Senin, 30 Juni 2008

Hidup Mulia Atau Mati Syahid (Catatan Saddam Dihukum Mat)

Emosi. Itu lah yang menyebabkan penulis mengawali penulisan artikel ini. Memang Saddam itu jauh dari Riau (Indonesia), bahkan kita tidak pernah berjumpa langsung, tapi Umat Islam merasakan adanya hubungan emosional dengan Saddam. Apa yang menghubungkan umat Islam dengan mantan pemimpin negeri Seribu Malam ini, jawabannya ya Islam.
Bohong kalau kaum Syiah itu merasa tidak ada hubungan emosi dengan Saddam, sebab keduanya masih dalam lingkup Islam, yang senang melihat Saddam digantung itu hanya sebagian saja, karena mereka lebih kental nilai politisnya khususnya dengan AS. Jangankah Syiah di Bahgdad, umat Islam di udik nan jauh di sana pun akan merasa terkejut tatkala mendengar Saddam meninggal digantung.
Umat Islam bagaikan satu tubuh, jika salah satu bagian ada yang sakit, maka bagian lain akan merasakannya. Jika ada bagian lain yang tidak lagi merasakan rasa sakit itu, berarti dia sudah tidak lagi masuk bagian tubuh itu. Ingat, iman yang paling lemah itu adalah doa. Doa agar umat Islam yang tertindas itu dapat terbantu dari ancaman kaum Kafir.
Memang kita sekarang dipisahkan oleh negara, provinsi dan batasan lainnya. Ya itu lah dunia, dengan aturan yang sesuai dengan perkembangan zaman. Itu namanya sunnatullah. Namun perlu diingat, baju, emas, pangkat dan lainnya tidak akan dibawa pulang ke Kampung Akhirat.
Sangat naif rasanya di saat kita berburu harta, tiba-tiba kita meninggal. Tak jarang kita melihat pejabat lagi main golf, meninggal. Kalau sudah meninggal, siapa yang mau ikut? Anaknya, istrinya atau siapa orang yang paling dekat dengan dia, pasti tidak ada yang mau ikut. Apa yang dibawa? Hanya kain kapan --itu harta fisik yang dicari dan menghabiskan waktu berpuluh tahun. Sementara amal anda bagaimana? Kosong, bahkan tak sebanding dengan dosa. Demikian lah mereka yang hidupnya dihabiskan untuk mencari harta, jabatan, populeritas dan lainnya, dengan menghalalkan segala cara. Nauzubillah min zalik.
Kematian Saddam
Saddam merasa kematian itu bukan harus dihindari, sebab siapa pun akan mengalaminya. Namun yang terpenting adalah bagaimana menyikapi kematian itu sendiri, memilih hidup terhormat atau meninggal dalam keadaan syahid.
Ungkapan ''hidup terhormat dan meninggal dalam keadaan syahid'' sangat populer bagi masyarakat Timur Tengah. Sampai-sampai, bom bunuh diri yang menantang zionis Israel dan sekutunya AS, setiap pekan selalu kita dengar. Tak jarang, ibu rumah tangga pun siap menjadi syahid demi agama dan negaranya. Ini lah yang tidak dipahami George Walker Bush dan sejumlah sekutunya, bahwa semangat jihad itu tidak bisa dirasionalkan dan dilawan dengan senjata modern.
Masih terbaca dalam pikiran penulis, saat seorang ibu yang berumur 50an secara emosi menyatakan, dia memiliki lima anak laki-laki yang siap syahid demi agama dan negaranya. Kematian Saddam benar-benar menumbuhkan semangat jihad di kalangan kaum Sunni Irak. Di kancah politik yang kompleks seperti di Irak itu memang sangat sulit memilah antara kepentingan politik dengan agama. Namun bagi orang yang beriman, pemilahan itu tidak sulit. Yakni niat, mengawali segala perjuangan dengan niat Bismillah.
Syiah yang dibeking AS sudah tentu berani melakukan tindakan di luar batas, yang penting AS memberikan dana dan kekuasaan pada mereka. Dalam kasus pengadilan Saddam ini terkesan memang Bush ingin cuci tangan. Dia tidak ingin tangannya dikotori darah warga Irak, termasuk darah Saddam yang keluar dari lehernya yang terjerat tali.
Sangat tepat yang disebutkan Ongah Tabrani Rab, sosok Saddam itu berhadapan dengan pengadilan yang penuh dengan intrik politis. Jaringan AS yang merasuk ke tubuh pemerintah Irak saat ini memang sangat berat dilawan Saddam. Namun sampai ujung hayatnya, Saddam tetap lantang menantangnya.
Saddam Tak Takut Kematian
Kebanyakan orang menghindari untuk berpikir tentang kematian. Terutama dalam kehidupan modern ini, seseorang biasanya menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang sangat bertolak belakang dengan kematian. Mereka berpikir tentang: di perusahaan mana mereka akan bekerja, baju apa yang akan mereka gunakan besok pagi, apa yang akan dimasak untuk makan malam nanti, hal-hal ini merupakan persoalan-persoalan penting yang sering kita pikirkan.
Kehidupan diartikan sebagai sebuah proses kebiasaan yang dilakukan sehari-hari. Pembicaraan tentang kematian sering dicela oleh mereka yang merasa tidak nyaman mendengarnya. Mereka menanggap bahwa kematian hanya akan terjadi ketika seseorang telah lanjut usia, seseorang tidak ingin memikirkan tentang kematian dirinya yang tidak menyenangkannya ini. Sekalipun begitu ingatlah selalu, tidak ada yang menjamin bahwa seseorang akan hidup dalam satu jam berikutnya. Tiap hari, orang-orang menyaksikan kematian orang lain di sekitarnya tetapi tidak memikirkan tentang hari ketika orang lain menyaksikan kematian dirinya. Ia tidak mengira bahwa kematian itu sedang menunggunya.***

Tidak ada komentar: