Senin, 30 Juni 2008

Melayu Bengkali dalam Ancaman Hedonisme

Bengkalis merupakan rumpun Melayu dari sebaran Melayu di Asia Tenggara. Sama dengan rumpun Melayu serantau lainnya, yakni menghadapi ancaman globalisasi, hedonisme, dan budaya lain yang mengancam puak lain.
Dengan demikian, Melayu Bengkalis berada di persimpangan jalan, mengalami kecelaruan mengungkapkan jati diri, kelesuan berpikir dalam memahami jati dirinya.
Masyarakat kebanyakan keliru dalam mengartikan makna modern, sehingga nilai pragmatisme menjadi sasaran perjuangan. Apa yang menguntungkan bagi diri dan keluarganya dalam pandangan dunia, maka itulah yang dianggap baik.
Khazanah Melayu yang penuh dengan norma-norma dan muatan budaya yang unggul tinggal hanya menjadi pusaka masa silam. Padahal semestinya menjadi refleksi diri untuk menghalau budaya yang tidak sesuai dengan budaya Melayu, bukan dijadikan pajangan semata. Budaya sudah terpinggirkan dari kehidupan sehari-hari.
Ancaman budaya asing memang tidak bisa dihalau seluruhya, ada yang berubah menjadi bagian jati diri, yakni mengalami akulturasi budaya, dan sebagian lainnya menjadi ancaman yang harus dibersihkan. Di sinilah perlunya semangat untuk menggali kekuatan dan kelemahan budaya Melayu.
Perlu dibangun dorongan membangkitkan motivasi anak-anak Melayu dari kelompok yang menerima menjadi generasi yang mencipta dan mampu mengolah kekayaan alam yang melimpah di Negeri Junjungan ini.
Generasi yang mampu mengolah sumber daya alam negeri inilah yang mampu membawa Bengkalis pada kegemilangan. Wawasan seperti ini perlu dikembangkan, sehingga generasi muda tersentak dari lamunan dan tidur panjangnya.
Diharapkan khazanah budaya yang bersandarkan syariat ini akan menjadi air minum yang dapat mengurangi rasa haus dan dapat menyegarkan pikiran generasi muda Melayu di Bengkalis.
Seharusnya Melayu Bengkalis --Riau pada umumnya-- bangga telah menjadi ikon dan basis umat Islam di Nusantara. Perasaan inilah yang memupuk semangat cintakan diri sendiri, bangsa dan agama, sekaligus perjuangan bersama menuju kejayaan.
Keinginan untuk meninjau betapa penting potensi akar budaya dalam pembangunan jati diri Bengkalis, karena keprihatinan fenomena budaya yang mengalami kikisan. Gagasan ini mengandung makna yang relevan dengan kebangkitan, kesadaran serta pemahaman nilai budaya dan agama dalam kehidupan sehari-hari.
Melayu sebenarnya etnis yang terbangun dari sumbangan alam. Kekuatan Orde Baru menyebabkan etnis ini menjadi lemah, hal ini agar dari bumi bertuah ini tidak muncul generasi cermelang. Jika orang Melayu tau bahwa dirinya adalah bagian dari budaya yang maju, sudah tentu semangat cinta jati diri sukar dibendung.
Sebalum semangat Melayu ini menyala menjadi besar, maka pemimpin Orde Baru telah meredamnya dengan undang-undang yang menyekat ruang geraknya. Akhirnya tatkala anak Bengkalis –Melayu Riau pada umumnya— ditanya tentang akar budaya bangsanya, mereka tertawa tidak tahu entah yang mana. Pemikiran seperti ini sudah lama dibangun Orde Baru dan sekaranglah terlihat dampaknya.
Setelah budaya Melayu tenggelam dalam bumi dan generasi muda Melayu pun tak lagi membanggakan budayanya, maka dengan mudah Melayu pun redup dari kehidupan.
Jangan disalahkan generasi muda jika mereka gamang dengan budayanya sendiri, sebab akar budaya pun mulai tercerabut dari kehidupan mereka. Saat ini, anak Melayu ramai-ramai meraba mencari identitas diri, kebanyakan mereka tak tahu kalau budaya Melayu sudah mengelana ke penjuru nusantara, seperti yang kita saksikan sendiri bahwa persatuan kita menggunakan bahasa Melayu. Secara tidak langsung Melayu menjadi penyatu terhadap bangsa dan daerah yang begitu luas (nusantara). Akhirnya terbukti dengan diangkatnya bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan dan kesatuan.
Bahkan ketika kejumudan menguasai nusantara, Islam telah masuk ke relung Melayu. Hal ini dibuktikan jauh sebelum berkembangnya Islam di Jawa, Riau telah merobohkan candi-candi Hindu, membuktikan Melayu lebih awal mengecap nikmatnya Islam. Untuk itu, budi menjadi aset yang besar bagi orang Melayu Bengkalis –Riau umumnya—dalam menyampaikan ideologinya. Baik menyangkut persoalan keyakinan, bahasa, sastra maupun budaya.
Ada kekuatan yang perlu dihayati, direalisasikan oleh anak Melayu Bengkalis dalam menjana (menggerakkan) motivasi pembangunan seimbang. Kekuatan tersebut adalah memahami falsafah hidupnya sendiri. Melalui cara ini, akan melahirkan dorongan baru sekaligus membina generasi cemerlang berorientasi nilai-nilai murni. Sebab Melayu sebenarnya memiliki masa silam yang sangat menarik untuk diperbincangkan.
Orang Melayu berpegang teguh dengan keluhuran budi, namun dengan masuknya ideologi asing dan kemajuan materialisme, sedikit banyaknya telah mengikis kemurnian akar fitrah budaya Melayu.
Sejarah silam bukan untuk dibangga-banggakan, melainkan untuk perbandingan dan pelajaran. Kejayaan masa lalu hanyalah memori yang memandu kehidupan kita, bukan berarti kita juga harus seperti itu. Malah mereka yang hidup di masa lalu ingin agar kita lebih hebat dibandingkan mereka. Orang Melayu yang hebat bukan membangga-banggakan warisan tetapi pada yang sama mengalami kemunduran. Tetapi Melayu yang hebat adalah Melayu berwawasan, membawa masa silam sebagai inspirasi kejayaan masa kini serta masa depan.
Di satu sisi, julukan Kota Terubuk sesuatu yang sangat memperihatinkan. Terubuk adalah sejenis ikan hanya berfungsi disantap atau dinikmati. Secara fasalahnya maka penamaannya menggambarkan bahwa orang-orang Bengkalis tak ubahnya seperti ikan terubuk yang dimakan orang, julukan ini jangan sampai meminggirkan semangat orang Melayu Bengkalis, sehingga tidak menggambarkan nilai-nilai murni dan kecemerlangan untuk daerah ini.
Ada baiknya memaknai Kota Terubuk ini kearah yang lebih positif, agar mampu mempengaruhi pikiran atau minda orang Melayu kea rah kejayaan.
Dengan pengaruh kehidupan yang semakin bersaing, diharapkan sumber insani Bengkalis mampu menempatkan diri ke posisi paling ideal. Melalaui memahami potensi akar budaya sendiri dalam memajukan diri dan daerah akan menghasilkan kejayaan cemerlang. Hal yang terpenting, kendati Bengkalis kaya dengan sumber daya alamnya yang melimpah, namun SDM tidak memahami fitrah alam, budaya dan ajaran Islam, maka kekayaan yang ada akan habis sia-sia belaka.
Kesederhanaan dalam hidup pemimpin, jujur, berpikir jernih dan runtun merupakan modal awal untuk pembangunan di Negeri Junjungan ini. Sehingga tidak memunculkan sakwasangka di kalangan rakyat. Pemimpin di Bengkalis hendaknya menjadi sahabat rakyat, sehingga tidak muncul kesenjangan yang kontras antara pemimpin dan rakyat, ini akan memunculkan kecemburuan dan kebencian. Semoga rakyat Bengkalis senantiasa bertuah.

Hidup Mulia Atau Mati Syahid (Catatan Saddam Dihukum Mat)

Emosi. Itu lah yang menyebabkan penulis mengawali penulisan artikel ini. Memang Saddam itu jauh dari Riau (Indonesia), bahkan kita tidak pernah berjumpa langsung, tapi Umat Islam merasakan adanya hubungan emosional dengan Saddam. Apa yang menghubungkan umat Islam dengan mantan pemimpin negeri Seribu Malam ini, jawabannya ya Islam.
Bohong kalau kaum Syiah itu merasa tidak ada hubungan emosi dengan Saddam, sebab keduanya masih dalam lingkup Islam, yang senang melihat Saddam digantung itu hanya sebagian saja, karena mereka lebih kental nilai politisnya khususnya dengan AS. Jangankah Syiah di Bahgdad, umat Islam di udik nan jauh di sana pun akan merasa terkejut tatkala mendengar Saddam meninggal digantung.
Umat Islam bagaikan satu tubuh, jika salah satu bagian ada yang sakit, maka bagian lain akan merasakannya. Jika ada bagian lain yang tidak lagi merasakan rasa sakit itu, berarti dia sudah tidak lagi masuk bagian tubuh itu. Ingat, iman yang paling lemah itu adalah doa. Doa agar umat Islam yang tertindas itu dapat terbantu dari ancaman kaum Kafir.
Memang kita sekarang dipisahkan oleh negara, provinsi dan batasan lainnya. Ya itu lah dunia, dengan aturan yang sesuai dengan perkembangan zaman. Itu namanya sunnatullah. Namun perlu diingat, baju, emas, pangkat dan lainnya tidak akan dibawa pulang ke Kampung Akhirat.
Sangat naif rasanya di saat kita berburu harta, tiba-tiba kita meninggal. Tak jarang kita melihat pejabat lagi main golf, meninggal. Kalau sudah meninggal, siapa yang mau ikut? Anaknya, istrinya atau siapa orang yang paling dekat dengan dia, pasti tidak ada yang mau ikut. Apa yang dibawa? Hanya kain kapan --itu harta fisik yang dicari dan menghabiskan waktu berpuluh tahun. Sementara amal anda bagaimana? Kosong, bahkan tak sebanding dengan dosa. Demikian lah mereka yang hidupnya dihabiskan untuk mencari harta, jabatan, populeritas dan lainnya, dengan menghalalkan segala cara. Nauzubillah min zalik.
Kematian Saddam
Saddam merasa kematian itu bukan harus dihindari, sebab siapa pun akan mengalaminya. Namun yang terpenting adalah bagaimana menyikapi kematian itu sendiri, memilih hidup terhormat atau meninggal dalam keadaan syahid.
Ungkapan ''hidup terhormat dan meninggal dalam keadaan syahid'' sangat populer bagi masyarakat Timur Tengah. Sampai-sampai, bom bunuh diri yang menantang zionis Israel dan sekutunya AS, setiap pekan selalu kita dengar. Tak jarang, ibu rumah tangga pun siap menjadi syahid demi agama dan negaranya. Ini lah yang tidak dipahami George Walker Bush dan sejumlah sekutunya, bahwa semangat jihad itu tidak bisa dirasionalkan dan dilawan dengan senjata modern.
Masih terbaca dalam pikiran penulis, saat seorang ibu yang berumur 50an secara emosi menyatakan, dia memiliki lima anak laki-laki yang siap syahid demi agama dan negaranya. Kematian Saddam benar-benar menumbuhkan semangat jihad di kalangan kaum Sunni Irak. Di kancah politik yang kompleks seperti di Irak itu memang sangat sulit memilah antara kepentingan politik dengan agama. Namun bagi orang yang beriman, pemilahan itu tidak sulit. Yakni niat, mengawali segala perjuangan dengan niat Bismillah.
Syiah yang dibeking AS sudah tentu berani melakukan tindakan di luar batas, yang penting AS memberikan dana dan kekuasaan pada mereka. Dalam kasus pengadilan Saddam ini terkesan memang Bush ingin cuci tangan. Dia tidak ingin tangannya dikotori darah warga Irak, termasuk darah Saddam yang keluar dari lehernya yang terjerat tali.
Sangat tepat yang disebutkan Ongah Tabrani Rab, sosok Saddam itu berhadapan dengan pengadilan yang penuh dengan intrik politis. Jaringan AS yang merasuk ke tubuh pemerintah Irak saat ini memang sangat berat dilawan Saddam. Namun sampai ujung hayatnya, Saddam tetap lantang menantangnya.
Saddam Tak Takut Kematian
Kebanyakan orang menghindari untuk berpikir tentang kematian. Terutama dalam kehidupan modern ini, seseorang biasanya menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang sangat bertolak belakang dengan kematian. Mereka berpikir tentang: di perusahaan mana mereka akan bekerja, baju apa yang akan mereka gunakan besok pagi, apa yang akan dimasak untuk makan malam nanti, hal-hal ini merupakan persoalan-persoalan penting yang sering kita pikirkan.
Kehidupan diartikan sebagai sebuah proses kebiasaan yang dilakukan sehari-hari. Pembicaraan tentang kematian sering dicela oleh mereka yang merasa tidak nyaman mendengarnya. Mereka menanggap bahwa kematian hanya akan terjadi ketika seseorang telah lanjut usia, seseorang tidak ingin memikirkan tentang kematian dirinya yang tidak menyenangkannya ini. Sekalipun begitu ingatlah selalu, tidak ada yang menjamin bahwa seseorang akan hidup dalam satu jam berikutnya. Tiap hari, orang-orang menyaksikan kematian orang lain di sekitarnya tetapi tidak memikirkan tentang hari ketika orang lain menyaksikan kematian dirinya. Ia tidak mengira bahwa kematian itu sedang menunggunya.***

Minggu, 29 Juni 2008

Berpikir Menembus Lintas Batas

Setiap manusia memiliki sisi-sisi persamaan dengan manusia lain. Misalnya siapapun di dunia ini kalau kakinya terjepit, dia akan menjerit, sebab kesakitan. Jika tidak sakit, itu manusia tidak normal, atau ada alat pelindung di kakinya.
Nah, kesamaan universal itu juga dirasakan para demonstran yang sedang menggelar aksi demo anti-Bush. Penderitaan yang dialami warga dunia di belahan lain, itu dirasakan warga lainnya, terkecuali mereka yang dilindungi dari kekejaman kebijakan Presiden AS, George Walker Bush ini. Misalnya negara Korsel, Kuwait, Israel, dan sejumlah negara lainnya yang mendapat perlidungan, tentu mereka tidak merasakan sakit.
Rasa sakit dan senang yang sifatnya universal itu menunjukkan siapa yang merasa terlindungi dan siapa yang merasa disakiti oleh kebijakan Bush. Jadi sangat tidak tepat, jika yang tidak merasa sakit itu, menyalahkan orang yang sakit, karena dia tidak merasakannya.
Kabarnya, hari ini, Senin (20/11), Bush akan tiba di atas lapangan heli —dimana lapangan itu adalah kebun yang usianya ratusan tahun, yang selama ini aset bersejarah di Indonesia— dengan bangganya. Artinya kalau Bush memang seorang pecinta lingkungan, kedamaian, dan hak-hak azasi manusia, dia tidak perlu turun di Bagor, dimana ribuan manusia kehilangan hak menggunakan handphone (jaringan mati), siswa diliburkan dan sejumlah pembatasan kegiatan lainnya.
Seorang pemimpin yang baik itu dapat diukur dari apa yang dilakukan skala kecil. Bahkan, dalam mengukur baik tidaknya seseorang kita bisa mengetesnya dalam hal-hal yang kecil, bagaimaan seseorang itu berjalan, duduk, makan, minum dan lainnya. Bagaimana seorang pemimpin disebut baik, kalau dengan keluarganya sendiri dia berbuat jahat?
Kebenaran itu juga universal, menebang pohon, merampas hak orang lain itu adalah hukum alam. Dibelahan bumi manapun, itu salah. Jangankan manusia, binatang pun akan merespon secara spontan, jika haknya diambil.
Kita tidak ingin membeci tanpa alasan dan juga tidak ingin mencintai tanpa alasan. Kebencian warga Indonesia dengan menggelar aksi demo di sejumlah provinsi dan kabupaten adalah bagian dari rasa yang universal itu. Yakni rasa peduli pada warga di belahan lain yang menderita.
Mereka seharusnya mendapatkan aspresiasi khusus. Mereka bisa dikatakan lebih mulia dibandingkan, yang diam tanpa sikap. Biarkanlah mereka memperjuangkan yang benar, tanpa perlu dipukuli. Kadang sikap Polri mengganggap mereka itu ancaman, padahal mereka itu mengkritisi apa yang dilakukan pemerintah. Oleh karena itu, jangan sampai dalam aksi demo anti-Bush hari ini menelan korban jiwa.
***
Mewaspadai agenda kedatangan Bush tidak salah. Jangan biarkan yang salah itu berjalan langgeng tanpa dikritisi. Dengan sikap kritis, maka akan nampak apa sisi baik dan buruk kedatangan Bush kali ini.
Mereka yang melakukan demo itu tidak pernah belajar mengenai politik hubungan internasional di sebuah perguruan tinggi, tetapi perasaan mereka menembus lintas negara. Ada anak-anak, pelajar dan warga biasa, umumnya mereka tidak paham ilmu hubungan internasional yang diajarkan di perguruan tingggi. Tapi perasaan sakit yang dialami warga di belahan lain, menembus lintas negara, passingworld, itu tidak bisa dipungkiri dan tidak bisa dibatasi ‘’tembok media’’ yang dibangun AS. Bisa saja mereka membayar media tertentu, tapi kejahatan itu akan terungkap pula.
Masih ingat kasus Penjara Abu Ghraib di Irak, Penjara Guantanamo (Gitmo) di Amerika Latin dan sejumlah penjara yang disediakan AS untuk menampung mereka yang dituduh teroris, tanpa ‘’ba bi bu’’alias proses hukum, langsung dilemparkan ke penjara ini. Apakah itu sesuai dengan HAM?
Media mana yang mengungkap itu? Ternyata media AS sendiri, artinya rasa yang ada dalam jiwa manusia itu sama di manapun dia berada, dia akan menyatakan mana yang salah dan benar.
Siapa yang menggugat Bush mengenai HAM di Penjara Gitmo? Ternyata komisi HAM AS sendiri. Siapa yang tidak memilih Partai Republik yang menjagokan Bush, ya warga AS sendiri. Mereka menilai, pemimpin ini tidak benar dan yang ini benar. Nah, itu lah kebenaran, dia tidak bisa ditutup oleh ruang besi atau tembok informasi yang dibeking media yang pro pada salah satu pemimpin.
Jika Bush bermuka dua, alias melakukan standar ganda dalam kebijakan politiknya, maka sangat mudah menilainya. Itu salah alias munafik. Siapa pun dapat menilainya soal standar ganda ini, mengapa Bush membiarkan serangan Israel ke Palestina dan Libanon sementara perlawanan Palestina dinilai salah. Murid SD pun tahu, mana yang salah dan benar, walau media berusaha membungkusnya dengan gaya bahasa yang sedikit membela kesalahan itu —terkecuali media yang netral.
Mereka yang melawan tekanan Israel disebut teroris. Mereka yang melawan tekanan AS di Afghanistan disebut militan teroris. Mereka yang melawan pendudukan AS di Irak, disebut militan haluang radikal. Sampai-sampai yang berjihad dengan pemahaman agama yang diamalkannya, juga disebut teroris. Bahkan pendidikan di pesantren di Indonesia dinilai telah melahirkan para teroris. Wah, ini keterlaluan. Bisa-bisa orang saleh itu disebut teroris.
Jangan biarkan pemutarbalikkan paradigma berpikir itu terjadi. Pakai jenggot itu disunahkan, bukan ciri teroris. Jihad itu ajaran agama, bukan teroris. Setiap Muslim diberi kebebasan menafsirkan makna jihad, yang salah adalah yang menyalahkan penafsiran orang lain.
Penafsiran seseorang itu belum tentu benar, bahkan para sahabat rasulullah itu sendiri banyak yang berbeda pendapat, tapi semuanya dinilai sebagai rahmat. Kalau sampai menafsirkan makna ajaran agama itu sendiri dilarang oleh seorang pimpinan negara adikuasi, bahkan diklaim teroris itu lah yang salah.
Kemarin Duta Besar AS menyatakan pengawalan Bush itu dilakukan dikarenakan di luar sana banyak orang gila. Siapa yang gila? Orang Indonesia yang jelasnya, dan minimal yang ada di Bogor tak sampai ke Riau.
Ini keterlaluan. Kita dinilai gila. Dilarang berpendapat oleh orang lain, dan diharuskan ikut berpikir dengan paradigma berpikirnya. Sifat dasar manusia, dia tidak bisa dilarang peduli dengan bangsa lain, tidak bisa dilarang berbeda pendapat, dia tidak bisa dilarang untuk bersikap dan sejumlah larangan yang universal lainnya.***

Menebar Bakti Menuai Janji (Catatan Sewindu PAN, 23 Agustus 1998-2006)

Bila tidak karena tayangan sinetron selebriti Trans TV juga manusia episode selingkuh politik, kemungkinan Partai Amanat Nasional (PAN) tidak dibuat heboh. Menariknya, tetangga saya belum tahu jika Ketua Umum PAN tidak lagi tokoh reformasi yakni Amin Rais. Inilah realita yang terjadi pada PAN sekarang kelahirannya dikenal sebagai wadah tokoh akademis dan pejuang reformis sekarang lebih tersosialisasi karena infotaiment selebritis. Terlepas apakah hanya sekadar gosip murahan, yang jelas PAN menghadapi uji tantangan zaman.
Sewindu sudah usia PAN yang dilahirkan dari gua garba saat denting berkecamuknya era reformasi. Ketika itu 23 Agustus 1998 jabang bayi PAN ‘’ditimang’’ dan diharapkan oleh berbagai elemen masyarakat menjadi solusi atas kompleknya problem bangsa. Sinar terangnya diimpikan bisa menerangi gelap gulita Indonesia.
Ternyata harapan itu belum dapat ditunaikan setidaknya jika PAN dilihat dari tahapan tiga uji yakni; Pertama, uji Pemilu 1999 meskipun polling yang dikutip Lances Castles pada waktu itu PAN diprediksikan dapat menguasai 45 persen faktanya pada pemilu multi partai itu PAN hanya mampu memperoleh 7.528.956 suara, jelas sangat kontradiksi jika dibandingkan dengan riuh dan gegap gempita saat deklarasi 23 Agustus 1998 di Istora Senayan Jakarta delapan tahun silam.
Uji kedua pada Pemilu 2004 hasilnya PAN justeru turun peringkat dari 5 besar menjadi 7 besar. Bersyukur masih ada keberuntungan berpihak dengan PAN dimana dengan sistem Pemilu proporsional terbuka meskipun peringkat turun tapi perolehan jumlah kursi di DPR RI naik menjadi 53 dari 34. Ketiga, pada Pemilu Presiden secara langsung Amin Rais-Siswono Yudohusodo pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden yang diusung oleh PAN tidak lolos masuk ke putaran kedua. Dari ketiga tahab uji inilah PAN memperoleh pelajaran yang sangat berharga.
Sebagai partai yang lahir dari pemikiran cerdas para kaum cendikiawan. PAN tidak mau larut dalam suasana pesimis walau tiga uji yang dilaluinya kurang memuaskan. Maka dengan ikhtiar dan pertimbangan yang mendalam dengan berani PAN pada puncak musyawarah tertinggi dengan mantap melalui Munas PAN di Semarang sang tokoh reformasi Amin Rais mengestafetkan tampuk Ketua Umum PAN . Maka terpilihlah secara demokratis Sutrisno Bachir, pengusaha dari Pekalongan. Sebuah regenerasi yang diandalkan untuk dapat menyegarkan kembali gairah dan ghirah PAN seperti pada saat kelahirannya penuh semangat harapan serta penuh motivasi dalam mengawal perjuangan nasib bangsa.
Dengan regenerasi kepemimpinan bermakna saat ini PAN pada kondisi uji keempat. Jika PAN ingin tetap eksis dan berjaya di medan tempur politik, maka seluruh kader PAN wajib melakukan evaluasi terhadap kondisi PAN pada tiga masa uji yang telah dilalui. Dengan terbuka PAN harus mengakui kekalahan demi kekalahan baik dalam Pemilu legislatif dan Presiden serta segala sesuatu yang membuat tak kunjung menjadi partai besar, kita jadikan bahan renungan, pelajaran maka doktrin mutlak mesti dapat dicarikan jalan keluarnya demi masa depan kita bersama.
Adalah sebuah strategi tetapi juga taruhan besar di kala PAN sepakat untuk meregenerasikan PAN dari sang tokoh menjadi konsep kolektif kolegial. Pilihan Amin Rais lengser dari Ketua Umum PAN digantikan Sutrisno Bachir adalah puncak menuju uji keempat. Keberhasilannya secara terukur akan terlihat pada Pemilu 2009 yang akan datang. Di samping itu jangan sampai mengeyampingkan indikator keberhasilan yang tak terukur di antaranya menjaga imej partai sebagai wadah perjungan untuk menyuarakan kepentingan rakyat. Indikatornya dapat dilihat dari berbagai faktor misalnya peran, kiprah dan keberpihakan kepada rakyat oleh pengurus PAN di berbagai tingkatan (DPP, DPW, DPC, DPRt) terutama kader partai baik yang menjadi pejabat eksekutif maupun legislatif. Yang tidak kalah penting juga membangun sistim atau mekaniseme internal partai.
Dengan cara inilah PAN akan menjadi tempat pencelupan (sibghoh) para politisi yang akan dapat diandalkan sebagai pejuang, lokomotif politik untuk memperbaiki Indonesia di masa sekarang dan mendatang. Jika beberapa indikator ini terlihat nyata telah dilaksanakan dengan baik oleh PAN maka Insya Allah uji keempat akan dilalui dengan senyum kemenangan bersama rakyat Indonesia.
Sebaliknya jika pada tahapan menuju uji keempat ini tidak ada nilai plus, kurang memiliki daya jual dibandingkan dengan partai yang lain maka jangan saling menyalahkan jika PAN akan menjadi sebuah kenangan manis sebagai partai yang lahir karena derasnya tuntutan reformasi tidak lebih dari itu. Sebab rakyat sekarang terus melihat dan tak segan memberikan garis hitam pada partai yang berpihak kepada kepentingan pengusaha dan penguasa dengan mengeyampingkan tangisan, penderitaan rakyat yang nota bene adalah pemilihnya.
Akhirnya, dengan memperingati sewindu PAN, hendaknya semua kader PAN melakukan perenungan mendalam untuk kemajuan sekarang dan masa depan PAN. Hasil perenungan hendaknya dijadikan sebagai bahan pemecahan masalah demi kemajuan PAN untuk kemakmuran dan kesejahteraan bangsa.
Sebagai kader PAN mari bergandeng bersama untuk menebar bakti menuai janji, bukan menebar janji untuk merebut kursi. PAN tetap diharapkan menjadi tumpuan pemecah persoalan bangsa. Konsep cerdas PAN tanpa aksi tidak akan menghasilkan apa-apa. Nawaitu yang mulia tanpa disertai kinerja ril tidak akan bernilai sama sekali, tidak lebih dari sekadar bual beso, hanya sekadar retorika menarik di secarik kertas. Selamat Ulang Tahun ke-8 PAN, semoga berjaya.***

Bagus Santoso SAg MP, Wakil Ketua DPW PAN Riau, Wakil Ketua DPRD Bengkalis.

Menantang Para Elite Parpol

Sebagai seorang dari jutaan pengurus partai politik (parpol) di Indonesia saya tergelitik dengan Tajuk Rencana Riau Pos (26/4) dengan judul Pembusukan Partai Politik. Pada salah satu alenia ditampilkan sebuah ungkapan ‘’Tidak ada ikan busuk mulai dari ekor, yang sering terjadi busuk dari kepala’’. Saya tidak pada posisi untuk setuju atau tidak dengan ungkapan tersebut, namun kalau kita ambil alur pikir paling sederhana pastilah lebih banyak yang sependapat.
Saya menerima catatan adanya sederet catatan miring yang terus mengiringi kelahiran sebagian besar parpol di negeri ini. Tentu saya juga beragumentasi dengan menawarkan bukti-bukti keberhasilan, tidak dipungkiri lahirnya parpol di era reformasi telah membawa dan mengubah kebebasan berdemokrasi. Memang saling tarik menarik kepentingan dan berebut pengamanan, pengaruh dan kekuasaan menjadi bumbu sedap pada setiap konflik, baik eksternal maupun intenal parpol. Betapa bergejolak, suhu politik meninggi. Lihat saja saat penetapan calon legislatif pada Pemilu 2004. Pemicunya karena sistim Pemilu yang banci meskipun proporsional terbuka tetap ‘’Memilih kucing dalam karung’’.
Diakui sistem parlemen di Indonesia sudah berubah dengan ditandainya pelantikan anggota parlemen hasil Pemilu 2004, tepatnya 1 Oktober 2004. Dimana anggota MPR hanya terdiri dari DPR dan DPD karena Utusan Golongan dan Daerah dihapus. Yang bermakna perwakilan politik tidak lagi diarahkan kepada MPR melainkan kepada DPR dan DPD. Meski DPR, DPD, sama-sama di pilih rakyat dalam pesta demokrasi Pemilu, tetapi berbeda proses teknis pemilihan serta hasil akhirnya.
Seseorang berhasil duduk di kursi DPR rata-rata karena diuntungkan oleh sistim proporsional daftar terbuka pada pemilu 2004. Sedangkan DPD dipilih dengan sistim distrik berwakil banyak. DPD berhak duduk di parlemen karena murni pilihan rakyat sedangkan DPR duduk karena berhasil merebut rangking ‘’jadi’’ tersebab faktor legitimasi sebuah peraturan perundang-undangan. Nomor urutan perangkingan menjadi rebutan dan penentu duduk dan tidaknya caleg. (Catatan se-Indonesia hanya ada dua orang yang memenuhi bilangan penuh).
Maknanya menurut pendapat sahabatku Riza, meskipun negara ini telah mengubah paradigma sentrilistis menjadi desentralisasi tetapi parpol masih berlagak dengan mempertahankan sistim sentralistis, tongkat komando, jauh dari konsep otonomi. Maka rasanya peluang berharap parpol sebagai rumah yang nyaman akan jauh panggang dari api. Karena pengurus kabupaten, provinsi tidak punya kuasa untuk menolak sebuah intruksi dari pengurus Jakarta. Hal yang sama meskipun ada parpol yang menandatangani surat di atas meterai siapa banyak suara dia yang menang kandas dengan dalih batal demi hukum.
Pembelaan yang berlebihan terhadap pimpinanan parpol tanpa menghiraukan benar dan salah dari sudut agama atau hukum, proses penetapan calon kepala daerah menjadi salah satu bukti begitu kuat tangan besi pengurus setingkat di atas via sebuah surat keputusan, juklak, petunjuk organisasi atau apapun namanya yang jelas-jelas tidak memberikan pembelajaran untuk mandiri.
Mari kita tantang para elite parpol, apakah mereka akan rela mengubah sistim Pemilu 2009 mendatang dengan distrik berwakil banyak? Hampir dapat dipastikan kalaupun diambil voting, maka akan lebih banyak mempertahankan suasana politik seperti pada Pemilu 2004. Logikanya kalau mau bermain fair sistim pemilu yang lebih mengakomodir kepentingan politisi lokal dengan sistim distrik berwakil banyak seperti pemilihan DPD. Siapa dapat suara banyak meskipun hanya lebih satu angka dia berhak atas sokongan tertinggi dari rakyat yang memilih.
Sekali lagi, sanggupkah elite politik menerima perubahan ini, sehingga tidak ada lagi mengenal istilah nomor jadi dan nomor sepatu, tak ada lagi ditinggikan seranting dilebihkan selangkah. Kedudukan antara pengurus teras dengan pengurus kelas serambi sama saja, kecuali tidak lebih dari sekadar sebagai pemandu perahu. Nilai ketua dengan seksi perlengkapan sama-sama nol, yang akan menambah dan mengurangi nilai dalam pencalonan legislatif rakyat yang dibinanya. Ada juga usulan dengan sedikit memberikan penghargaan kepada pengurus teras dengan mempertimbangkan perolehan angka 50+1 dari jumlah bilangan suara.
Makna hakiki demokrasi tertinggi adalah dengan lapang dada mengakui siapa saja yang memperoleh pengakuan lebih dari suara rakyat, walaupun hanya selisih atau unggul satu angka. Kita akan lihat bersama mana saja parpol yang berani mendobrak tradisi ”membeli kucing dalam karung”, meninggalkan sistim akal-akalan menjadi distrik berwakil banyak. Jika seluruh parpol memilih langkah berani ini hampir dipercayai tidak akan ada intimidasi, jegal menjegal baik antar-inter parpol.
Belajar dari Pemilu 2004, dimana hingga sekarang masih terasa panasnya persaingan dalam memperebutkan suara mencuri simpati rakyat. Sedihnya justeru konflik menajam diketahui di dalam tubuh parpol. Saling melabrak, black campaign, manipulasi data hingga saling gontok-gontokan. Apa yang terjadi? Dapat ditamsilkan jangankan mengurus kepentingan rakyat, mencuci dan mengosok baju sendiri saja masih repot.
Jika demikian tidak menutup peluang seperti yang diungkapkan Tajuk Rencana Riau Pos kebencian rakyat terhadap parpol akan membuncah seperti bendungan yang jebol karena tak sanggup menahan luapan air bah, semoga tidak terjadi. ***

Kegamangan Proyek Pemerintah

Proyek adalah kegiatan investasi yang menggunakan faktor-faktor produksi untuk menghasilkan barang dan jasa dengan harapan mendatangkan manfaat, keuntungan pada suatu saat tertentu. Sedangkan di antara ciri-ciri proyek tersebut memiliki titik awal dan titik akhir serta dapat dikenali karena terkait erat dalam pencapaian tujuan. Proyek disebut selesai jika telah menghasilkan output serta keberhasilnnya diukur dengan jumlah output yang ditargetkan dengan biaya dan waktu.
Di Riau proyek pemerintah diserakkan di kabupaten/kota setiap tahun jumlah dan nilainya sangat luar biasa. Sayang hampir di setiap jenis proyek pemerintah menuai permasalahan, merata dari proyek pelayanan kepentingan umum (air minum, jalan, jembatan, listrik, bendungan, pelabuhan), proyek peningkatan teknologi pendapatan (irigasi, penyuluhan pertanian), proyek pemenuhan keperluan spiritual (masjid) hingga proyek penguasaan teknologi tinggi.
Berawal dari banyaknya laporan masyarakat; keluhan, kritikan bahkan kemarahan kepada eksekutif dan legislatif terutama saat kunjungan kerja (kunker), sebagai masyarakat merasa dirugikan walau kapasitasnya sebagai penerima proyek. Penyebabnya proyek yang dibangun tidak beres, jalan semen tumbuh besi, masjid digenangi air dan lumutan karena bocor, bangunan sekolah bertingkat megah tetapi atap dan tangga tidak ada, bangunan pasar amblas ditelan bumi padahal belum dipakai, drainase justeru mengundang banjir, bangunan mesin teknologi tinggi tapi tak dapat digunakan dan kisah amburadul lainnya.
Darimana kita mengurai meski dibilang klasik tapi sebenarnya sangat kronis. Mengapa masyarakat yang seharusnya senang mendapat proyek malahan berbalik marah dan kecewa? Sengaja saya tidak mulai dari perencanaan dan identifikasi proyek tetapi langsung pada tahaban pelelangan. Pertama, dari proses awal pelelangan, kontraktor mengajukan penawaran terendah, lalu ditetapkan oleh panitia sebagai pemenang tender. Pada batasan ini sangat positif, panitia tidak dibebani tekanan dan kecil kemungkinan mendapat sanggahan. Proses pelelangan dipercaya bebas dari praktik kolusi. Keuntungan lain negara mendapat uang kas masuk dari sisa lelang banting harga.
Sisi negatifnya, meski bukan pedagang, kontraktor tetap akan memakai rumus ekonomi membangun dengan menekan sekecil-kecilnya pengeluaran untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Karena dalam penawaran sudah banting harga maka berbagai langkah digunakan untuk mengejar target yang penting pekerjaan selesai. Maka hasil akhir diperoleh proyek kualitas jeblok, tidak tahan lama, asal-asalan. Siapa pihak yang dirugikan? Tentu si penerima proyek, yakni masyarakat yang nota bene adalah pemilik proyek sebenarnya. Sementara itu meski pemenang tender bukan si pembanting harga, namun pekerjaannya juga terbengkelai. Padahal di balik kemenangan pada proses tender begitu banyak melibatkan pihak-pihak lain. Belum lagi panitia harus menjelaskan berkali-kali dasar dan alasannya. Pada situasi demikian indikasi dan peluang praktik KKN antara peserta lelang dan atau dengan anggota panitia terbuka lebar bahkan tidak jarang diiringi intimidasi.
Kedua, pejabat Pembuat Komitmen (PK) kelelahan melaksanakan tugasnya karena terlalu banyak kegiatan yang ditangani. Dapat dibayangkan betapa repot dan kekurangan waktu jika satu PK menangani puluhan kegiatan apalagi kegiatan itu berada di beberapa kecamatan (pulau). Sedangkan kendala yang dihadapi satuan kerja di antaranya terletak tidak memiliki PK yang memadai. Dengan kondisi ini kontraktor bekerja tanpa pengawasan dan kontrol yang benar dari ahlinya. Maka peluang untuk melakukan pekerjaan menyimpang terbuka lebar.
Menjamurnya kontraktor akibat dari pilihan pekerjaan yang dinilai sebagai lahan pekerjaan gampang. Sebab syarat untuk membuat perusahaan begitu mudah dan terbuka bagi siapapun. Seiring dengan itu bermunculan perusahaan barang dan jasa tanpa dilengkapi perangkat, latar belakang dan pengalaman layaknya seorang kontraktor. Budaya keliru, menyubkontrakkan, pakang proyek (baca: jual beli dengan fee) buruk akibatnya. Di samping tidak bertanggung juga membawa citra buruk terhadap asosiasi barang dan jasa. Sementara kontraktor dengan pengalaman, skil sengaja tidak muncul karena harga tidak sesuai dengan perhitungan. Disamping itu munculnya kontraktor kelas pemula dengan modal dengkul, dan bekerja jika uang muka terjamin maka menambah deretan suramnya cerita buruk dunia kontraktor.
Ketiga, mepetnya waktu pelaksanaan di lapangan, kondisi ini terjadi karena berbagai faktor, namun molornya pengesahan APBD merupakan salah satu penyebab utama. Jika pengesahan APBD pada tiga bulan anggaran berjalan maka proses pelaksanaan di lapangan tidak sampai satu bulan. Yang terjadi pekerjaan tidak selesai sementara Desember sudah tutup tahun. Padahal jika pengesahan APBD lebih awal masih cukup waktu untuk perpanjangan sehingga pekerjaan masih bisa dilanjutkan menjelang tutup buku di akhir tahun.
Agar tercapai tujuan dari pembangunan maka perlu tindakan tegas dan sanksi hukum kepada kontraktor yang tak bertanggung jawab. Tindakan black list terbukti tidak ampuh karena hanya untuk perusahaan tetapi tidak pada direkturnya. Maka ketika perusahaan kena black list akan membuat perusahaan baru dengan berubah nama bendera lain. Satu hal yang tidak kalah penting untuk dilaksanakan yakni sudah saatnya menghilangkan faktor non teknis yang sukar dilacak tetapi benar adanya yaitu cost terselubung. ***

Bagus Santoso SAg MP, Wakil DPRD Bengkalis.

Keterlambatan Ketok Palu

Setiap hari, terutama satu bulan terakhir ini saya mau tidak mau harus menyisihkan waktu untuk menjawab pertanyaan setengah menodong baik yang disampaikan secara lisan atau melalui Handphone atau SMS ‘’Bile ketok palu’’ (sebuah istilah di Bengkalis yang berarti kapan disyahkan APBD). Saya dapat memastikan pekerjaan tambahan ini juga menimpa pada rekan-rekan di legislatif maupun di eksekutif.
Seberapa berpengaruh dan segenting apakah arti ketok palu (baca: pengesahaan APBD) itu terhadap kehidupan masyarakat? Mengutip Edaran Mendagri No.903/2429/SJ tentang perihal pedoman penyusunan APBD tahun Anggaran 2006 dan Pertanggungjawaban pelaksanaan APBD anggaran 2005 menyatakan: APBD merupakan sarana dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat untuk tercapainya tujuan pelaksanaan otonomi daerah. Terlambatnya penetapan APBD akan dapat menghambat pemberian pelayanan kepada masyarakat, penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan daerah yang pada akhirnya dapat menyengsarakan kehidupan masyarakat.
Hampir dapat dikatakan bahwa; bagi masyarakat kepulauan Bengkalis makna ketok palu adalah gairah hidup dan kehidupan. Tidak aneh jika setiap sudut kota sempat muncul puluhan spanduk yang isinya mendesak pemerintah agar ketok palu dipercepat. Sangat terasa suasana menjelang ketok palu ibarat nafas kehidupan tersengal-sengal dan nyaris semput. Dahsyatnya ini diakui hampir merata pada seluruh masyarakat. Pengusaha material tidak laku, kontraktor jelas tak dapat begerak, pegawai mengeluh tunjangan insentifnya belum terbayar, pegawai honor sudah menjerit histeris karena masuk bulan keempat belum terima gaji. Ratapan dan sayup keluh kesah dari tukang becak, penjual sayur, kedai kopi hingga penjual nasi ramas, mieso dan lontong.
Saya kurang tahu apakah hal semacam ini juga terjadi di daerah lain. Jika sama dengan Bengkalis maka apa yang dinyatakan Mendagri sangatlah sahih terlambat ketok palu sama dengan menyengsarakan rakyat. Namun tidak perlu kita terburu-buru untuk mengatakan itu benar adanya. Betul jika itu dikaitkan dengan pelayanan dan penyelenggaraan pemerintah. Tetapi tentu akan berbeda jika dilihat dari sudut perekonomian, dimana pada perekonomian senantiasa terdapat pelaku-pelaku ekonomi yang secara garis besar terpilah menjadi dua kelompok yaitu produsen konsumen, pemerintah dan swasta. Pergerakan roda perekonomian itu terbukti eksis di daerah-daerah yang mempunyai kekuatan perkebunan, pabrik, kuatnya peranan pasar jasa dan barang sehingga boleh dikatakan tidak berkorelasi positif dengan ketok palu.
Sebelum zaman merkantilisme, masalah ekonomi yang timbul hanyalah, bagaimana mencukupi hidup berumah tangga. Maka akan tidak sehat jika lingkaran pendapatan bukan produksi tetapi ketok palu yang menghasilkan pendapatan. Padahal seyogyanya pendapatan pasti akan mencipatakan pengeluaran. Dan pengeluaran akan mendorong rumah tangga bisnis untuk melaksanakan proses produksi. Maka akan tidak berkembang pereokoniman zaman dulu dan zaman sekarang jika ketergantungan ketok palu hanya sekadar untuk mencukupi keperluan harian. Lalu dimana letak kesalahan sehingga dapat diperbaiki?
Ketok palu justeru akan bertambah runyam jika yang dimunculkan lebih kepada tidak siapnya legislatif atau eksekutif bukan kepada sejauhmana keberhasilan menggairahkan usahawan serta kegiatan-kegiatan pembangunan yang sudah dilaksanakan. Seberapa kuat daerah merangkul investor menjadi betah (baca: menanamkan modalnya) kemudian hasil apa yang dicapai dari setiap kegiataan yang dilaksanakan oleh masing-masing kantor, dinas teknis serta diukur kembali tingkat keberhasilan Program Ekonomi Kerakyatan (PEK) yang diprogramkan.
Jika keterlambatan yang dipermasalahkan, jalan keluarnya sudah jelas yaitu tidak lain dan tidak bukan konsistensi antara pihak esekutif dan legislatif untuk melaksanakan rancangan anggaran pembangunan sesuai Surat Edaran Mendagri yakni penyampaian Ranperda paling lambat pekan pertama Oktober. Selagi konsistensi belum dilaksanakan maka percayalaha meskipun pagi, siang, petang hingga malam hari bekerja pembahasan itu tetap akan terlambat. ***

Rindu Harum Ramadan

Kendati sepekan lagi kita memasuki Ramadan. Namun wangi harum Ramadan sudah mulai terasa. Bukan hanya wangi kue, tetapi suasana menyambut Ramadan sudah mulai terasa, mulai dari persiapan balimau kasai dan lain sebagainya.
Sebagaimana dalam hadits tersebut, bahwa surga rindu pada empat orang: pertama orang yang gemar membaca Alquran, orang yang menjaga lidahnya --hanya berkata baik, menghindari berkata jelek. Ketiga, pemberi makan orang-orang yg lapar dan keempat orang yang berpuasa di bulan Ramadan --Tentunya orang yang benar-benar puasa, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga.
Yang gembira menyambut Ramadan ini bukan hanya Muslim di Bengkalis, tapi juga Muslim Bosnia, Amerika, Cina, Jepang dan umat Islam di pulau-pulau terpencil yang tidak kita ketahui.
Bagaimana sikap kita menyambut Ramadan? Pertama, berdoalah agar Allah SWT memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu dengan Ramadan dalam keadaan sehat wal afiat. Sebab dengan modal sehat ini kita melaksanakan ibadah puasa, salat, membaca Alquran zikir dan sejumlah amalan lainnya.
Kedua, bersyukurlah dan puji Allah SWT atas karunia Ramadan yang kembali diberikan kepada kita. Sebab, tidak semua orang diberi rahmat berjumpa dengan Ramadan. Bagaimana bentuk syukur tersebut? Menjalankan ibadah puasa sebaik mungkin.
Ketiga, bergembiralah dengan kedatangan Ramadan. Rasulullah dan para sahabat selalu menyambut gembira di saat kedatangan Ramadan, yakni bulan yang penuh rahmat dan kebaikan.
Keempat, rancang agenda kegiatan untuk mendapatkan rahmat selama Ramadan. Bulan suci ini waktunya sangat singkat, karena itu isi setiap detiknya dengan amalan yang berharga, untuk membersihkan diri dan mendekatkan diri pada Allah SWT.
Kelima, bertekadlah mengisi Ramadan dengan ketaatan. Puasa wajib Ramadan ini menguji kejujuran kita pada Allah SWT, sebab tidak ada satu orang pun yang tahu tentang puasa kita. Bisa saja kita mengaku puasa di hadapan keluarga, teman dan orang lain, tapi kita sendiri tidak puasa. Makanya, soal pahala puasa ini hanya Allah lah yang mengetahuinya.
Keenam, pelajari hukum-hukum semua amalan yang terkait dengan ibadah puasa di bulan Ramadan, sebab ibadah yang disertai ilmu tentang ibadah itu sendiri, itu jauh lebih baik dibandingkan orang yang beribadah tanpa memahami maknanya. Contohnya saja salat, banyak orang salat tetapi makna salatnya belum mampu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Demikian juga ibadah puasa perlu dipelajari, agar puasa kita benar-benar bermanfaat.
Ketujuh, sambut Ramadan dengan satu tekad yakni untuk meninggalkan dosa dan kebiasaan buruk. Ramadan adalah bulan taubat, maka bertekatlah untuk meninggalkan seluruh perbuatan yang buruk.
Kedelapan, siapkan dan isilah jiwa dengan bacaan-bacaan yang mendukung proses tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa). Pada bulan Sya'ban ini sebenarnya banyak amalan yang bisa dilakukan sebagai proses awal latihan bagaimana menyambut Ramadan, misalnya puasa nisfu Sya'ban dan amalan lainnya, sehingga secara mental kita siap untuk melaksanakan ketaatan pada bulan Ramadan.
Kedelapan, siapkan diri untuk berdakwah di bulan Ramadan. Banyak cara berdakwah, sesuai dengan posisi masing-masing kita di masyarakat. Jika seorang petani tetap bekerja dan tidak mengeluh kedatangan Ramadan, itu adalah bagian dari dakwah. Dakwah tidak hanya di masjid, di pasar, di bus dan di mana pun bisa. Bahkan dakwah yang lebih membumi adalah sebagaimana dilakukan Rasulullah, di mana saja beliau berada selalu menjadi contoh.
Kesepuluh, sambutlah Ramadan dengan membuka lembaran baru yang bersih. Kepada Allah marilah kita lakukan tobat nashuha (tobat yang sebenar-benarnya, tidak akan mengulangi pekerjaan buruk itu lagi). Kepada orang tua dan keluarga, marilah kita jaling tali silaturahmi dan kepada masyarakat bertekat menjadi orang yang bermanfaat bagi mereka, sebab orang yang paling baik adalah orang yang paling bermanfaat.
Insya Allah dengan kesiapan yang matang menyambut Ramadan ini, kita akan memperolah rahmat dan ampunan dari Allah SWT.
Memang saat ini banyak tradisi sebenarnya baik diakukan menjelang Ramadan, seperti petang megang atau mandi limau dan sejenis, dengan sebagai lambang untuk membersihkan diri kita menyambut Ramadan, tapi sayang tradisi disalahartikan, dengan acara-acara yang merusak makna Ramadan itu sendiri, seperti dengan goyang dangdut, pacaran dan lainnya.
Namun itulah kenyataanya. Kita tidak bisa menyalahkan begitu saja, sebab sebatas itulah pemahaman mereka dalam menyambut Ramadan. Artinya tanggung jawab kita bersama untuk mengingatkan agar kelakuan salah tidak perlu dilakukan lagi. Banyak cara yang islami dalam menyambut Ramadan.***

Bagus Santoso, warga Bengkalis.

Rabu, 25 Juni 2008

Jangan Terjebak Harta

Tatkala seseorang kaya raya, jangan bayangkan berarti hidupnya makin nikmat, bisa saja dia kesulitan tidur (insomania) karena memikirkan hartanya. Sementara mereka yang hidup sederhana bekerja sebagai petani, di malam hari bisa tidur nyenyak. Demikian pula mereka yang memiliki banyak ilmu, jangan dipikir hidupnya tenang, sebab ilmu yang dikuasai tidak menjamin akan menentramkan jiwanya tanpa amal ibadah yang seimbang.
Kehidupan yang sebentar ini --rata-rata hidup manusia setengah abad (50 tahun)-- sering dimaknai sebagai kehidupan yang abadi, sehingga rutinitas kehidupan sering menjadikan dirinya abai pada perintah Allah SWT. Mereka yang terjebak rutinitas, memaknai hidup hanya untuk hidup, bukan hidup ini untuk ibadah, maka jangan heran kalau mereka mengidap penyakit stress, sebab kerja untuk kerja, bukan kerja untuk ibadah.
Bagi mereka yang memaknai hidup untuk ibadah pada Allah SWT, semua pekerjaan tidak akan sia-sia, bahkan ujian seberat apapun dianggap sebagai bagian dari ibadah yang sangat berarti bagi dirinya. Artinya Allah menguji dirinya, yang berarti Allah masih sayang, karena masih peduli padanya.
Walau miskin harta, mereka tidak merasa gersang hatinya. Ia yakin apa yang diberikan Allah saat ini adalah yang terbaik, mungkin saja jika Allah memberikan harta yang berlimpah, maka kemudaratan yang dia terima, seperti yang dialami Tsa'labah, sahabat Rasulullah SAW yang diuji dengan harta berlimpah sehingga dia stress sibuk mengurusi harta yang kian melimpah --dalam kasus Tsa'labah hartanya kambing yang jumlahnya terus meningkat, sehingga waktunya habis mengurusi kambing-kambingnya.
Bagi si miskin yang menyadari bahwa apa yang diberikan Allah saat ini adalah yang terbaik bagi dirinya, maka dia akan mampu bangkit dari kemiskinan. Pemahaman akan dirinya sendiri dan sang Khalik merupakan modal dasar dalam menjalani kehidupan ini, kelak dia akan menjadi orang yang beruntung, karena ia berbeda dengan orang yang minus imannya.
Mereka yang beriman walau pun miskin, akan bermanfaat bagi diri, keluarga, tetangga, kampung dan negerinya. Bahkan mampu mengubah hidupnya menjadi orang kaya, sebab dia bukan bagian orang-orang yang stress atau mabuk dunia, tetapi dia adalah bagian dari masyarakat yang sehat, masih memiliki hati nurani dan mampu membiayai hidupnya dengan keringatnya sendiri.
Sedahsyat apa pun ujian kehidupan, kalau manusia memiliki iman tak dapat disangkal lagi ia pun akan tetap bertahan. Bertahan dari segala terpaan hidup yang menindas dan mengakibatkan dirinya diliputi kepiluan yang mendalam. Ketika dirinya berhadapan dengan "virus kemiskinan", dari jiwanya muncul kesiapan untuk menantangnya dan tak diliputi kegelisahan yang terus menerus menghinggapi diri. Sebab, sudah sejak awal tertanam dalam jiwa nama Allah yang dijadikan sebagai bentuk terapi bagi penyembuhan gangguan jiwa itu.
Sering muncul anggapan mereka yang zuhud dianggap menjauhi kehidupan dunia, padahal mereka yang zuhud itu adalah mereka yang memberikan hak-hak kaum miskin atau du'afa, jadi bisa saja dia kaya namun tidak memaknai hartanya akan dibawa ke akhirat. Sebab harta yang dimiliki hanya milik Allah SWT, oleh karena itu harus ermanfaat, bukan ditumpuk menjadi pundi-pundi yang menggunung bagai Qorun yang mati karena hartanya sendiri.
Padahal kehidupan jasad (duniawi) waktunya terbatas, sementara kehidupan ruhaniah itu lebih lama. Jasad mengenal rasa lelah, mengantuk, penyakit dan keperluan tidur, tidak demikian dengan ruh. Jasad terikat jam-biologis, tapi ruh adalah dimensi bebas segala keterikatan atas dinamika bendawi.
Seseorang yang biasa tidur siang atau malam pukul 21.00, ketika suatu saat tidak tidur siang atau tidur larut malam akibat sibuk kerja atau sebab lain, badannya terasa nyeri atau serba idak enak. Situasi demikian tidak dialami ruh yang tak mengenal dan tidak dikenai waktu historis dan hukum mekanis jasad-tubuh tersebut.
Orang-orang kaya harta dan kuasa seringkali hidupnya kosong dan hampa karena kehilangan kekayaan ruhaniah dan spiritual. Mereka yang kaya harta, kuasa dan ilmu, sering mahal senyum dan stres berat, tanpa banyak pilihan, kecuali mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Manusia terperangkap dalam mekanisme bendawi serba terbatas. Sementara banyak orang yang tiap hari makan sekali bekerja keras sehari suntuk di bawah terik matahari, bisa besenda gurau dan tidur lelap malam hari berselimut awan. Mari kita bertanya pada diri sendiri: Apa sebenarnya yang kita cari dengan segala daya dalam kehidupan ini?
Sebenarnya miskin dan kaya adalah fenomena yang wajar, sebab roda dunia terus bertukar, bisa saja hari ini kita kaya raya, namun esok hari siapa tahu? Yang menjadi masalah adalah kegersangan jiwa manusia yang melanda si miskin dan si kaya. Karena kegersangan jiwa si miskin akan melakukan apapun yang diharamkan. Demikian juga bagi si kaya, ia semakin haus harta dan apapun dilakukan demi harta, bukan karena mencari rida Allah. Maka jangan heran, kalau si miskin menjarah harta si kaya dan si kaya menjarah harta si miskin. Sehari-hari kita sering mendengar, si miskin mencela si kaya atau sebaliknya yang kaya tidak ambil peduli pada kemiskinan.
Fenomena bencana alam yang menimpa sebagian negeri ini, pemutusan hubungan kerja, terbatasnya daya serap tenaga kerja baik PNS maupun swasta, membuat jumlah angka kemiskinan terus melangit, kegersangan jiwa yang dialami sebagian mereka, kemungkinan akan menyuplai angka tindak kriminal.
Kegamangan pejabat negera akan terimplementasi dalam kebijakkannya, sebab dalam membuat keputusan lebih dominan mengedepankankan kepentingan kelompok, demi ini dan demi itu, bukan demi Allah SWT. Sangat wajar, kalau aksi-aksi demo yang menentang kebijakan negara ini terjadi saat ini karena kebijakan itu kurang bermanfaat bagi umat. Dasar berpijak mereka hanya dunia, bukan azas manfaat bagi umat sebagaimana diajarkan Islam yakni rahmatan lil 'alamin.
Pemahamanan sekuler --pemisahan kehidupan dunia dan akhirat-- berdampak pada perbuatan kita sehari-hari. Padahal antara dunia dan akhirat itu sejalan, kehidupan dunia merupakan peluang untuk berinvestasi di akhirat. Bekerja bukan berarti tanpa arti, tetapi adalah bagian dari ibadah dan menabung amal di akhirat. Misalnya, jika kita memiliki uang Rp1.000, kalau kita belikan rokok paling dapat satu batang dan dalam waktu lima menit habis, namun kalau kita infakkan atau dimanfaatkan pada hal-hal yang berguna maka menjadi investasi kita di akhirat. Semakin banyak uang yang kita sedekahkan, maka semakin banyak pula investasi kita perolah di akhirat kelak. Investasi akhirat tidak memerlukan dana, cukup hati dan perbuatan. Sangat mudah, tetapi hanya sebagian manusia yang mau berinvestasi untuk akhirat.
Bencana yang menerpa bangsa ini merupakan peluang bagi kita untuk berinvestasi di akhirat. Jumlah warga miskin yang terus membengkak saat ini merupakan peluang untuk berinvestasi di khirat. Caranya, bantu mereka keluar dari kubangan kemiskinan. Bahkan anak kita itu juga merupakan peluang bagi kita untuk berinvestasi di akhirat, yakni menjadikan mereka anak saleh, sehingga kelak akan mendoakan kita dan meringankan azab kubur.
Artinya segalanya yang diciptakan Allah ada manfaatnya termasuk bencana alam, kemiskinan, kebodohan, merupakan tantangan bagi kita untuk berinvestasi di akhirat. Jangan tunggu besok untuk berinvestasi akhirat, lakukan sekarang juga, selagi masih banyak orang yang memerlukan pikiran, dana dan perhatian kita. Jangan tunggu ketika orang-orang tidak memerlukan hartamu lagi, jika saat itu kamu berinfak, maka tidak ada satu pun yang mau menerimanya.***

Minggu, 15 Juni 2008

Membuka Pintu Surga

Tidak seperti biasanya, hari itu Ali bin Abi Thalib pulang lebih sore menjelang asar. Fatimah binti Rasulullah menyabut kedatangan suaminya yang sehari suntuk mencari rezeki dengan sukacita. Siapa tahu Ali membawa uang lebih banyak karena kebutuhan di rumah makin besar.
Sesudah melepas lelah, Ali berkata kepada Fatimah. "Maaf sayangku, kali ini aku tidak membawa uang sepeserpun."Fatimah menyahut sambil tersenyum, "Memang yang mengatur rezeki tidak duduk di pasar, bukan? Yang memiliki kuasa itu adalah Allah Ta'ala."
"Terima kasih," jawab Ali.Matanya memberat lantaran istrinya begitu tawakal. Padahal persediaan dapur sudah ludes sama sekali. Toh Fatimah tidak menunjukan sikap kecewa atau sedih.Ali lalu berangkat ke masjid untuk menjalankan salat berjama'ah.Sepulang dari sembahyang, di jalan ia dihentikan oleh seorang tua. "Maaf anak muda, betulkah engkau Ali anaknya Abu Thalib?"Áli menjawab heran. "Ya betul. Ada apa, Tuan?''
Orang tua itu merogoh kantungnya seraya menjawab, "Dahulu ayahmu pernah kusuruh menyamak kulit. Aku belum sempat membayar ongkosnya, ayahmu sudah meninggal. Jadi, terimalah uang ini, sebab engkaulah ahli warisnya."Dengan gembira Ali mengambil haknya dari orang itu sebanyak 30 dinar.Tentu saja Fatimah sangat gembira memperoleh rezeki yang tidak di sangka-sangka ketika Ali menceritakan kejadian itu. Dan ia menyuruh membelanjakannya semua agar tidak pusing-pusing lagi merisaukan keperluan sehari-hari.Ali pun bergegas berangkat ke pasar.
Sebelum masuk ke dalam pasar, ia melihat seorang fakir menadahkan tangan, "Siapakah yang mau menghutangkan hartanya untuk Allah, bersedekahlah kepada saya, seorang musafir yang kehabisan bekal di perjalanan."
Tanpa pikir panjang lebar, Ali memberikan seluruh uangnya kepada orang itu.Pada waktu ia pulang dan Fatimah keheranan melihat suaminya tidak membawa apa-apa, Ali menerangkan peristiwa yang baru saja dialaminya.Fatimah, masih dalam senyum, berkata, "Keputusan kanda adalah yang juga akan saya lakukan seandainya saya yang mengalaminya. Lebih baik kita menghutangkan harta kepada Allah daripada bersifat bakhil yang di murkai-Nya, dan menutup pintu surga buat kita.***