Senin, 30 Juni 2008

Melayu Bengkali dalam Ancaman Hedonisme

Bengkalis merupakan rumpun Melayu dari sebaran Melayu di Asia Tenggara. Sama dengan rumpun Melayu serantau lainnya, yakni menghadapi ancaman globalisasi, hedonisme, dan budaya lain yang mengancam puak lain.
Dengan demikian, Melayu Bengkalis berada di persimpangan jalan, mengalami kecelaruan mengungkapkan jati diri, kelesuan berpikir dalam memahami jati dirinya.
Masyarakat kebanyakan keliru dalam mengartikan makna modern, sehingga nilai pragmatisme menjadi sasaran perjuangan. Apa yang menguntungkan bagi diri dan keluarganya dalam pandangan dunia, maka itulah yang dianggap baik.
Khazanah Melayu yang penuh dengan norma-norma dan muatan budaya yang unggul tinggal hanya menjadi pusaka masa silam. Padahal semestinya menjadi refleksi diri untuk menghalau budaya yang tidak sesuai dengan budaya Melayu, bukan dijadikan pajangan semata. Budaya sudah terpinggirkan dari kehidupan sehari-hari.
Ancaman budaya asing memang tidak bisa dihalau seluruhya, ada yang berubah menjadi bagian jati diri, yakni mengalami akulturasi budaya, dan sebagian lainnya menjadi ancaman yang harus dibersihkan. Di sinilah perlunya semangat untuk menggali kekuatan dan kelemahan budaya Melayu.
Perlu dibangun dorongan membangkitkan motivasi anak-anak Melayu dari kelompok yang menerima menjadi generasi yang mencipta dan mampu mengolah kekayaan alam yang melimpah di Negeri Junjungan ini.
Generasi yang mampu mengolah sumber daya alam negeri inilah yang mampu membawa Bengkalis pada kegemilangan. Wawasan seperti ini perlu dikembangkan, sehingga generasi muda tersentak dari lamunan dan tidur panjangnya.
Diharapkan khazanah budaya yang bersandarkan syariat ini akan menjadi air minum yang dapat mengurangi rasa haus dan dapat menyegarkan pikiran generasi muda Melayu di Bengkalis.
Seharusnya Melayu Bengkalis --Riau pada umumnya-- bangga telah menjadi ikon dan basis umat Islam di Nusantara. Perasaan inilah yang memupuk semangat cintakan diri sendiri, bangsa dan agama, sekaligus perjuangan bersama menuju kejayaan.
Keinginan untuk meninjau betapa penting potensi akar budaya dalam pembangunan jati diri Bengkalis, karena keprihatinan fenomena budaya yang mengalami kikisan. Gagasan ini mengandung makna yang relevan dengan kebangkitan, kesadaran serta pemahaman nilai budaya dan agama dalam kehidupan sehari-hari.
Melayu sebenarnya etnis yang terbangun dari sumbangan alam. Kekuatan Orde Baru menyebabkan etnis ini menjadi lemah, hal ini agar dari bumi bertuah ini tidak muncul generasi cermelang. Jika orang Melayu tau bahwa dirinya adalah bagian dari budaya yang maju, sudah tentu semangat cinta jati diri sukar dibendung.
Sebalum semangat Melayu ini menyala menjadi besar, maka pemimpin Orde Baru telah meredamnya dengan undang-undang yang menyekat ruang geraknya. Akhirnya tatkala anak Bengkalis –Melayu Riau pada umumnya— ditanya tentang akar budaya bangsanya, mereka tertawa tidak tahu entah yang mana. Pemikiran seperti ini sudah lama dibangun Orde Baru dan sekaranglah terlihat dampaknya.
Setelah budaya Melayu tenggelam dalam bumi dan generasi muda Melayu pun tak lagi membanggakan budayanya, maka dengan mudah Melayu pun redup dari kehidupan.
Jangan disalahkan generasi muda jika mereka gamang dengan budayanya sendiri, sebab akar budaya pun mulai tercerabut dari kehidupan mereka. Saat ini, anak Melayu ramai-ramai meraba mencari identitas diri, kebanyakan mereka tak tahu kalau budaya Melayu sudah mengelana ke penjuru nusantara, seperti yang kita saksikan sendiri bahwa persatuan kita menggunakan bahasa Melayu. Secara tidak langsung Melayu menjadi penyatu terhadap bangsa dan daerah yang begitu luas (nusantara). Akhirnya terbukti dengan diangkatnya bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan dan kesatuan.
Bahkan ketika kejumudan menguasai nusantara, Islam telah masuk ke relung Melayu. Hal ini dibuktikan jauh sebelum berkembangnya Islam di Jawa, Riau telah merobohkan candi-candi Hindu, membuktikan Melayu lebih awal mengecap nikmatnya Islam. Untuk itu, budi menjadi aset yang besar bagi orang Melayu Bengkalis –Riau umumnya—dalam menyampaikan ideologinya. Baik menyangkut persoalan keyakinan, bahasa, sastra maupun budaya.
Ada kekuatan yang perlu dihayati, direalisasikan oleh anak Melayu Bengkalis dalam menjana (menggerakkan) motivasi pembangunan seimbang. Kekuatan tersebut adalah memahami falsafah hidupnya sendiri. Melalui cara ini, akan melahirkan dorongan baru sekaligus membina generasi cemerlang berorientasi nilai-nilai murni. Sebab Melayu sebenarnya memiliki masa silam yang sangat menarik untuk diperbincangkan.
Orang Melayu berpegang teguh dengan keluhuran budi, namun dengan masuknya ideologi asing dan kemajuan materialisme, sedikit banyaknya telah mengikis kemurnian akar fitrah budaya Melayu.
Sejarah silam bukan untuk dibangga-banggakan, melainkan untuk perbandingan dan pelajaran. Kejayaan masa lalu hanyalah memori yang memandu kehidupan kita, bukan berarti kita juga harus seperti itu. Malah mereka yang hidup di masa lalu ingin agar kita lebih hebat dibandingkan mereka. Orang Melayu yang hebat bukan membangga-banggakan warisan tetapi pada yang sama mengalami kemunduran. Tetapi Melayu yang hebat adalah Melayu berwawasan, membawa masa silam sebagai inspirasi kejayaan masa kini serta masa depan.
Di satu sisi, julukan Kota Terubuk sesuatu yang sangat memperihatinkan. Terubuk adalah sejenis ikan hanya berfungsi disantap atau dinikmati. Secara fasalahnya maka penamaannya menggambarkan bahwa orang-orang Bengkalis tak ubahnya seperti ikan terubuk yang dimakan orang, julukan ini jangan sampai meminggirkan semangat orang Melayu Bengkalis, sehingga tidak menggambarkan nilai-nilai murni dan kecemerlangan untuk daerah ini.
Ada baiknya memaknai Kota Terubuk ini kearah yang lebih positif, agar mampu mempengaruhi pikiran atau minda orang Melayu kea rah kejayaan.
Dengan pengaruh kehidupan yang semakin bersaing, diharapkan sumber insani Bengkalis mampu menempatkan diri ke posisi paling ideal. Melalaui memahami potensi akar budaya sendiri dalam memajukan diri dan daerah akan menghasilkan kejayaan cemerlang. Hal yang terpenting, kendati Bengkalis kaya dengan sumber daya alamnya yang melimpah, namun SDM tidak memahami fitrah alam, budaya dan ajaran Islam, maka kekayaan yang ada akan habis sia-sia belaka.
Kesederhanaan dalam hidup pemimpin, jujur, berpikir jernih dan runtun merupakan modal awal untuk pembangunan di Negeri Junjungan ini. Sehingga tidak memunculkan sakwasangka di kalangan rakyat. Pemimpin di Bengkalis hendaknya menjadi sahabat rakyat, sehingga tidak muncul kesenjangan yang kontras antara pemimpin dan rakyat, ini akan memunculkan kecemburuan dan kebencian. Semoga rakyat Bengkalis senantiasa bertuah.

Tidak ada komentar: