Minggu, 29 Juni 2008

Berpikir Menembus Lintas Batas

Setiap manusia memiliki sisi-sisi persamaan dengan manusia lain. Misalnya siapapun di dunia ini kalau kakinya terjepit, dia akan menjerit, sebab kesakitan. Jika tidak sakit, itu manusia tidak normal, atau ada alat pelindung di kakinya.
Nah, kesamaan universal itu juga dirasakan para demonstran yang sedang menggelar aksi demo anti-Bush. Penderitaan yang dialami warga dunia di belahan lain, itu dirasakan warga lainnya, terkecuali mereka yang dilindungi dari kekejaman kebijakan Presiden AS, George Walker Bush ini. Misalnya negara Korsel, Kuwait, Israel, dan sejumlah negara lainnya yang mendapat perlidungan, tentu mereka tidak merasakan sakit.
Rasa sakit dan senang yang sifatnya universal itu menunjukkan siapa yang merasa terlindungi dan siapa yang merasa disakiti oleh kebijakan Bush. Jadi sangat tidak tepat, jika yang tidak merasa sakit itu, menyalahkan orang yang sakit, karena dia tidak merasakannya.
Kabarnya, hari ini, Senin (20/11), Bush akan tiba di atas lapangan heli —dimana lapangan itu adalah kebun yang usianya ratusan tahun, yang selama ini aset bersejarah di Indonesia— dengan bangganya. Artinya kalau Bush memang seorang pecinta lingkungan, kedamaian, dan hak-hak azasi manusia, dia tidak perlu turun di Bagor, dimana ribuan manusia kehilangan hak menggunakan handphone (jaringan mati), siswa diliburkan dan sejumlah pembatasan kegiatan lainnya.
Seorang pemimpin yang baik itu dapat diukur dari apa yang dilakukan skala kecil. Bahkan, dalam mengukur baik tidaknya seseorang kita bisa mengetesnya dalam hal-hal yang kecil, bagaimaan seseorang itu berjalan, duduk, makan, minum dan lainnya. Bagaimana seorang pemimpin disebut baik, kalau dengan keluarganya sendiri dia berbuat jahat?
Kebenaran itu juga universal, menebang pohon, merampas hak orang lain itu adalah hukum alam. Dibelahan bumi manapun, itu salah. Jangankan manusia, binatang pun akan merespon secara spontan, jika haknya diambil.
Kita tidak ingin membeci tanpa alasan dan juga tidak ingin mencintai tanpa alasan. Kebencian warga Indonesia dengan menggelar aksi demo di sejumlah provinsi dan kabupaten adalah bagian dari rasa yang universal itu. Yakni rasa peduli pada warga di belahan lain yang menderita.
Mereka seharusnya mendapatkan aspresiasi khusus. Mereka bisa dikatakan lebih mulia dibandingkan, yang diam tanpa sikap. Biarkanlah mereka memperjuangkan yang benar, tanpa perlu dipukuli. Kadang sikap Polri mengganggap mereka itu ancaman, padahal mereka itu mengkritisi apa yang dilakukan pemerintah. Oleh karena itu, jangan sampai dalam aksi demo anti-Bush hari ini menelan korban jiwa.
***
Mewaspadai agenda kedatangan Bush tidak salah. Jangan biarkan yang salah itu berjalan langgeng tanpa dikritisi. Dengan sikap kritis, maka akan nampak apa sisi baik dan buruk kedatangan Bush kali ini.
Mereka yang melakukan demo itu tidak pernah belajar mengenai politik hubungan internasional di sebuah perguruan tinggi, tetapi perasaan mereka menembus lintas negara. Ada anak-anak, pelajar dan warga biasa, umumnya mereka tidak paham ilmu hubungan internasional yang diajarkan di perguruan tingggi. Tapi perasaan sakit yang dialami warga di belahan lain, menembus lintas negara, passingworld, itu tidak bisa dipungkiri dan tidak bisa dibatasi ‘’tembok media’’ yang dibangun AS. Bisa saja mereka membayar media tertentu, tapi kejahatan itu akan terungkap pula.
Masih ingat kasus Penjara Abu Ghraib di Irak, Penjara Guantanamo (Gitmo) di Amerika Latin dan sejumlah penjara yang disediakan AS untuk menampung mereka yang dituduh teroris, tanpa ‘’ba bi bu’’alias proses hukum, langsung dilemparkan ke penjara ini. Apakah itu sesuai dengan HAM?
Media mana yang mengungkap itu? Ternyata media AS sendiri, artinya rasa yang ada dalam jiwa manusia itu sama di manapun dia berada, dia akan menyatakan mana yang salah dan benar.
Siapa yang menggugat Bush mengenai HAM di Penjara Gitmo? Ternyata komisi HAM AS sendiri. Siapa yang tidak memilih Partai Republik yang menjagokan Bush, ya warga AS sendiri. Mereka menilai, pemimpin ini tidak benar dan yang ini benar. Nah, itu lah kebenaran, dia tidak bisa ditutup oleh ruang besi atau tembok informasi yang dibeking media yang pro pada salah satu pemimpin.
Jika Bush bermuka dua, alias melakukan standar ganda dalam kebijakan politiknya, maka sangat mudah menilainya. Itu salah alias munafik. Siapa pun dapat menilainya soal standar ganda ini, mengapa Bush membiarkan serangan Israel ke Palestina dan Libanon sementara perlawanan Palestina dinilai salah. Murid SD pun tahu, mana yang salah dan benar, walau media berusaha membungkusnya dengan gaya bahasa yang sedikit membela kesalahan itu —terkecuali media yang netral.
Mereka yang melawan tekanan Israel disebut teroris. Mereka yang melawan tekanan AS di Afghanistan disebut militan teroris. Mereka yang melawan pendudukan AS di Irak, disebut militan haluang radikal. Sampai-sampai yang berjihad dengan pemahaman agama yang diamalkannya, juga disebut teroris. Bahkan pendidikan di pesantren di Indonesia dinilai telah melahirkan para teroris. Wah, ini keterlaluan. Bisa-bisa orang saleh itu disebut teroris.
Jangan biarkan pemutarbalikkan paradigma berpikir itu terjadi. Pakai jenggot itu disunahkan, bukan ciri teroris. Jihad itu ajaran agama, bukan teroris. Setiap Muslim diberi kebebasan menafsirkan makna jihad, yang salah adalah yang menyalahkan penafsiran orang lain.
Penafsiran seseorang itu belum tentu benar, bahkan para sahabat rasulullah itu sendiri banyak yang berbeda pendapat, tapi semuanya dinilai sebagai rahmat. Kalau sampai menafsirkan makna ajaran agama itu sendiri dilarang oleh seorang pimpinan negara adikuasi, bahkan diklaim teroris itu lah yang salah.
Kemarin Duta Besar AS menyatakan pengawalan Bush itu dilakukan dikarenakan di luar sana banyak orang gila. Siapa yang gila? Orang Indonesia yang jelasnya, dan minimal yang ada di Bogor tak sampai ke Riau.
Ini keterlaluan. Kita dinilai gila. Dilarang berpendapat oleh orang lain, dan diharuskan ikut berpikir dengan paradigma berpikirnya. Sifat dasar manusia, dia tidak bisa dilarang peduli dengan bangsa lain, tidak bisa dilarang berbeda pendapat, dia tidak bisa dilarang untuk bersikap dan sejumlah larangan yang universal lainnya.***

Tidak ada komentar: