan jadi subyek pembicaraan."Hai Tuan, saya ini tidak percaya kalau Tuhan itu ada seperti yang Anda katakan tadi," ujar si tukang cukur
Mendengar ungkapan itu, Steve terkejut dan bertanya. "Mengapa Anda berkata demikian?"
“Ya ....jika Tuhan itu ada, mengapa banyak orang yang sakit? Dan Mengapa banyak anak yang terlantar? Jika Tuhan itu ada, tentu tidak ada sakit dan penderitaan. Tuhan apa yang mengijinkan semua itu terjadi....," ungkapnya dengan nada yang tinggi.
Steve pun berpikir tentang apa yang baru saja dikatakan sang tukang cukur. Namun, ia sama sekali tidak memberi respon agar argumen tersebut tidak Lebih meluas lagi.
Saat Steve keluar dari salon, ia berpapasan dengan seorang laki-laki berambut panjang dan jenggotnya pun lebat. Sepertinya ia sudah lama tidak pergi ke tukang cukur dan itu membuatnya terlihat tidak rapi.
Steve kembali masuk ke dalam salon dan kemudian berkata pada sang tukang cukur. "Tukang cukur itu tidak ada...."
Sang tukang cukur pun terkejut .... "Bagaimana mungkin mereka tidak ada? Buktinya adalah saya, Saya ada di sini dan saya adalah seorang tukang cukur," sanggahnya.
Steve kembali berkata tegas, kalau mereka ada, tidak mungkin ada orang yang berambut panjang dan berjenggot lebat seperti contohnya pria di luar itu"
"Ah, Anda bisa saja.... Tukang cukur itu selalu ada di mana-mana, yang terjadi pada pria itu adalah bahwa dia tidak mau datang ke salon saya untuk dicukur,” jawabnya tenang sambil tersenyum.
"Tepat!" tegas Steve "Itulah poinnya. Tuhan itu ada, yang terjadi pada umat manusia itu adalah karena mereka tidak mau datang mencari dan menemui-Nya. Itulah sebabnya mengapa tampak begitu banyak penderitaan di seluruh dunia ini...."
Kadang kita terlalu gampang mengambil kesimpulan dari sesuatu hal yang tidak kita pikirkan secara mendalam. Tukang cukur itu adalah diri kita juga, yang kadang karena menderita lalu mengatakan Tuhan tak ada, sementara kita sesungguhnya tak mengenal-NYA. tak dekat dengan-NYA.***
Kita Semua adalah Tempayan Retak
SEORANG tukang air di India memiliki dua tempayan besar, masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan yang dibawa menyilang pada bahunya. Satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan yang satunya lagi tidak. Jika tempayan yang tidak retak itu selalu dapat membawa air penuh setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya, tempayan retak itu hanya dapat membawa air setengah penuh.Selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja si tempayan yang tidak retak merasa bangga akan prestasinya, karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna. Namun si tempayan retak yang malang itu merasa malu sekali akan ketidaksempurnaannya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya dapat diberikannya.
Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak itu berkata kepada si tukang air.
"Saya sungguh malu pada diri saya sendiri/ dan saya ingin mohon maaf padamu."
"Kenapa?" "Kenapa kamu merasa malu?" tanya si tukang air.
"ya ... selama dua tahun ini, saya hanya mampu membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat saya bawa. Retakan pada sisi saya telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacat ku itu, saya telah membuatmu rugi," jawab tempayan dengan sedih.
Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak, dan dalam belas kasihannya, ia berkata "Jika kita kembali ke rumah majikan besok/ aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jala."
Dan ternyata benar.... ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan. Itu membuatnya sedikit terhibur. Namun pada akhir perjalanan, ia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor dan kembali tempayan retak itu meminta maaf pada si tukang air atas kegagalannya.
Si tukang air berkata kepada tempayan itu. "Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan yang lain yang tidak retak itu? Itu karena aku selalu menyadari akan cacatmu dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita. Tanpa kamu sebagaimana kamu adanya, majikan kita tak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang"
Nah, setiap dari kita memiliki cacad dan kekurangan kita sendiri. Kita semua adalah tempayan retak. Namun jika kita mau, Allah akan menggunakan kekurangan kita untuk menghias meja-Nya. Di mata Tuhan yang bijaksana, tak ada yang terbuang percuma. Jangan takut akan kekuranganmu. Kenalilah kelemahanmu dan kamu pun dapat menjadi sarana keindahan Tuhan.***
Hantarkan Mas Topan Menuju Kursi Gubri (HUT ke-10 PAN, 23 Agustus 2008)
Hari ini kamis 23 agustus 2007, genap sudah sembilan tahun Partai Amanat Nasional (PAN) lahir dari semburan semangat menyala generasi bangsa demi menginginkan perubahan mulia. Prosesnya begitu hebat sedahsyat bencana yang menimpa bumi pertiwi nan tiada henti sampai hari ini. Guliran roda reformasi terbukti sakti enak dinikmati meski juga ada yang takut setengah mati. Runtuhnya Orde Baru akibat mesin reformasi tidak serta merta membawa generasi bangsa bekas jajahan belanda dan jepang makmur sentosa. Di beberapa peristiwa sering slogan kebebasan berjungkir balik menjadi kebablasan. Rasa aman larut terkubur seiring kencangnya derap pertelagahan dan perselingkuhan legal hampir merata disetiap teras lembaga. Harapan kenyamanan sirna dirampok lanun politik bertopeng pahlawan.
Menjadi renungan generasi bangsa terutama bagi kader PAN, fakta membuktikan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Partai politik (parpol) menurut berbagai survei dan penelitian saat ini berbanding terbalik jika dibandingkan masa kelahiranya. Parpol pada fase tumbangnya orba menjadi impian dan sanjungan, sementara apa yang terjadi sekarang ? prakteknya parpol ibarat sebuah perahu yang syarat muatan kepentingan golongan dan mengharamkan kebersamaan.
Sembilan tahun PAN diuji dalam panggung nyata, menebar bukti menuai bakti. Puja dan cerca adalah keniscayaan. Setiap pergerakan akan menjadi tolak ukur dari suatu penilaian hasil kinerja setiap periode kepemimpinan. Sebuah kemenangan dalam pertarungan Pemilu dan Pilkada menjadi taruhan keberhasilan. Lonceng peringatan telah dipermaklumkankan karena perolehan suara Pemilu 2004 belum tercapai seperti yang ditargetkan meskipun perolehan kursi justeru lebih gede dibandingkan suara partai terbesar ketiga.
Sempena HUT ke- 9 PAN segenap kader menyambut dengan senang hati pekikan kemenangan suara rakyat. Masa lalu Pilkada seakan hanya milik parpol maka kedepan adalah menjadi milik semua warga. Rasanya jika rakyat mendapat perlakuan santun dan ksatria dari parpol berkemungkinan gejala calon pemimpin perseorangan tak kan pernah ada. Sebab secara hitungan kasar untuk mencari dukungan 5 persen apalagi 15 persen dari jumlah penduduk setiap daerah bukanlah hal yang mudah dan murah. Kita dapat bayangkan bagaimana rumitnya mengumpulkan tanda tangan dan foto copi KTP di negeri berpenduduk padat. Tapi bagi figur yang merakyat apalagi mempunyai kekompakan dan didukung oleh puak/paguyuban yang punya basis riil syarat ini pastilah sangat mudah.
Sebagai kaca benggala kader parpol reformis tidak akan jatuh marwah jika mau mengoreksi diri, kenapa mesti muncul calon independen. Sejenak kita mendaur ulang bau kurang sedap bahkan busuk sehingga membuat dunia politik sesak bercampur mual. Isyu transaksi politik yang tidak transparan semisal jual beli perahu setiap helat pilkda begitu menyeruak. Ibarat kentut berbau tetapi susah di raba ujudnya. Penampakan keganjilan demi keganjilan menjadi gunjingan rakyat. Partai besar yang sudah cukup syarat syah untuk melenggang maju ternyata sepi dari kader sendiri . Ironisnya diagenda lain begitu murah meriah partai diborong oleh mereka yang punya benteng kekuatan tahta dan harta.
Langkah bijak bagi PAN, melalui pernyataan resmi Ketua Umum Sutrisno Bachir kehadiran calon perseorangan merupakan sebuah kemajuan dalam dinamika demokrasi. PAN mendorong calon independen tampil cukup dengan dukungan 3 sampai 5 persen saja. PAN menilai munculnya calon independen justeru akan menjadi pemacu parpol untuk berbenah diri dan memberikan yang terbaik jika tidak ingin ditinggalkan rakyat. Tidak adil menyamakan syarat dukungan antara perseorang dengan parpol karena bagi parpol mendapat kucuran pembinaan dana pemerintah . Cukup sudah ikut panutan yang dilaksanakan calon independen pada pilkda di Aceh . Yakinlah jika menunggu Undang-undang atau Perpu dipastikan rumit karena akan terjadi tarik menarik adu argumen antara kelompok yang ingin mempertahankan kemapanan vs perubahan terutama politisi yang duduk di senayan.
Terobosan berani juga sudah ditegaskan lewat hasil Rakernas PAN menyatakan; untuk pemilu legislatif tahun 2009 mereka yang berhak menduduki kursi dewan adalah calon legislatif (caleg) yang memperoleh suara terbanyak tanpa menghiraukan nomor urutan. Langkah ini dijamin mengurangi konflik internal partai disamping juga praktis untuk memacu kader bersaing secara kesatria. Saya pribadi berpendapat jika pencalonan legislatif menganut sistim suara terbanyak seperti yang dilakukan pemilihan anggota DPD RI maka anggota DPRD terpilih akan terjamin mereka kader-kader yang yang dekat dan disenangi rakyat.
Peluang besar kursi DPR RI akan diisi oleh orang daerah sehingga kepentingan daerah akan mulus diperjuangkan di senayan. Langkah ini tentu akan mendapat perlawanan dan menjadi momok sebagian besar politisi jakarta. Hal yang sama anggota DPR Propinsi sudah saatnya diwakili oleh wakil rakyat berasal dari kabupaten/kotamadya masing-masing begitu seterusnya hingga DPRD Kabupaten/Kotamadya diisi politisi lokal yakni orang-orang asal kecamatan bersangkutan. Yang merepotkan sehingga pasti akan diganjal karena politisi Jakarta tidak akan bisa mewakili siapa-siapa. Jika ini dapat diterapkan pada Pemilu tahun 2009 mendatang strategi ini diyakini akan mampu mendulang suara sebanyak-banyaknya sehingga target PAN menjadi pemenang pemilu bukanlah isapan jempol.
Pemilu tahun 2004 lalu merupakan uji ke dua kepercayaan rakyat terhadap PAN. Hasilnya PAN di Riau memperoleh suara 8,02 persen berhak atas 7 kursi di DPRD propinsi Riau dengan jumlah perolehan suara 167.839 pemilih. Jika merefleksi perjalanan Pemilu pertama tahun 1999 , PAN Riau hanya puas dengan 4 kursi maka terjadi penambahan hingga 57, 14 persen kursi pada tahun 2004. Maknanya jika dibandingkan partai besar Riau rata-rata kehilangan kursi yang diraih pada pemilu 1999, maka kalkulasi kedepan PAN akan terus menggelinding menjadi sebuah mesin politik yang besar tangguh serta handal tentu perkara ini bukanlah perkara muluk serta bermaksud mengesampingkan partai lainnya. Jika Rakerwil mengamanatkan pada Pemilu 2009 mendatang PAN Riau mentargetkan 10 kursi maknanya hanya butuh tambahan 11,46 persen. Adapun daerah yang diprediksikan dapat digenjot perolehan suara yaitu Pekanbaru,Kampar,Rohul/Rohil, Bengkalis/Dumai, Siak/Pelalawan, Indragiri Hilir dan Inhu/Kuansing.
Kemajemukan anggota PAN lintas paguyuban, agama dan suku adalah sebuah modal yang tidak tertandingi kekuatannya. Begitu dinamis perahu PAN, bukti nyata telah dipetik PAN di beberapa daerah dengan memenangkan calon yang diusungnya. Sebuah harapan yang terencana dan terhitung sempena di ulang tahun emas Riau keluarga besar PAN Riau memaknai perjalanan PAN dalam kancah perpolitikan dengan penuh percaya diri menuju harapan sukses dan kejayaan .
Maka keberadaan PAN sudah menjadi kekuatan parpol yang diperhitungkan baik dari perolehan suara maupun karya nyatanya. Tanpa ragu-ragu momentum penting sudah disambut dengan gegap gempita sekaligus sebagai nyanyian kemenangan sebagai kado ulang tahun PAN ke -9, melalui suara bulat dan tekad kuat Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) pada tanggal 3-4 maret 2007 merekomendasikan kader terbaik PAN Mas Taufan Andoso Yakin sebagai gubernur atau wakil gubernur Riau tahun 2008. Selamat Ulang tahun dan menunggu kemenangan, Sukses dan jayalah PAN bersama masyarakat Riau, Amiin.***
Bagus Santoso SAg MP, Wakil Ketua DPW PAN Riau, Ketua Panitia HUT PAN ke-9.
Senin, 30 Juni 2008
Melayu Bengkali dalam Ancaman Hedonisme
Bengkalis merupakan rumpun Melayu dari sebaran Melayu di Asia Tenggara. Sama dengan rumpun Melayu serantau lainnya, yakni menghadapi ancaman globalisasi, hedonisme, dan budaya lain yang mengancam puak lain.Dengan demikian, Melayu Bengkalis berada di persimpangan jalan, mengalami kecelaruan mengungkapkan jati diri, kelesuan berpikir dalam memahami jati dirinya.
Masyarakat kebanyakan keliru dalam mengartikan makna modern, sehingga nilai pragmatisme menjadi sasaran perjuangan. Apa yang menguntungkan bagi diri dan keluarganya dalam pandangan dunia, maka itulah yang dianggap baik.
Khazanah Melayu yang penuh dengan norma-norma dan muatan budaya yang unggul tinggal hanya menjadi pusaka masa silam. Padahal semestinya menjadi refleksi diri untuk menghalau budaya yang tidak sesuai dengan budaya Melayu, bukan dijadikan pajangan semata. Budaya sudah terpinggirkan dari kehidupan sehari-hari.
Ancaman budaya asing memang tidak bisa dihalau seluruhya, ada yang berubah menjadi bagian jati diri, yakni mengalami akulturasi budaya, dan sebagian lainnya menjadi ancaman yang harus dibersihkan. Di sinilah perlunya semangat untuk menggali kekuatan dan kelemahan budaya Melayu.
Perlu dibangun dorongan membangkitkan motivasi anak-anak Melayu dari kelompok yang menerima menjadi generasi yang mencipta dan mampu mengolah kekayaan alam yang melimpah di Negeri Junjungan ini.
Generasi yang mampu mengolah sumber daya alam negeri inilah yang mampu membawa Bengkalis pada kegemilangan. Wawasan seperti ini perlu dikembangkan, sehingga generasi muda tersentak dari lamunan dan tidur panjangnya.
Diharapkan khazanah budaya yang bersandarkan syariat ini akan menjadi air minum yang dapat mengurangi rasa haus dan dapat menyegarkan pikiran generasi muda Melayu di Bengkalis.
Seharusnya Melayu Bengkalis --Riau pada umumnya-- bangga telah menjadi ikon dan basis umat Islam di Nusantara. Perasaan inilah yang memupuk semangat cintakan diri sendiri, bangsa dan agama, sekaligus perjuangan bersama menuju kejayaan.
Keinginan untuk meninjau betapa penting potensi akar budaya dalam pembangunan jati diri Bengkalis, karena keprihatinan fenomena budaya yang mengalami kikisan. Gagasan ini mengandung makna yang relevan dengan kebangkitan, kesadaran serta pemahaman nilai budaya dan agama dalam kehidupan sehari-hari.
Melayu sebenarnya etnis yang terbangun dari sumbangan alam. Kekuatan Orde Baru menyebabkan etnis ini menjadi lemah, hal ini agar dari bumi bertuah ini tidak muncul generasi cermelang. Jika orang Melayu tau bahwa dirinya adalah bagian dari budaya yang maju, sudah tentu semangat cinta jati diri sukar dibendung.
Sebalum semangat Melayu ini menyala menjadi besar, maka pemimpin Orde Baru telah meredamnya dengan undang-undang yang menyekat ruang geraknya. Akhirnya tatkala anak Bengkalis –Melayu Riau pada umumnya— ditanya tentang akar budaya bangsanya, mereka tertawa tidak tahu entah yang mana. Pemikiran seperti ini sudah lama dibangun Orde Baru dan sekaranglah terlihat dampaknya.
Setelah budaya Melayu tenggelam dalam bumi dan generasi muda Melayu pun tak lagi membanggakan budayanya, maka dengan mudah Melayu pun redup dari kehidupan.
Jangan disalahkan generasi muda jika mereka gamang dengan budayanya sendiri, sebab akar budaya pun mulai tercerabut dari kehidupan mereka. Saat ini, anak Melayu ramai-ramai meraba mencari identitas diri, kebanyakan mereka tak tahu kalau budaya Melayu sudah mengelana ke penjuru nusantara, seperti yang kita saksikan sendiri bahwa persatuan kita menggunakan bahasa Melayu. Secara tidak langsung Melayu menjadi penyatu terhadap bangsa dan daerah yang begitu luas (nusantara). Akhirnya terbukti dengan diangkatnya bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan dan kesatuan.
Bahkan ketika kejumudan menguasai nusantara, Islam telah masuk ke relung Melayu. Hal ini dibuktikan jauh sebelum berkembangnya Islam di Jawa, Riau telah merobohkan candi-candi Hindu, membuktikan Melayu lebih awal mengecap nikmatnya Islam. Untuk itu, budi menjadi aset yang besar bagi orang Melayu Bengkalis –Riau umumnya—dalam menyampaikan ideologinya. Baik menyangkut persoalan keyakinan, bahasa, sastra maupun budaya.
Ada kekuatan yang perlu dihayati, direalisasikan oleh anak Melayu Bengkalis dalam menjana (menggerakkan) motivasi pembangunan seimbang. Kekuatan tersebut adalah memahami falsafah hidupnya sendiri. Melalui cara ini, akan melahirkan dorongan baru sekaligus membina generasi cemerlang berorientasi nilai-nilai murni. Sebab Melayu sebenarnya memiliki masa silam yang sangat menarik untuk diperbincangkan.
Orang Melayu berpegang teguh dengan keluhuran budi, namun dengan masuknya ideologi asing dan kemajuan materialisme, sedikit banyaknya telah mengikis kemurnian akar fitrah budaya Melayu.
Sejarah silam bukan untuk dibangga-banggakan, melainkan untuk perbandingan dan pelajaran. Kejayaan masa lalu hanyalah memori yang memandu kehidupan kita, bukan berarti kita juga harus seperti itu. Malah mereka yang hidup di masa lalu ingin agar kita lebih hebat dibandingkan mereka. Orang Melayu yang hebat bukan membangga-banggakan warisan tetapi pada yang sama mengalami kemunduran. Tetapi Melayu yang hebat adalah Melayu berwawasan, membawa masa silam sebagai inspirasi kejayaan masa kini serta masa depan.
Di satu sisi, julukan Kota Terubuk sesuatu yang sangat memperihatinkan. Terubuk adalah sejenis ikan hanya berfungsi disantap atau dinikmati. Secara fasalahnya maka penamaannya menggambarkan bahwa orang-orang Bengkalis tak ubahnya seperti ikan terubuk yang dimakan orang, julukan ini jangan sampai meminggirkan semangat orang Melayu Bengkalis, sehingga tidak menggambarkan nilai-nilai murni dan kecemerlangan untuk daerah ini.
Ada baiknya memaknai Kota Terubuk ini kearah yang lebih positif, agar mampu mempengaruhi pikiran atau minda orang Melayu kea rah kejayaan.
Dengan pengaruh kehidupan yang semakin bersaing, diharapkan sumber insani Bengkalis mampu menempatkan diri ke posisi paling ideal. Melalaui memahami potensi akar budaya sendiri dalam memajukan diri dan daerah akan menghasilkan kejayaan cemerlang. Hal yang terpenting, kendati Bengkalis kaya dengan sumber daya alamnya yang melimpah, namun SDM tidak memahami fitrah alam, budaya dan ajaran Islam, maka kekayaan yang ada akan habis sia-sia belaka.
Kesederhanaan dalam hidup pemimpin, jujur, berpikir jernih dan runtun merupakan modal awal untuk pembangunan di Negeri Junjungan ini. Sehingga tidak memunculkan sakwasangka di kalangan rakyat. Pemimpin di Bengkalis hendaknya menjadi sahabat rakyat, sehingga tidak muncul kesenjangan yang kontras antara pemimpin dan rakyat, ini akan memunculkan kecemburuan dan kebencian. Semoga rakyat Bengkalis senantiasa bertuah.
Hidup Mulia Atau Mati Syahid (Catatan Saddam Dihukum Mat)
Emosi. Itu lah yang menyebabkan penulis mengawali penulisan artikel ini. Memang Saddam itu jauh dari Riau (Indonesia), bahkan kita tidak pernah berjumpa langsung, tapi Umat Islam merasakan adanya hubungan emosional dengan Saddam. Apa yang menghubungkan umat Islam dengan mantan pemimpin negeri Seribu Malam ini, jawabannya ya Islam.Bohong kalau kaum Syiah itu merasa tidak ada hubungan emosi dengan Saddam, sebab keduanya masih dalam lingkup Islam, yang senang melihat Saddam digantung itu hanya sebagian saja, karena mereka lebih kental nilai politisnya khususnya dengan AS. Jangankah Syiah di Bahgdad, umat Islam di udik nan jauh di sana pun akan merasa terkejut tatkala mendengar Saddam meninggal digantung.
Umat Islam bagaikan satu tubuh, jika salah satu bagian ada yang sakit, maka bagian lain akan merasakannya. Jika ada bagian lain yang tidak lagi merasakan rasa sakit itu, berarti dia sudah tidak lagi masuk bagian tubuh itu. Ingat, iman yang paling lemah itu adalah doa. Doa agar umat Islam yang tertindas itu dapat terbantu dari ancaman kaum Kafir.
Memang kita sekarang dipisahkan oleh negara, provinsi dan batasan lainnya. Ya itu lah dunia, dengan aturan yang sesuai dengan perkembangan zaman. Itu namanya sunnatullah. Namun perlu diingat, baju, emas, pangkat dan lainnya tidak akan dibawa pulang ke Kampung Akhirat.
Sangat naif rasanya di saat kita berburu harta, tiba-tiba kita meninggal. Tak jarang kita melihat pejabat lagi main golf, meninggal. Kalau sudah meninggal, siapa yang mau ikut? Anaknya, istrinya atau siapa orang yang paling dekat dengan dia, pasti tidak ada yang mau ikut. Apa yang dibawa? Hanya kain kapan --itu harta fisik yang dicari dan menghabiskan waktu berpuluh tahun. Sementara amal anda bagaimana? Kosong, bahkan tak sebanding dengan dosa. Demikian lah mereka yang hidupnya dihabiskan untuk mencari harta, jabatan, populeritas dan lainnya, dengan menghalalkan segala cara. Nauzubillah min zalik.
Kematian Saddam
Saddam merasa kematian itu bukan harus dihindari, sebab siapa pun akan mengalaminya. Namun yang terpenting adalah bagaimana menyikapi kematian itu sendiri, memilih hidup terhormat atau meninggal dalam keadaan syahid.
Ungkapan ''hidup terhormat dan meninggal dalam keadaan syahid'' sangat populer bagi masyarakat Timur Tengah. Sampai-sampai, bom bunuh diri yang menantang zionis Israel dan sekutunya AS, setiap pekan selalu kita dengar. Tak jarang, ibu rumah tangga pun siap menjadi syahid demi agama dan negaranya. Ini lah yang tidak dipahami George Walker Bush dan sejumlah sekutunya, bahwa semangat jihad itu tidak bisa dirasionalkan dan dilawan dengan senjata modern.
Masih terbaca dalam pikiran penulis, saat seorang ibu yang berumur 50an secara emosi menyatakan, dia memiliki lima anak laki-laki yang siap syahid demi agama dan negaranya. Kematian Saddam benar-benar menumbuhkan semangat jihad di kalangan kaum Sunni Irak. Di kancah politik yang kompleks seperti di Irak itu memang sangat sulit memilah antara kepentingan politik dengan agama. Namun bagi orang yang beriman, pemilahan itu tidak sulit. Yakni niat, mengawali segala perjuangan dengan niat Bismillah.
Syiah yang dibeking AS sudah tentu berani melakukan tindakan di luar batas, yang penting AS memberikan dana dan kekuasaan pada mereka. Dalam kasus pengadilan Saddam ini terkesan memang Bush ingin cuci tangan. Dia tidak ingin tangannya dikotori darah warga Irak, termasuk darah Saddam yang keluar dari lehernya yang terjerat tali.
Sangat tepat yang disebutkan Ongah Tabrani Rab, sosok Saddam itu berhadapan dengan pengadilan yang penuh dengan intrik politis. Jaringan AS yang merasuk ke tubuh pemerintah Irak saat ini memang sangat berat dilawan Saddam. Namun sampai ujung hayatnya, Saddam tetap lantang menantangnya.
Saddam Tak Takut Kematian
Kebanyakan orang menghindari untuk berpikir tentang kematian. Terutama dalam kehidupan modern ini, seseorang biasanya menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang sangat bertolak belakang dengan kematian. Mereka berpikir tentang: di perusahaan mana mereka akan bekerja, baju apa yang akan mereka gunakan besok pagi, apa yang akan dimasak untuk makan malam nanti, hal-hal ini merupakan persoalan-persoalan penting yang sering kita pikirkan.
Kehidupan diartikan sebagai sebuah proses kebiasaan yang dilakukan sehari-hari. Pembicaraan tentang kematian sering dicela oleh mereka yang merasa tidak nyaman mendengarnya. Mereka menanggap bahwa kematian hanya akan terjadi ketika seseorang telah lanjut usia, seseorang tidak ingin memikirkan tentang kematian dirinya yang tidak menyenangkannya ini. Sekalipun begitu ingatlah selalu, tidak ada yang menjamin bahwa seseorang akan hidup dalam satu jam berikutnya. Tiap hari, orang-orang menyaksikan kematian orang lain di sekitarnya tetapi tidak memikirkan tentang hari ketika orang lain menyaksikan kematian dirinya. Ia tidak mengira bahwa kematian itu sedang menunggunya.***
Minggu, 29 Juni 2008
Berpikir Menembus Lintas Batas
Setiap manusia memiliki sisi-sisi persamaan dengan manusia lain. Misalnya siapapun di dunia ini kalau kakinya terjepit, dia akan menjerit, sebab kesakitan. Jika tidak sakit, itu manusia tidak normal, atau ada alat pelindung di kakinya.Nah, kesamaan universal itu juga dirasakan para demonstran yang sedang menggelar aksi demo anti-Bush. Penderitaan yang dialami warga dunia di belahan lain, itu dirasakan warga lainnya, terkecuali mereka yang dilindungi dari kekejaman kebijakan Presiden AS, George Walker Bush ini. Misalnya negara Korsel, Kuwait, Israel, dan sejumlah negara lainnya yang mendapat perlidungan, tentu mereka tidak merasakan sakit.
Rasa sakit dan senang yang sifatnya universal itu menunjukkan siapa yang merasa terlindungi dan siapa yang merasa disakiti oleh kebijakan Bush. Jadi sangat tidak tepat, jika yang tidak merasa sakit itu, menyalahkan orang yang sakit, karena dia tidak merasakannya.
Kabarnya, hari ini, Senin (20/11), Bush akan tiba di atas lapangan heli —dimana lapangan itu adalah kebun yang usianya ratusan tahun, yang selama ini aset bersejarah di Indonesia— dengan bangganya. Artinya kalau Bush memang seorang pecinta lingkungan, kedamaian, dan hak-hak azasi manusia, dia tidak perlu turun di Bagor, dimana ribuan manusia kehilangan hak menggunakan handphone (jaringan mati), siswa diliburkan dan sejumlah pembatasan kegiatan lainnya.
Seorang pemimpin yang baik itu dapat diukur dari apa yang dilakukan skala kecil. Bahkan, dalam mengukur baik tidaknya seseorang kita bisa mengetesnya dalam hal-hal yang kecil, bagaimaan seseorang itu berjalan, duduk, makan, minum dan lainnya. Bagaimana seorang pemimpin disebut baik, kalau dengan keluarganya sendiri dia berbuat jahat?
Kebenaran itu juga universal, menebang pohon, merampas hak orang lain itu adalah hukum alam. Dibelahan bumi manapun, itu salah. Jangankan manusia, binatang pun akan merespon secara spontan, jika haknya diambil.
Kita tidak ingin membeci tanpa alasan dan juga tidak ingin mencintai tanpa alasan. Kebencian warga Indonesia dengan menggelar aksi demo di sejumlah provinsi dan kabupaten adalah bagian dari rasa yang universal itu. Yakni rasa peduli pada warga di belahan lain yang menderita.
Mereka seharusnya mendapatkan aspresiasi khusus. Mereka bisa dikatakan lebih mulia dibandingkan, yang diam tanpa sikap. Biarkanlah mereka memperjuangkan yang benar, tanpa perlu dipukuli. Kadang sikap Polri mengganggap mereka itu ancaman, padahal mereka itu mengkritisi apa yang dilakukan pemerintah. Oleh karena itu, jangan sampai dalam aksi demo anti-Bush hari ini menelan korban jiwa.
***
Mewaspadai agenda kedatangan Bush tidak salah. Jangan biarkan yang salah itu berjalan langgeng tanpa dikritisi. Dengan sikap kritis, maka akan nampak apa sisi baik dan buruk kedatangan Bush kali ini.
Mereka yang melakukan demo itu tidak pernah belajar mengenai politik hubungan internasional di sebuah perguruan tinggi, tetapi perasaan mereka menembus lintas negara. Ada anak-anak, pelajar dan warga biasa, umumnya mereka tidak paham ilmu hubungan internasional yang diajarkan di perguruan tingggi. Tapi perasaan sakit yang dialami warga di belahan lain, menembus lintas negara, passingworld, itu tidak bisa dipungkiri dan tidak bisa dibatasi ‘’tembok media’’ yang dibangun AS. Bisa saja mereka membayar media tertentu, tapi kejahatan itu akan terungkap pula.
Masih ingat kasus Penjara Abu Ghraib di Irak, Penjara Guantanamo (Gitmo) di Amerika Latin dan sejumlah penjara yang disediakan AS untuk menampung mereka yang dituduh teroris, tanpa ‘’ba bi bu’’alias proses hukum, langsung dilemparkan ke penjara ini. Apakah itu sesuai dengan HAM?
Media mana yang mengungkap itu? Ternyata media AS sendiri, artinya rasa yang ada dalam jiwa manusia itu sama di manapun dia berada, dia akan menyatakan mana yang salah dan benar.
Siapa yang menggugat Bush mengenai HAM di Penjara Gitmo? Ternyata komisi HAM AS sendiri. Siapa yang tidak memilih Partai Republik yang menjagokan Bush, ya warga AS sendiri. Mereka menilai, pemimpin ini tidak benar dan yang ini benar. Nah, itu lah kebenaran, dia tidak bisa ditutup oleh ruang besi atau tembok informasi yang dibeking media yang pro pada salah satu pemimpin.
Jika Bush bermuka dua, alias melakukan standar ganda dalam kebijakan politiknya, maka sangat mudah menilainya. Itu salah alias munafik. Siapa pun dapat menilainya soal standar ganda ini, mengapa Bush membiarkan serangan Israel ke Palestina dan Libanon sementara perlawanan Palestina dinilai salah. Murid SD pun tahu, mana yang salah dan benar, walau media berusaha membungkusnya dengan gaya bahasa yang sedikit membela kesalahan itu —terkecuali media yang netral.
Mereka yang melawan tekanan Israel disebut teroris. Mereka yang melawan tekanan AS di Afghanistan disebut militan teroris. Mereka yang melawan pendudukan AS di Irak, disebut militan haluang radikal. Sampai-sampai yang berjihad dengan pemahaman agama yang diamalkannya, juga disebut teroris. Bahkan pendidikan di pesantren di Indonesia dinilai telah melahirkan para teroris. Wah, ini keterlaluan. Bisa-bisa orang saleh itu disebut teroris.
Jangan biarkan pemutarbalikkan paradigma berpikir itu terjadi. Pakai jenggot itu disunahkan, bukan ciri teroris. Jihad itu ajaran agama, bukan teroris. Setiap Muslim diberi kebebasan menafsirkan makna jihad, yang salah adalah yang menyalahkan penafsiran orang lain.
Penafsiran seseorang itu belum tentu benar, bahkan para sahabat rasulullah itu sendiri banyak yang berbeda pendapat, tapi semuanya dinilai sebagai rahmat. Kalau sampai menafsirkan makna ajaran agama itu sendiri dilarang oleh seorang pimpinan negara adikuasi, bahkan diklaim teroris itu lah yang salah.
Kemarin Duta Besar AS menyatakan pengawalan Bush itu dilakukan dikarenakan di luar sana banyak orang gila. Siapa yang gila? Orang Indonesia yang jelasnya, dan minimal yang ada di Bogor tak sampai ke Riau.
Ini keterlaluan. Kita dinilai gila. Dilarang berpendapat oleh orang lain, dan diharuskan ikut berpikir dengan paradigma berpikirnya. Sifat dasar manusia, dia tidak bisa dilarang peduli dengan bangsa lain, tidak bisa dilarang berbeda pendapat, dia tidak bisa dilarang untuk bersikap dan sejumlah larangan yang universal lainnya.***
Menebar Bakti Menuai Janji (Catatan Sewindu PAN, 23 Agustus 1998-2006)
Bila tidak karena tayangan sinetron selebriti Trans TV juga manusia episode selingkuh politik, kemungkinan Partai Amanat Nasional (PAN) tidak dibuat heboh. Menariknya, tetangga saya belum tahu jika Ketua Umum PAN tidak lagi tokoh reformasi yakni Amin Rais. Inilah realita yang terjadi pada PAN sekarang kelahirannya dikenal sebagai wadah tokoh akademis dan pejuang reformis sekarang lebih tersosialisasi karena infotaiment selebritis. Terlepas apakah hanya sekadar gosip murahan, yang jelas PAN menghadapi uji tantangan zaman. Sewindu sudah usia PAN yang dilahirkan dari gua garba saat denting berkecamuknya era reformasi. Ketika itu 23 Agustus 1998 jabang bayi PAN ‘’ditimang’’ dan diharapkan oleh berbagai elemen masyarakat menjadi solusi atas kompleknya problem bangsa. Sinar terangnya diimpikan bisa menerangi gelap gulita Indonesia.
Ternyata harapan itu belum dapat ditunaikan setidaknya jika PAN dilihat dari tahapan tiga uji yakni; Pertama, uji Pemilu 1999 meskipun polling yang dikutip Lances Castles pada waktu itu PAN diprediksikan dapat menguasai 45 persen faktanya pada pemilu multi partai itu PAN hanya mampu memperoleh 7.528.956 suara, jelas sangat kontradiksi jika dibandingkan dengan riuh dan gegap gempita saat deklarasi 23 Agustus 1998 di Istora Senayan Jakarta delapan tahun silam.
Uji kedua pada Pemilu 2004 hasilnya PAN justeru turun peringkat dari 5 besar menjadi 7 besar. Bersyukur masih ada keberuntungan berpihak dengan PAN dimana dengan sistem Pemilu proporsional terbuka meskipun peringkat turun tapi perolehan jumlah kursi di DPR RI naik menjadi 53 dari 34. Ketiga, pada Pemilu Presiden secara langsung Amin Rais-Siswono Yudohusodo pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden yang diusung oleh PAN tidak lolos masuk ke putaran kedua. Dari ketiga tahab uji inilah PAN memperoleh pelajaran yang sangat berharga.
Sebagai partai yang lahir dari pemikiran cerdas para kaum cendikiawan. PAN tidak mau larut dalam suasana pesimis walau tiga uji yang dilaluinya kurang memuaskan. Maka dengan ikhtiar dan pertimbangan yang mendalam dengan berani PAN pada puncak musyawarah tertinggi dengan mantap melalui Munas PAN di Semarang sang tokoh reformasi Amin Rais mengestafetkan tampuk Ketua Umum PAN . Maka terpilihlah secara demokratis Sutrisno Bachir, pengusaha dari Pekalongan. Sebuah regenerasi yang diandalkan untuk dapat menyegarkan kembali gairah dan ghirah PAN seperti pada saat kelahirannya penuh semangat harapan serta penuh motivasi dalam mengawal perjuangan nasib bangsa.
Dengan regenerasi kepemimpinan bermakna saat ini PAN pada kondisi uji keempat. Jika PAN ingin tetap eksis dan berjaya di medan tempur politik, maka seluruh kader PAN wajib melakukan evaluasi terhadap kondisi PAN pada tiga masa uji yang telah dilalui. Dengan terbuka PAN harus mengakui kekalahan demi kekalahan baik dalam Pemilu legislatif dan Presiden serta segala sesuatu yang membuat tak kunjung menjadi partai besar, kita jadikan bahan renungan, pelajaran maka doktrin mutlak mesti dapat dicarikan jalan keluarnya demi masa depan kita bersama.
Adalah sebuah strategi tetapi juga taruhan besar di kala PAN sepakat untuk meregenerasikan PAN dari sang tokoh menjadi konsep kolektif kolegial. Pilihan Amin Rais lengser dari Ketua Umum PAN digantikan Sutrisno Bachir adalah puncak menuju uji keempat. Keberhasilannya secara terukur akan terlihat pada Pemilu 2009 yang akan datang. Di samping itu jangan sampai mengeyampingkan indikator keberhasilan yang tak terukur di antaranya menjaga imej partai sebagai wadah perjungan untuk menyuarakan kepentingan rakyat. Indikatornya dapat dilihat dari berbagai faktor misalnya peran, kiprah dan keberpihakan kepada rakyat oleh pengurus PAN di berbagai tingkatan (DPP, DPW, DPC, DPRt) terutama kader partai baik yang menjadi pejabat eksekutif maupun legislatif. Yang tidak kalah penting juga membangun sistim atau mekaniseme internal partai.
Dengan cara inilah PAN akan menjadi tempat pencelupan (sibghoh) para politisi yang akan dapat diandalkan sebagai pejuang, lokomotif politik untuk memperbaiki Indonesia di masa sekarang dan mendatang. Jika beberapa indikator ini terlihat nyata telah dilaksanakan dengan baik oleh PAN maka Insya Allah uji keempat akan dilalui dengan senyum kemenangan bersama rakyat Indonesia.
Sebaliknya jika pada tahapan menuju uji keempat ini tidak ada nilai plus, kurang memiliki daya jual dibandingkan dengan partai yang lain maka jangan saling menyalahkan jika PAN akan menjadi sebuah kenangan manis sebagai partai yang lahir karena derasnya tuntutan reformasi tidak lebih dari itu. Sebab rakyat sekarang terus melihat dan tak segan memberikan garis hitam pada partai yang berpihak kepada kepentingan pengusaha dan penguasa dengan mengeyampingkan tangisan, penderitaan rakyat yang nota bene adalah pemilihnya.
Akhirnya, dengan memperingati sewindu PAN, hendaknya semua kader PAN melakukan perenungan mendalam untuk kemajuan sekarang dan masa depan PAN. Hasil perenungan hendaknya dijadikan sebagai bahan pemecahan masalah demi kemajuan PAN untuk kemakmuran dan kesejahteraan bangsa.
Sebagai kader PAN mari bergandeng bersama untuk menebar bakti menuai janji, bukan menebar janji untuk merebut kursi. PAN tetap diharapkan menjadi tumpuan pemecah persoalan bangsa. Konsep cerdas PAN tanpa aksi tidak akan menghasilkan apa-apa. Nawaitu yang mulia tanpa disertai kinerja ril tidak akan bernilai sama sekali, tidak lebih dari sekadar bual beso, hanya sekadar retorika menarik di secarik kertas. Selamat Ulang Tahun ke-8 PAN, semoga berjaya.***
Bagus Santoso SAg MP, Wakil Ketua DPW PAN Riau, Wakil Ketua DPRD Bengkalis.
Menantang Para Elite Parpol
Sebagai seorang dari jutaan pengurus partai politik (parpol) di Indonesia saya tergelitik dengan Tajuk Rencana Riau Pos (26/4) dengan judul Pembusukan Partai Politik. Pada salah satu alenia ditampilkan sebuah ungkapan ‘’Tidak ada ikan busuk mulai dari ekor, yang sering terjadi busuk dari kepala’’. Saya tidak pada posisi untuk setuju atau tidak dengan ungkapan tersebut, namun kalau kita ambil alur pikir paling sederhana pastilah lebih banyak yang sependapat.Saya menerima catatan adanya sederet catatan miring yang terus mengiringi kelahiran sebagian besar parpol di negeri ini. Tentu saya juga beragumentasi dengan menawarkan bukti-bukti keberhasilan, tidak dipungkiri lahirnya parpol di era reformasi telah membawa dan mengubah kebebasan berdemokrasi. Memang saling tarik menarik kepentingan dan berebut pengamanan, pengaruh dan kekuasaan menjadi bumbu sedap pada setiap konflik, baik eksternal maupun intenal parpol. Betapa bergejolak, suhu politik meninggi. Lihat saja saat penetapan calon legislatif pada Pemilu 2004. Pemicunya karena sistim Pemilu yang banci meskipun proporsional terbuka tetap ‘’Memilih kucing dalam karung’’.
Diakui sistem parlemen di Indonesia sudah berubah dengan ditandainya pelantikan anggota parlemen hasil Pemilu 2004, tepatnya 1 Oktober 2004. Dimana anggota MPR hanya terdiri dari DPR dan DPD karena Utusan Golongan dan Daerah dihapus. Yang bermakna perwakilan politik tidak lagi diarahkan kepada MPR melainkan kepada DPR dan DPD. Meski DPR, DPD, sama-sama di pilih rakyat dalam pesta demokrasi Pemilu, tetapi berbeda proses teknis pemilihan serta hasil akhirnya.
Seseorang berhasil duduk di kursi DPR rata-rata karena diuntungkan oleh sistim proporsional daftar terbuka pada pemilu 2004. Sedangkan DPD dipilih dengan sistim distrik berwakil banyak. DPD berhak duduk di parlemen karena murni pilihan rakyat sedangkan DPR duduk karena berhasil merebut rangking ‘’jadi’’ tersebab faktor legitimasi sebuah peraturan perundang-undangan. Nomor urutan perangkingan menjadi rebutan dan penentu duduk dan tidaknya caleg. (Catatan se-Indonesia hanya ada dua orang yang memenuhi bilangan penuh).
Maknanya menurut pendapat sahabatku Riza, meskipun negara ini telah mengubah paradigma sentrilistis menjadi desentralisasi tetapi parpol masih berlagak dengan mempertahankan sistim sentralistis, tongkat komando, jauh dari konsep otonomi. Maka rasanya peluang berharap parpol sebagai rumah yang nyaman akan jauh panggang dari api. Karena pengurus kabupaten, provinsi tidak punya kuasa untuk menolak sebuah intruksi dari pengurus Jakarta. Hal yang sama meskipun ada parpol yang menandatangani surat di atas meterai siapa banyak suara dia yang menang kandas dengan dalih batal demi hukum.
Pembelaan yang berlebihan terhadap pimpinanan parpol tanpa menghiraukan benar dan salah dari sudut agama atau hukum, proses penetapan calon kepala daerah menjadi salah satu bukti begitu kuat tangan besi pengurus setingkat di atas via sebuah surat keputusan, juklak, petunjuk organisasi atau apapun namanya yang jelas-jelas tidak memberikan pembelajaran untuk mandiri.
Mari kita tantang para elite parpol, apakah mereka akan rela mengubah sistim Pemilu 2009 mendatang dengan distrik berwakil banyak? Hampir dapat dipastikan kalaupun diambil voting, maka akan lebih banyak mempertahankan suasana politik seperti pada Pemilu 2004. Logikanya kalau mau bermain fair sistim pemilu yang lebih mengakomodir kepentingan politisi lokal dengan sistim distrik berwakil banyak seperti pemilihan DPD. Siapa dapat suara banyak meskipun hanya lebih satu angka dia berhak atas sokongan tertinggi dari rakyat yang memilih.
Sekali lagi, sanggupkah elite politik menerima perubahan ini, sehingga tidak ada lagi mengenal istilah nomor jadi dan nomor sepatu, tak ada lagi ditinggikan seranting dilebihkan selangkah. Kedudukan antara pengurus teras dengan pengurus kelas serambi sama saja, kecuali tidak lebih dari sekadar sebagai pemandu perahu. Nilai ketua dengan seksi perlengkapan sama-sama nol, yang akan menambah dan mengurangi nilai dalam pencalonan legislatif rakyat yang dibinanya. Ada juga usulan dengan sedikit memberikan penghargaan kepada pengurus teras dengan mempertimbangkan perolehan angka 50+1 dari jumlah bilangan suara.
Makna hakiki demokrasi tertinggi adalah dengan lapang dada mengakui siapa saja yang memperoleh pengakuan lebih dari suara rakyat, walaupun hanya selisih atau unggul satu angka. Kita akan lihat bersama mana saja parpol yang berani mendobrak tradisi ”membeli kucing dalam karung”, meninggalkan sistim akal-akalan menjadi distrik berwakil banyak. Jika seluruh parpol memilih langkah berani ini hampir dipercayai tidak akan ada intimidasi, jegal menjegal baik antar-inter parpol.
Belajar dari Pemilu 2004, dimana hingga sekarang masih terasa panasnya persaingan dalam memperebutkan suara mencuri simpati rakyat. Sedihnya justeru konflik menajam diketahui di dalam tubuh parpol. Saling melabrak, black campaign, manipulasi data hingga saling gontok-gontokan. Apa yang terjadi? Dapat ditamsilkan jangankan mengurus kepentingan rakyat, mencuci dan mengosok baju sendiri saja masih repot.
Jika demikian tidak menutup peluang seperti yang diungkapkan Tajuk Rencana Riau Pos kebencian rakyat terhadap parpol akan membuncah seperti bendungan yang jebol karena tak sanggup menahan luapan air bah, semoga tidak terjadi. ***
Langganan:
Postingan (Atom)
