Minggu, 29 Juni 2008

Rindu Harum Ramadan

Kendati sepekan lagi kita memasuki Ramadan. Namun wangi harum Ramadan sudah mulai terasa. Bukan hanya wangi kue, tetapi suasana menyambut Ramadan sudah mulai terasa, mulai dari persiapan balimau kasai dan lain sebagainya.
Sebagaimana dalam hadits tersebut, bahwa surga rindu pada empat orang: pertama orang yang gemar membaca Alquran, orang yang menjaga lidahnya --hanya berkata baik, menghindari berkata jelek. Ketiga, pemberi makan orang-orang yg lapar dan keempat orang yang berpuasa di bulan Ramadan --Tentunya orang yang benar-benar puasa, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga.
Yang gembira menyambut Ramadan ini bukan hanya Muslim di Bengkalis, tapi juga Muslim Bosnia, Amerika, Cina, Jepang dan umat Islam di pulau-pulau terpencil yang tidak kita ketahui.
Bagaimana sikap kita menyambut Ramadan? Pertama, berdoalah agar Allah SWT memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu dengan Ramadan dalam keadaan sehat wal afiat. Sebab dengan modal sehat ini kita melaksanakan ibadah puasa, salat, membaca Alquran zikir dan sejumlah amalan lainnya.
Kedua, bersyukurlah dan puji Allah SWT atas karunia Ramadan yang kembali diberikan kepada kita. Sebab, tidak semua orang diberi rahmat berjumpa dengan Ramadan. Bagaimana bentuk syukur tersebut? Menjalankan ibadah puasa sebaik mungkin.
Ketiga, bergembiralah dengan kedatangan Ramadan. Rasulullah dan para sahabat selalu menyambut gembira di saat kedatangan Ramadan, yakni bulan yang penuh rahmat dan kebaikan.
Keempat, rancang agenda kegiatan untuk mendapatkan rahmat selama Ramadan. Bulan suci ini waktunya sangat singkat, karena itu isi setiap detiknya dengan amalan yang berharga, untuk membersihkan diri dan mendekatkan diri pada Allah SWT.
Kelima, bertekadlah mengisi Ramadan dengan ketaatan. Puasa wajib Ramadan ini menguji kejujuran kita pada Allah SWT, sebab tidak ada satu orang pun yang tahu tentang puasa kita. Bisa saja kita mengaku puasa di hadapan keluarga, teman dan orang lain, tapi kita sendiri tidak puasa. Makanya, soal pahala puasa ini hanya Allah lah yang mengetahuinya.
Keenam, pelajari hukum-hukum semua amalan yang terkait dengan ibadah puasa di bulan Ramadan, sebab ibadah yang disertai ilmu tentang ibadah itu sendiri, itu jauh lebih baik dibandingkan orang yang beribadah tanpa memahami maknanya. Contohnya saja salat, banyak orang salat tetapi makna salatnya belum mampu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Demikian juga ibadah puasa perlu dipelajari, agar puasa kita benar-benar bermanfaat.
Ketujuh, sambut Ramadan dengan satu tekad yakni untuk meninggalkan dosa dan kebiasaan buruk. Ramadan adalah bulan taubat, maka bertekatlah untuk meninggalkan seluruh perbuatan yang buruk.
Kedelapan, siapkan dan isilah jiwa dengan bacaan-bacaan yang mendukung proses tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa). Pada bulan Sya'ban ini sebenarnya banyak amalan yang bisa dilakukan sebagai proses awal latihan bagaimana menyambut Ramadan, misalnya puasa nisfu Sya'ban dan amalan lainnya, sehingga secara mental kita siap untuk melaksanakan ketaatan pada bulan Ramadan.
Kedelapan, siapkan diri untuk berdakwah di bulan Ramadan. Banyak cara berdakwah, sesuai dengan posisi masing-masing kita di masyarakat. Jika seorang petani tetap bekerja dan tidak mengeluh kedatangan Ramadan, itu adalah bagian dari dakwah. Dakwah tidak hanya di masjid, di pasar, di bus dan di mana pun bisa. Bahkan dakwah yang lebih membumi adalah sebagaimana dilakukan Rasulullah, di mana saja beliau berada selalu menjadi contoh.
Kesepuluh, sambutlah Ramadan dengan membuka lembaran baru yang bersih. Kepada Allah marilah kita lakukan tobat nashuha (tobat yang sebenar-benarnya, tidak akan mengulangi pekerjaan buruk itu lagi). Kepada orang tua dan keluarga, marilah kita jaling tali silaturahmi dan kepada masyarakat bertekat menjadi orang yang bermanfaat bagi mereka, sebab orang yang paling baik adalah orang yang paling bermanfaat.
Insya Allah dengan kesiapan yang matang menyambut Ramadan ini, kita akan memperolah rahmat dan ampunan dari Allah SWT.
Memang saat ini banyak tradisi sebenarnya baik diakukan menjelang Ramadan, seperti petang megang atau mandi limau dan sejenis, dengan sebagai lambang untuk membersihkan diri kita menyambut Ramadan, tapi sayang tradisi disalahartikan, dengan acara-acara yang merusak makna Ramadan itu sendiri, seperti dengan goyang dangdut, pacaran dan lainnya.
Namun itulah kenyataanya. Kita tidak bisa menyalahkan begitu saja, sebab sebatas itulah pemahaman mereka dalam menyambut Ramadan. Artinya tanggung jawab kita bersama untuk mengingatkan agar kelakuan salah tidak perlu dilakukan lagi. Banyak cara yang islami dalam menyambut Ramadan.***

Bagus Santoso, warga Bengkalis.

Tidak ada komentar: