Senin, 07 Juli 2008

Buah Kesabaran dan Kesabaran

Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengaduh dan mengaduh pada ibunya, sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek.
“Anakku…,” kata sang ibu sambil bercucuran air mata.
“Tuhan tidak memberikan pada kita bangsa kerang sebuah tangan pun sehingga ibu tak bisa menolongmu. Aku tahu anakku, itu sakit sekali, tetapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu, jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu, karena hanya itu yang bisa kau perbuat,” kata ibunya dengan sendu dan lembut.
Anak kerang pun melakukan nasehat bundanya, memang ada hasilnya. Tetapi rasa sakit bukan alang kepalang, kadang di tengah kesakitannya, ia ragukan nasehat ibunya. Dengan air mata ia bertahan bertahun-tahun lamanya.
Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya, makin lama makin halus, rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar, rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.
Hingga akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna.
Penderitaannya berubah menjadi mutiara, air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini sebagai hasil derita bertahun-tahun lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang Cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.
Cerita ini adalah sebuah paradigma yang menjelaskan bahwa “kerang biasa” menjadi “kerang luar biasa”. Bahwa kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah “orang biasa” menjadi orang luar biasa”. Jadi, jika anda sedang menderita hari ini, apa pun sebabnya, bersiap-siaplah menjadi “orang luar biasa”.***

Kamis, 03 Juli 2008

Persaudaraan

Ada dua orang bersaudara bekerja bersama menggarap ladang milik keluarga mereka. Yang seorang, si kakak, telah menikah, dan memiliki keluarga yang cukup besar. Si adik masih lajang, dan berencana tidak menikah. Ketika musim panen tiba, mereka selalu membagi hasil sama rata. Selalu begitu.
Pada suatu hari, si adik yang masih lajang itu berpikir. "Tidak adil jika kami membagi rata semua hasil yang kami peroleh. Aku masih lajang dan kebutuhanku hanya sedikit." Maka, demi si kakak, setiap malam, dia akan mengambil sekarung padi miliknya, dan dengan diam-diam, meletakkan karung itu di lumbung milik kakaknya. Sekarung itu ia anggap cukuplah untuk mengurangi beban si kakak dan keluarganya.
Sementara itu, si kakak yang telah menikah pun merasa gelisah akan nasib adiknya. Ia berpikir, "Tidak adil jika kami selalu membagi rata semua hasil yang kami peroleh. Aku punya istri dan anak-anak yang akan mampu merawatku kelak ketika tua. Sedangkan adikku, tak punya siapa-siapa, tak akan ada yang peduli jika nanti dia tua dan miskin. Ia berhak mendapatkan hasil lebih daripada aku."
Karena itu, setiap malam, secara diam-diam, ia pun mengambil sekarung padi dari lumbungnya, dan memasukkan ke lumbung mulik adik satu-satunya itu. Ia berharap, satu karung itu dapatlah mengurangi beban adiknya, kelak.
Begitulah, selama bertahun-tahun kedua bersaudara itu saling menyimpan rahasia. Sementara padi di lumbung keduanya tak pernah berubah jumlah. Sampai....suatu malam, keduanya bertemu, ketika sedang memindahkan satu karung ke maring-masing lumbung saudaranya. Di saat itulah mereka sadar, dan saling menangis, berpelukan. Mereka tahu, dalam diam, ada cinta yang sangat dalam yang selama ini menjaga persaudaraan mereka. Ada harta, yang justru menjadi perekat cinta, bukan perusak. Demikianlah jika bersaudara.***

Mandikan aku Bunda

Saya terenyuh membaca sebuah kisah sedih di internet, sebagai bahan renungan untuk kita bersama. Moga-moga kita sebagai orang tua dari seorang anak yang di atas namakan buah cinta kasih, tidak mengalaminya.
Ini ada kisah sedih tentang kehidupan kita sebagai seorang ibu dan wanita karir, semoga dapat diambil hikmahnya baik yang sudah berkeluarga maupun yang masih single. Saya hanya ingin bertutur tentang seorang sahabat saya. Sebut saja Rani namanya.
Semasa kuliah ia tergolong berotak cemerlang dan memiliki idealisme yang tinggi. Sejak awal, sikap dan konsep dirinya sudah jelas : meraih yang terbaik, baik itu dalam bidang akademis maupun bidang profesi yang akan digelutinya. Ketika Universitas mengirim kami untuk mempelajari Hukum
Internasional di Universiteit Utrecht, di negerinya bunga tulip, beruntung Rani terus
melangkah. Sementara saya, lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran dan berpisah dengan seluk beluk hukum dan perundangan. Beruntung pula, Rani mendapat pendamping yang "setara " dengan dirinya, sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi. Alifya, buah cinta mereka lahir ketika Rani baru saja diangkat sebagai staf Diplomat bertepatan dengan tuntasnya suami Rani meraih PhD. Konon nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah "alif" dan huruf terakhir "ya", jadilah nama yang enak didengar : Alifya. Tentunya filosofi yang mendasari pemilihan nama ini seindah namanya pula. Ketika Alif, panggilan untuk puteranya itu berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila saja. Frekuensi terbang dari satu kota ke kota lain dan dari satu negara ke negara lain makin meninggi. Saya pernah bertanya , Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal ?" Dengan sigap Rani menjawab: "Saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Everything is ok. "Dan itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya walaupun lebih banyak dilimpahkan ke baby sitter betul-betul mengagumkan. Alif tumbuh menjadi anak yang lincah, cerdas dan pengertian. Kakek neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu tentang ibu-bapaknya. "Contohlah ayah-bunda Alif kalau Alif besar nanti." Begitu selalu nenek Alif,ibunya Rani bertutur disela-sela dongeng menjelang tidurnya. Tidak salah memang. Siapa yang tidak ingin memiliki anak atau cucu yang berhasil dalam bidang akademis dan pekerjaannya. Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau Alif minta adik. Waktu itu, Ia dan suaminya menjelaskan dengan penuh kasih-sayang bahwa kesibukan mereka belum kemungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini "dapat memahami" orang tuanya.
Mengagumkan memang. Alif bukan tipe anak yang suka merengek. Kalau kedua orang tuanya pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Kisah Rani,Alif selalu menyambutnya dengan penuh kebahagiaan. Rani bahkan menyebutnya malaikat kecil. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orang tua sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby-sitternya." Alif ingin bunda mandikan." Ujarnya. Karuan saja Rani yang dari detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, menjadi gusar. Tak urung suaminya turut membujuk agar Alif mau mandi dengan tante Mien, baby-sitternya. Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan," Bunda, mandikan Alif " begitu setiap pagi. Rani dan suaminya berpikir, mungkin karena Alif sedang dalam masa peralihan ke masa sekolah jadinya agak minta perhatian. Suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. " Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency". Setengah terbang, saya pun ngebut ke UGD. But it was too late. Allah sudah punya rencana lain. Alif, si Malaikat kecil keburu dipanggil pemiliknya. Rani, bundanya tercinta, yang ketika diberi tahu sedang meresmikan kantor barunya, shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan anaknya. Dan itu memang ia lakukan, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku."Ini bunda,Lif. Bunda mandikan Alif." Ucapnya lirih, namun teramat pedih. Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu berkata, " Ini sudah takdir, iya kan ? Aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, dia pergi juga kan ? ". Saya diam saja mendengarkan. "Ini konsekuensi dari sebuah pilihan." lanjutnya lagi, tetap tegar dan kuat. Hening sejenak. Angin senja berbaur aroma kamboja. Tiba-tiba Rani tertunduk. " Aku ibunya !" serunya kemudian," Bangunlah Lif. Bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan bunda sekali lagi saja, Lif". Rintihan itu begitu menyayat. Detik berikutnya ia bersimpuh sambil mengais-kais tanah merah.***

Anjing kecil

Seekor anak anjing yang kecil mungil sedang berjalan-jalan di ladang pemiliknya. Ketika dia mendekati kandang kuda, dia mendengar binatang besar itu memanggilnya.
"hai anjing kecil ... kamu pasti masih baru di sini, cepat atau lambat kamu akan mengetahui kalau pemilik ladang ini mencintai saya lebih dari binatang lainnya. Karena saya bisa mengangkut banyak barang untuknya, saya kira binatang sekecil kamu tidak akan bernilai sama sekali baginya," ujar kuda dengan sinis.
Anjing kecil itu menundukkan kepalanya dan pergi. Tapi, dari kandang sebelah, ia mendengar suara seekor sapi.
"Hai anjing kecil ... tahukah kamu bahwa saya adalah binatang yang paling terhormat di sini sebab nyonya di sini membuat keju dan mentega dari susu saya. Kamu tentu tidak berguna bagi keluarga di sini," dengan nada mencemooh.
Belum lagi kesedihannya hilang, ia mendengar teriakan domba. "Hai sapi, kedudukanmu tidak lebih tinggi dari saya. Aku memberi mantel bulu kepada pemilik ladang ini. Saya memberi kehangatan kepada seluruh keluarga. Tapi omonganmu soal anjing kecil itu, memang benar. Dia sama sekali tidak ada manfaatnya di sini."
Satu demi satu binatang di situ ikut serta dalam pencemoohan itu, sambil menceritakan betapa tingginya kedudukan mereka di ladang itu. Ayam pun berkata bagaimana dia telah memberikan telur, kucing bangga bagaimana dia telah mengenyahkan tikus-tikus pengerat dari ladang itu. Semua binatang sepakat kalau si anjing kecil itu adalah mahluk tak berguna dan tidak sanggup memberikan kontribusi apapun kepada keluarga itu.
Terpukul oleh kecaman binatang-binatang lain, anjing kecil itu pergi ke tempat sepi dan mulai menangis menyesali nasibnya. Sedih rasanya, sudah yatim piatu, dianggap tak berguna, disingkirkan dari pergaulan pula.
Dan ternyata tak jauh dari situ, ada seekor anjing tua mendengar tangisan tersebut, lalu menyimak keluh kesah si anjing kecil itu," anjing tua ... saya tidak dapat memberikan pelayanan kepada keluarga di sini, sayalah hewan yang paling tidak berguna di sini."
Terharu, anjing tua berkata, "Memang benar bahwa kamu terlalu kecil untuk menarik pedati. Kamu tidak bisa memberikan telur, susu ataupun bulu. Tetapi bodoh sekali jika kamu menangisi sesuatu yang tidak bisa kamu lakukan. Kamu harus menggunakan kemampuan yang diberikan oleh Sang Pencipta untuk membawa kegembiraan."
Malam itu ketika pemilik ladang baru pulang dan tampak amat lelah karena perjalanan jauh di panas terik matahari, anjing kecil itu lari menghampirinya, menjilat kakinya dan melompat ke pelukannya. Sambil menjatuhkan diri ke tanah, pemilik ladang dan anjing kecil itu berguling-guling di rumput disertai tawa ria. Akhirnya pemilik ladang itu memeluk dia erat-erat dan mengelus-elus kepalanya, dan berkata:
"Meskipun saya pulang dalam keadaan letih, tapi rasanya semua jadi sirna, bila kau menyambutku semesra ini. Kamu sungguh yang paling berharga di antara semua binatang di ladang ini. Kamu kecil, tapi sangat mengerti artinya kasih."
Nah ...Jangan sedih ketika kita tidak dapat melakukan sesuatu seperti orang lain karena memang tidak memiliki kemampuan untuk itu. Tetapi apa yang kita dapat lakukan, kerjakan itu dengan sebaik-baiknya. Jangan sombong jika kita merasa banyak melakukan beberapa hal pada orang lain, karena orang yang tinggi hati akan direndahkan dan orang yang rendah hati akan ditinggikan. Selalu begitu.***

Rabu, 02 Juli 2008

Bak Menggantang Asap

Asap mulai membumbung mengancam pernapasan warga, khususnya di wilayah Dumai, Duri dan Ujungtanjung. Saat ini lahan yang terbakar lebih dari 1.000 hektare. Berbagai upaya sudah dilakukan, tetapi belum mampu menghadang rambatan api di dalam gambut.
Pemadaman bukan hanya menggunakan semprotan, tetapi dengan bom air yang menggunakan helikopter. Upaya ini belum bisa menghentikan kepulan asap, sebab api berada di dalam gumpalan gambut, yang kedalamannya sampai 1,5 meter. Artinya api itu seperti dalam sekam. Kendati bagian atas sudah padam, bagian dalam sekam itu tetap menyala kendati kita siram berulang kali.
Satu-satunya upaya memadamkan api dalam gambut itu adalah dengan turunnya hujan. Masalahnya, berulang kali dilakukan Salat Istiqa, salat minta hujan, tapi sering kali Allah SWT jarang mengabulkannya. Entah apa penyebabnya, mungkin sudah terlalu banyak dosa umat manusia ini. Semua yang kita alami saat ini seharusnya menjadi pelajaran bagi kita semua.
Dan kalau pun diturunkan hujan, biasanya yang terjadi adalah muncul bencana banjir. Habis asap terbitlah banjir, demikian media menyebutnya. Kita jadi gamang, bagaimana menyikapi perubahan iklim yang terjadi saat ini.
Kebijakan yang dilakukan ibarat menggantang asap, semua sepertinya sia-sia saja. Asap dan banjir sudah semakin akrap. Mereka tidak mau berjarak. Bukankah di awal Februari ini sebagian Riau kebanjiran, namun dalam bulan yang sama pula muncul kebakaran lahan.
Seandainya asap ini laku diekspor, mungkin Riau memperoleh pendapatan yang cukup lumayan, tetapi masalahnya asap dianggap benda yang membahayakan. Asap bebas terbang ke mana saja, karena asap memang tidak bisa diarahkan. Negara yang disinggahi pun risih, ibarat kedatangan penyakit, sampai-sampai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ditegur PM Singapura Lee Hsien Loong dan Malaysia Abdullah Badawi atau Pak Lah.
Teguran ini seakan-akan Indonesia, khususnya Riau adalah provinsi yang paling bersalah. Padahal kalau dilihat data beberapa tahun lalu, bahwa perusahaan-perusahaan yang diduga membakar lahan itu adalah perusahaan yang pendanaannya dari warga negara Malaysia. Pertanyaannya, apakah Pemerintah Malaysia merelakan pengusahannya itu dihukum. Jawabannya, tentu mereka tidak rela. Tapi tolong jangan disalahkan warga negara Indonesia yang dituduh membakar lahan itu.
Demikian juga Pemerintah Singapura, berapa keuntungan yang diperoleh dari pedagangan minyak sawit, pulp dan kertas. Jangan mahu untungnya saja, tolong sisihkan sedikit keuntungan itu untuk dana pemadaman asap di Riau.
Pernah beberapa tahun waktu lalu, seorang petani di Desa Sungai Alam, Kecamatan Bengkalis ditangkap polisi dan dihukum oleh pengadilan, tersebab membakar lahan. Padahal lahan yang dibakar itu tak sampai satu jempo atau satu jalur. Keluarga sang petani menangis menghadap saya, kebetulan saya Wakil Ketua HKTI dan anggota DPRD Bengkalis, maka wajar mereka mengadu ke saya.
Saya berpikir, bagaimana mungkin petani yang sejak dulu sudah terbiasa membakar ladangnya itu dihukum. Mereka saat membakar berada di ladang, tidak membiarkan begitu saja. Artinya mereka betul-betul mengawasi pembakaran ladangnya itu. Sementara perusahaan perkebunan besar tidak satu pun yang diusik hukum. Yang menjadi pertanyaan, mengapa petani itu yang ditahan. Sejumlah petani yang dianggap bersalah ini pun tetap bersabar, mereka menjalani hukuman dengan perasaan tidak bersalah.
Kebetulan pada saat itu DPRD Riau sedang membahas Perda Karhutla, salah satu isinya menjelaskan bahwa petani tradisional dibolehkan membakar lahan maksimal seluas dua hektare. Tapi, harapan itu pun kandas, sebab Mendagri menolaknya.
Nah, jangan salahkah jika petani saat ini ketakutan ke ladang. Mereka takut ditangkap, sebab sekarang di mana-mana mulai diselimuti asap. Mereka (baca: petani) takut dijadikan kambing hitam.
Bagi kepolisian, setiap muncul kabut asap dan sulit diatasi, tentu harus ditangkap pelakunya. Tapi siapa yang ditangkap? Adakah pengusaha? Petani lah yang paling mudah ditangkap. Selain mereka lemah, mereka juga tidak ada yang membela.
Kepolisian dipaksa oleh publik menangkap pembakar lahan, tetapi masalahnya mereka berhadapan dengan sejumlah pengusaha besar. Untuk melaporkan ke Mabes Polri, bahwa mereka telah berhasil menangkap sejumlah pelaku pembakaran lahan di Riau, tentulah petani lugu itu yang ditangkap.
Haruskah asap yang mulai mengepul di Dumai dan Duri itu akan menjadikan petani sebagai kambing hitamnya? Kita tidak tahu.
Seharusnya dibedakan antara petani tradisional dengan petani berdasi. Harus dibedakan pula petani ladang yang sudah lama bermukim dengan petani pembalak hutan, yang membakar hutan untuk dijadikan ladang.
Jangan sampai petani yang memang betul-betul petani itu yang ditangkap, sementara petani jadi-jadian alis siluman itu bebas membakar hutan. Biasanya petani berdasi jarang turun ke lapangan.
Petani yang tidak bertanggung jawab biasanya setelah membakar ladangnya, mereka tinggalkan begitu saja. Nah, inilah yang perlu dikejar pihak kepolisian. Jangan menangkap petani yang sedang bekerja di ladang.
Trauma pasca-penangkapan petani tradisional di Pulau Bengkalis sampai kini masih dirasakan. Untuk itu perlu penangan yang lebih arif lagi terkait pembakaran lahan ini. Semoga kabut asap kali ini tidak mengkambinghitamkan petani tradisional lagi.***

Bagus Santoso SAg MP, Wakil Ketua DPRD Bengkalis dan Wakil Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Bengkalis.

Mempertaruhkan 53 Ribu PNS

Untuk menjamin netralitas Pegawai Negeri sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), Pegawai Negeri dilarang menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik”. Pasal 3 ayat (3) Undang-undang No.43/1999

Kutipan undang-undang di atas mengandung makna yang dalam. Pertama, bagi sebagian PNS, yang bukan pengurus partai mereka menjadi lebih tenang, sebab lebih leluasa saat memilih calon yang dijagokannya saat Pilkada atau Pemilu. Apakah pemilihan bupati, gubernur atau presiden atau pula saat Pemilu yang memilih wakil rakyat di tingkat kabupaten/kota, provinsi dan pusat.
Kedua, bagi yang pernah merasakan nikmatnya menjadi pengurus partai mereka menjadi gamang, minimal harus memilih jadi PNS karir atau pengurus partai.
Selain itu, larangan ini akan menjadi hambatan untuk mencari kader-kader baru partai dari kalangan akademisi (dosen) atau birokrat. Seperti yang pernah diungkapkan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, partai memerlukan orang-orang pintar dari kalangan akademisi, jangan sampai dengan adanya larang PNS masuk partai, mengakibatkan partai hanya dipenuhi kalangan saudagar saja.
Wajar saja JK berpikiran demikian, sebab Amien Rais juga merupakan akademisi yang pemikirannya sangat diperlukan mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM) saat ini. Makanya setelah tidak lagi memimpin partai Amien Rais kembali duduk di depan kelas.
Setiap orang memang berhak menafsirkan sisi baik dan buruknya dari undang-undang tersebut dan wajar saja JK memberi pemahaman yang berbeda. Undang-undag tentu ada sisi baik dan buruknya.
53 Ribu PNS Riau
Pada dasarnya setiap individu cenderung pada pilihan hati nuraninya, namun kadang kala pilihan itu sering dikaburkan oleh sistem, maka jarang heran kalau PNS masa Orde Baru tidak mampu berdiri tegak membusungkan dada bahwa dirinya punya pilihan sendiri —takut dikucilkan. Saat itu akan merasa bangga kalau bisa menjadi pengurus Golkar, apakah di tingkat desa atau kecamatan, apalagi di tingkat kabupaten dan provinsi.
Nah, pasca diberlakukankannya UU No 43/1999, maka PNS sedikit bernapas lega, sebab PNS dilarang menjadi pengurus Parpol. Artinya bebas memilih siapapun yang dianggapnya sesuai dengan keinginannya.
Anda dapat membayangkan, jika suara PNS se-Riau yang jumlahnya lebih 53 ribu lebih ini akan ”dipaksa” memilih partai atau tokoh tertentu saja. Jumlah 53 ribu bukan angka yang sedikit. Itu baru angka PNS, belum lagi istri, anak dan keluarga mereka. Anggap saja PNS tersebut memiliki tiga anak ditambah satu istri, maka jumlahnya menjadi lima. Kalai lima dikali 53 ribu, jumlahnya sekitar 250 ribu lebih. Angka ini adalah angka yang signifikan dalam memenangkan calon tertentu.
Sisi lain, biasanya sosok PNS besar pengaruhnya di masyarakat. Anggap saja sekitar 10 keluarga yang terpengaruh pada PNS ini, maka jadilah 2.500 suara, maka totalnya mencapai 2.750 suara. Yakni suara PNS ditambah keluarganya dan 10 keluarga di sekitarnya. Angka tersebut hanya prediksi sederhana, namun diperkirakan lebih dari angka itu, jika PNS dijadikan ”mesin politik”.
PNS dapat digunakan untuk mesin Pilkada dan Pemilu, sebab PNS memiliki jaringan luas. Misalnya hubungan antara atasan dan bawahan, yang harus ”dipahami” oleh bawahan —Soal ‘’paham’’ ini sampai-sampai dalam seleksi jabatan sang calon harus ”sepaham” dengan atasannya, sementara pendidikan SPAMA dinomorduakan.
Korpri Bukan Alat Politik
Sebagai wadah tempat berkumpulnya PNS, Korpri harus pula berani melakukan reaktualisasi atas tugas dan fungsinya. Korpri yang dibentuk berdasarkan Keppres 82/1971 pada 29 Nopember 1971, dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas mental, moral, pengabdian, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) PNS. Bukan untuk diperalat demi kemenangan partai tertentu.
Korpri (PNS) bukan alat politik. Jika ada tindakan pemimpin Korpri atau instansi terhadap anggotanya yang bertentangan dengan semangat reformasi dan hakikat Korpri haruslah diluruskan.
Sejatinya dengan persatuan itulah Korpri mestinya menghormati perbedaan aspirasi politik anggotanya, bukan memaksakan kehendak yang merugikan anggotanya. Keniscayaan tersebut merupakan bagian integral dari realitas PNS sebagai unsur aparatur negara, abdi negara, dan abdi masyarakat, dalam menyelenggarakan pemerintahan dan pembangunan.***

Bagus Santoso SAg MP, Wakil Ketua DPRD Bengkalis.

Menangkap Pesan Idul Fitri

Tatkala seseorang usai menunaikan zakat senilai 2,5 persen dari hartanya, maka sudah terpenuhilah hukum Islam yang dibebankan padanya. Sementara usai membayar zakat, terlihat seorang anak yang kelaparan, orang itu pun pikir-pikir untuk membantunya. Padahal zakat itu adalah standar minimal yang ditetapkan hukum Islam. Kalau Anda mau membayar lebih, tentu yang lebih ini lebih utama.
Kita selama ini lebih banyak menjalankan ibadah standar ”lunas’’, tidak ada keinginan untuk lebih baik. Nah pada ibadah puasa ini Allah SWT mengisyaratkan mau pilih yang mana? Mau puasa sekadarnya saja, menahan rasa lapar dan haus, atau menjalankan ibadah puasa sebaik mungkin.
Menurut Cak Nun (Emha Ainun Najib) manusia seperti ini adalah manusia fiqh, yakni melaksanakan ibadah sebatas anjuran fiqh. Kalau sudah melaksanakan ibadah sesuai dengan rukunnya, maka sudah selesailah urusannya ibadahnya pada Allah.
Pada tahap ini, kesadaran manusia beragama baru pada taraf sekadar menjalankan aturan main dari Tuhan atau agama. Misalnya, kalau zakat mensyaratkan cukup 2,5 persen, padahal ia mampu 10 persen, maka yang ia pilih adalah yang 2,5 persen. Dengan kata lain, yang ia pilih hanyalah sekadar untuk memenuhi ritual sesuai hukum fiqh.
Di atas manusia fiqh adalah cinta atau hub. Kalau orang sampai pada tataran ini, ia tidak lagi sekadar memenuhi aturan hukum fiqh. Ia akan melakukan apa saja yang terbaik bagi ciptaan Allah berdasarkan rasa cinta. Ia akan rela menolong siapa saja meskipun hukum, misalnya, tidak mewajibkan hal itu. Sederhana saja, landasannya adalah rasa cinta.
Di atas cinta adalah takwa, yang merupakan tujuan utama berpuasa. Salah satu ciri orang yang betakwa adalah menyerahkan semua hidupnya hanyalah kepada Allah. Ia hanya menangis di hadapan Allah dan tidak di hadapan manusia. Ia tidak akan berbalik perilakunya meskipun puasa telah berlalu.
Makanya Allah pun isyaratkan manusia yang benar-benar menjalankan ibadah puasa akan memperoleh titel takwa. Puasa tidak hanya menahan lapar dan haus alias sekadar lunas. Puasa baginya merupakan proses pendidikan rohani. Ia akan kreatif memainkan kecerdasan emosional, intelektual, dan kecerdasan spiritual untuk mencari hikmah di balik puasa.
Misalnya ia makin paham bahwa ketika siang hari nafsunya menuntun akan menghabiskan seluruh makanan yang ada di meja saat buka puasa nanti, begitu berbuka tiba, ia baru sadar bahwa nafsu besar tadi akan ditolak oleh perut. Perut adalah bagian badan yang jujur bahwa ia memiliki keterbatasan. Di sinilah ibadah puasa itu menjelaskan mana sejati dan mana yang palsu.
Islam memang menganjurkan kita memperoleh harta yang berlimpah, tetapi tidak untuk dikonsumsi sendiri. Harta itu harus bermanfaat. Harta itu tidak akan bisa dibawa mati. Tapi ada cara lain, bagaimana agar harta itu bisa dibawa mati. Caranya? Ya dimanfaatkan untuk kebaikan. Harta itu bermanfaat bagi orang lain, dan dari manfaat itulah pahalanya bisa dibawa pulang ke ‘’kampung akhirat’’.
Padahal puasa mengajarkan mana yang sejati dan mana yang palsu. Yang sejati bisa di bawa mati, sedangkan yang palsu hanya menjadi rebutan anak cucu ketika ia meninggal. Islam juga mempersilakan umatnya untuk mencari harta sebanyak mungkin, asal halalal dan thoyyiban. Dan yang penting, harta adalah benda material yang harus ditransformasikan menjadi “energi” agar dapat di bawa mati.
Dalam term agama disebut “diamalsalehkan”. Sebuah mobil yang ia miliki tidak bisa dibawa mati kalau hanya berujud mobil. Benda itu dapat dibawa mati ketika diamalkan, misalnya sering untuk menolong tetangga yang memerlukannya.
Yang terjadi pada bulan puasa adalah kebaikan semu. Lihat saja nanti begitu menjelang hari raya kurang tiga hari, orang sudah lupa Salat Tarawih, sudah lupa bersedekah, lupa berpenampilan baik dan sabar. Yang ia pikirkan adalah memenuhi nafsu memborong segala keperluan yang berlebihan menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Memaafkan Itu Menyehatkan
Memang Idul Fitri bukanlah suatu yang akhir. Masih akan ada perjuangan yang harus dilalui sesudahnya. Seperti yang pernah diisyaratkan Rasulullah seusai Perang Badr di akhir Ramadan. Bahwa, dari perang kecil (Badr) masih ada perang yang lebih besar untuk menegakkan agama yang benar.
Beragama yang benar adalah nasihat menasihati. Sabda Rasul: Addinun Nashihhat, arti nasehat bukan sekadar membimbing dengan kata-kata, tetapi menunjukkan serta mendukung segala kebajikan dengan amal perbuatan, sehingga pemberi nasihat mengantar orang yang dinasihati kepada suasana keterbukaan, tenggang rasa, serta insyaf bahwa keperluan manusia tidak dapat dipenuhi kecuali dengan bantuan orang lain.
Yang lebih penting, semoga saja tak cuma simbol yang melekat pada diri kita selepas puasa sebulan penuh ini. Segala aspek kehidupan yang lurus yang kita jalani selama Ramadan ini hendaknya menjadi titik tolak untuk melangkah ke depan. Hal ini kita mulai dari diri kita sendiri, barulah kemudian ke jenjang yang lebih besar yakni saudara, keluarga, tetangga, hingga masyarakat luas.
Adapun mengenai perayaan Idul Fitri yang berbeda waktunya janganlah dijadikan perdebatan dan masalah besar. Sebaliknya, terimalah perbedaan itu sebagai rahmat dan tetap menjalin tali silaturahmi. Bukankah diturunkan ajaran Islam ini untuk rahmatan lil alamin.
Masih ingat di saat kita masih anak-anak dulu kala. Hari Raya Idul Fitri merupakan hari yang sangat indah. Bukan berarti harus berbaju baru atau makanan yang lezat, tetapi orang tua kita mengajarkan pada diri kita bahwa kita telah ”menang”, karena selama