Bila tidak karena tayangan sinetron selebriti Trans TV juga manusia episode selingkuh politik, kemungkinan Partai Amanat Nasional (PAN) tidak dibuat heboh. Menariknya, tetangga saya belum tahu jika Ketua Umum PAN tidak lagi tokoh reformasi yakni Amin Rais. Inilah realita yang terjadi pada PAN sekarang kelahirannya dikenal sebagai wadah tokoh akademis dan pejuang reformis sekarang lebih tersosialisasi karena infotaiment selebritis. Terlepas apakah hanya sekadar gosip murahan, yang jelas PAN menghadapi uji tantangan zaman. Sewindu sudah usia PAN yang dilahirkan dari gua garba saat denting berkecamuknya era reformasi. Ketika itu 23 Agustus 1998 jabang bayi PAN ‘’ditimang’’ dan diharapkan oleh berbagai elemen masyarakat menjadi solusi atas kompleknya problem bangsa. Sinar terangnya diimpikan bisa menerangi gelap gulita Indonesia.
Ternyata harapan itu belum dapat ditunaikan setidaknya jika PAN dilihat dari tahapan tiga uji yakni; Pertama, uji Pemilu 1999 meskipun polling yang dikutip Lances Castles pada waktu itu PAN diprediksikan dapat menguasai 45 persen faktanya pada pemilu multi partai itu PAN hanya mampu memperoleh 7.528.956 suara, jelas sangat kontradiksi jika dibandingkan dengan riuh dan gegap gempita saat deklarasi 23 Agustus 1998 di Istora Senayan Jakarta delapan tahun silam.
Uji kedua pada Pemilu 2004 hasilnya PAN justeru turun peringkat dari 5 besar menjadi 7 besar. Bersyukur masih ada keberuntungan berpihak dengan PAN dimana dengan sistem Pemilu proporsional terbuka meskipun peringkat turun tapi perolehan jumlah kursi di DPR RI naik menjadi 53 dari 34. Ketiga, pada Pemilu Presiden secara langsung Amin Rais-Siswono Yudohusodo pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden yang diusung oleh PAN tidak lolos masuk ke putaran kedua. Dari ketiga tahab uji inilah PAN memperoleh pelajaran yang sangat berharga.
Sebagai partai yang lahir dari pemikiran cerdas para kaum cendikiawan. PAN tidak mau larut dalam suasana pesimis walau tiga uji yang dilaluinya kurang memuaskan. Maka dengan ikhtiar dan pertimbangan yang mendalam dengan berani PAN pada puncak musyawarah tertinggi dengan mantap melalui Munas PAN di Semarang sang tokoh reformasi Amin Rais mengestafetkan tampuk Ketua Umum PAN . Maka terpilihlah secara demokratis Sutrisno Bachir, pengusaha dari Pekalongan. Sebuah regenerasi yang diandalkan untuk dapat menyegarkan kembali gairah dan ghirah PAN seperti pada saat kelahirannya penuh semangat harapan serta penuh motivasi dalam mengawal perjuangan nasib bangsa.
Dengan regenerasi kepemimpinan bermakna saat ini PAN pada kondisi uji keempat. Jika PAN ingin tetap eksis dan berjaya di medan tempur politik, maka seluruh kader PAN wajib melakukan evaluasi terhadap kondisi PAN pada tiga masa uji yang telah dilalui. Dengan terbuka PAN harus mengakui kekalahan demi kekalahan baik dalam Pemilu legislatif dan Presiden serta segala sesuatu yang membuat tak kunjung menjadi partai besar, kita jadikan bahan renungan, pelajaran maka doktrin mutlak mesti dapat dicarikan jalan keluarnya demi masa depan kita bersama.
Adalah sebuah strategi tetapi juga taruhan besar di kala PAN sepakat untuk meregenerasikan PAN dari sang tokoh menjadi konsep kolektif kolegial. Pilihan Amin Rais lengser dari Ketua Umum PAN digantikan Sutrisno Bachir adalah puncak menuju uji keempat. Keberhasilannya secara terukur akan terlihat pada Pemilu 2009 yang akan datang. Di samping itu jangan sampai mengeyampingkan indikator keberhasilan yang tak terukur di antaranya menjaga imej partai sebagai wadah perjungan untuk menyuarakan kepentingan rakyat. Indikatornya dapat dilihat dari berbagai faktor misalnya peran, kiprah dan keberpihakan kepada rakyat oleh pengurus PAN di berbagai tingkatan (DPP, DPW, DPC, DPRt) terutama kader partai baik yang menjadi pejabat eksekutif maupun legislatif. Yang tidak kalah penting juga membangun sistim atau mekaniseme internal partai.
Dengan cara inilah PAN akan menjadi tempat pencelupan (sibghoh) para politisi yang akan dapat diandalkan sebagai pejuang, lokomotif politik untuk memperbaiki Indonesia di masa sekarang dan mendatang. Jika beberapa indikator ini terlihat nyata telah dilaksanakan dengan baik oleh PAN maka Insya Allah uji keempat akan dilalui dengan senyum kemenangan bersama rakyat Indonesia.
Sebaliknya jika pada tahapan menuju uji keempat ini tidak ada nilai plus, kurang memiliki daya jual dibandingkan dengan partai yang lain maka jangan saling menyalahkan jika PAN akan menjadi sebuah kenangan manis sebagai partai yang lahir karena derasnya tuntutan reformasi tidak lebih dari itu. Sebab rakyat sekarang terus melihat dan tak segan memberikan garis hitam pada partai yang berpihak kepada kepentingan pengusaha dan penguasa dengan mengeyampingkan tangisan, penderitaan rakyat yang nota bene adalah pemilihnya.
Akhirnya, dengan memperingati sewindu PAN, hendaknya semua kader PAN melakukan perenungan mendalam untuk kemajuan sekarang dan masa depan PAN. Hasil perenungan hendaknya dijadikan sebagai bahan pemecahan masalah demi kemajuan PAN untuk kemakmuran dan kesejahteraan bangsa.
Sebagai kader PAN mari bergandeng bersama untuk menebar bakti menuai janji, bukan menebar janji untuk merebut kursi. PAN tetap diharapkan menjadi tumpuan pemecah persoalan bangsa. Konsep cerdas PAN tanpa aksi tidak akan menghasilkan apa-apa. Nawaitu yang mulia tanpa disertai kinerja ril tidak akan bernilai sama sekali, tidak lebih dari sekadar bual beso, hanya sekadar retorika menarik di secarik kertas. Selamat Ulang Tahun ke-8 PAN, semoga berjaya.***
Bagus Santoso SAg MP, Wakil Ketua DPW PAN Riau, Wakil Ketua DPRD Bengkalis.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar