Rabu, 25 Juni 2008

Jangan Terjebak Harta

Tatkala seseorang kaya raya, jangan bayangkan berarti hidupnya makin nikmat, bisa saja dia kesulitan tidur (insomania) karena memikirkan hartanya. Sementara mereka yang hidup sederhana bekerja sebagai petani, di malam hari bisa tidur nyenyak. Demikian pula mereka yang memiliki banyak ilmu, jangan dipikir hidupnya tenang, sebab ilmu yang dikuasai tidak menjamin akan menentramkan jiwanya tanpa amal ibadah yang seimbang.
Kehidupan yang sebentar ini --rata-rata hidup manusia setengah abad (50 tahun)-- sering dimaknai sebagai kehidupan yang abadi, sehingga rutinitas kehidupan sering menjadikan dirinya abai pada perintah Allah SWT. Mereka yang terjebak rutinitas, memaknai hidup hanya untuk hidup, bukan hidup ini untuk ibadah, maka jangan heran kalau mereka mengidap penyakit stress, sebab kerja untuk kerja, bukan kerja untuk ibadah.
Bagi mereka yang memaknai hidup untuk ibadah pada Allah SWT, semua pekerjaan tidak akan sia-sia, bahkan ujian seberat apapun dianggap sebagai bagian dari ibadah yang sangat berarti bagi dirinya. Artinya Allah menguji dirinya, yang berarti Allah masih sayang, karena masih peduli padanya.
Walau miskin harta, mereka tidak merasa gersang hatinya. Ia yakin apa yang diberikan Allah saat ini adalah yang terbaik, mungkin saja jika Allah memberikan harta yang berlimpah, maka kemudaratan yang dia terima, seperti yang dialami Tsa'labah, sahabat Rasulullah SAW yang diuji dengan harta berlimpah sehingga dia stress sibuk mengurusi harta yang kian melimpah --dalam kasus Tsa'labah hartanya kambing yang jumlahnya terus meningkat, sehingga waktunya habis mengurusi kambing-kambingnya.
Bagi si miskin yang menyadari bahwa apa yang diberikan Allah saat ini adalah yang terbaik bagi dirinya, maka dia akan mampu bangkit dari kemiskinan. Pemahaman akan dirinya sendiri dan sang Khalik merupakan modal dasar dalam menjalani kehidupan ini, kelak dia akan menjadi orang yang beruntung, karena ia berbeda dengan orang yang minus imannya.
Mereka yang beriman walau pun miskin, akan bermanfaat bagi diri, keluarga, tetangga, kampung dan negerinya. Bahkan mampu mengubah hidupnya menjadi orang kaya, sebab dia bukan bagian orang-orang yang stress atau mabuk dunia, tetapi dia adalah bagian dari masyarakat yang sehat, masih memiliki hati nurani dan mampu membiayai hidupnya dengan keringatnya sendiri.
Sedahsyat apa pun ujian kehidupan, kalau manusia memiliki iman tak dapat disangkal lagi ia pun akan tetap bertahan. Bertahan dari segala terpaan hidup yang menindas dan mengakibatkan dirinya diliputi kepiluan yang mendalam. Ketika dirinya berhadapan dengan "virus kemiskinan", dari jiwanya muncul kesiapan untuk menantangnya dan tak diliputi kegelisahan yang terus menerus menghinggapi diri. Sebab, sudah sejak awal tertanam dalam jiwa nama Allah yang dijadikan sebagai bentuk terapi bagi penyembuhan gangguan jiwa itu.
Sering muncul anggapan mereka yang zuhud dianggap menjauhi kehidupan dunia, padahal mereka yang zuhud itu adalah mereka yang memberikan hak-hak kaum miskin atau du'afa, jadi bisa saja dia kaya namun tidak memaknai hartanya akan dibawa ke akhirat. Sebab harta yang dimiliki hanya milik Allah SWT, oleh karena itu harus ermanfaat, bukan ditumpuk menjadi pundi-pundi yang menggunung bagai Qorun yang mati karena hartanya sendiri.
Padahal kehidupan jasad (duniawi) waktunya terbatas, sementara kehidupan ruhaniah itu lebih lama. Jasad mengenal rasa lelah, mengantuk, penyakit dan keperluan tidur, tidak demikian dengan ruh. Jasad terikat jam-biologis, tapi ruh adalah dimensi bebas segala keterikatan atas dinamika bendawi.
Seseorang yang biasa tidur siang atau malam pukul 21.00, ketika suatu saat tidak tidur siang atau tidur larut malam akibat sibuk kerja atau sebab lain, badannya terasa nyeri atau serba idak enak. Situasi demikian tidak dialami ruh yang tak mengenal dan tidak dikenai waktu historis dan hukum mekanis jasad-tubuh tersebut.
Orang-orang kaya harta dan kuasa seringkali hidupnya kosong dan hampa karena kehilangan kekayaan ruhaniah dan spiritual. Mereka yang kaya harta, kuasa dan ilmu, sering mahal senyum dan stres berat, tanpa banyak pilihan, kecuali mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Manusia terperangkap dalam mekanisme bendawi serba terbatas. Sementara banyak orang yang tiap hari makan sekali bekerja keras sehari suntuk di bawah terik matahari, bisa besenda gurau dan tidur lelap malam hari berselimut awan. Mari kita bertanya pada diri sendiri: Apa sebenarnya yang kita cari dengan segala daya dalam kehidupan ini?
Sebenarnya miskin dan kaya adalah fenomena yang wajar, sebab roda dunia terus bertukar, bisa saja hari ini kita kaya raya, namun esok hari siapa tahu? Yang menjadi masalah adalah kegersangan jiwa manusia yang melanda si miskin dan si kaya. Karena kegersangan jiwa si miskin akan melakukan apapun yang diharamkan. Demikian juga bagi si kaya, ia semakin haus harta dan apapun dilakukan demi harta, bukan karena mencari rida Allah. Maka jangan heran, kalau si miskin menjarah harta si kaya dan si kaya menjarah harta si miskin. Sehari-hari kita sering mendengar, si miskin mencela si kaya atau sebaliknya yang kaya tidak ambil peduli pada kemiskinan.
Fenomena bencana alam yang menimpa sebagian negeri ini, pemutusan hubungan kerja, terbatasnya daya serap tenaga kerja baik PNS maupun swasta, membuat jumlah angka kemiskinan terus melangit, kegersangan jiwa yang dialami sebagian mereka, kemungkinan akan menyuplai angka tindak kriminal.
Kegamangan pejabat negera akan terimplementasi dalam kebijakkannya, sebab dalam membuat keputusan lebih dominan mengedepankankan kepentingan kelompok, demi ini dan demi itu, bukan demi Allah SWT. Sangat wajar, kalau aksi-aksi demo yang menentang kebijakan negara ini terjadi saat ini karena kebijakan itu kurang bermanfaat bagi umat. Dasar berpijak mereka hanya dunia, bukan azas manfaat bagi umat sebagaimana diajarkan Islam yakni rahmatan lil 'alamin.
Pemahamanan sekuler --pemisahan kehidupan dunia dan akhirat-- berdampak pada perbuatan kita sehari-hari. Padahal antara dunia dan akhirat itu sejalan, kehidupan dunia merupakan peluang untuk berinvestasi di akhirat. Bekerja bukan berarti tanpa arti, tetapi adalah bagian dari ibadah dan menabung amal di akhirat. Misalnya, jika kita memiliki uang Rp1.000, kalau kita belikan rokok paling dapat satu batang dan dalam waktu lima menit habis, namun kalau kita infakkan atau dimanfaatkan pada hal-hal yang berguna maka menjadi investasi kita di akhirat. Semakin banyak uang yang kita sedekahkan, maka semakin banyak pula investasi kita perolah di akhirat kelak. Investasi akhirat tidak memerlukan dana, cukup hati dan perbuatan. Sangat mudah, tetapi hanya sebagian manusia yang mau berinvestasi untuk akhirat.
Bencana yang menerpa bangsa ini merupakan peluang bagi kita untuk berinvestasi di akhirat. Jumlah warga miskin yang terus membengkak saat ini merupakan peluang untuk berinvestasi di khirat. Caranya, bantu mereka keluar dari kubangan kemiskinan. Bahkan anak kita itu juga merupakan peluang bagi kita untuk berinvestasi di akhirat, yakni menjadikan mereka anak saleh, sehingga kelak akan mendoakan kita dan meringankan azab kubur.
Artinya segalanya yang diciptakan Allah ada manfaatnya termasuk bencana alam, kemiskinan, kebodohan, merupakan tantangan bagi kita untuk berinvestasi di akhirat. Jangan tunggu besok untuk berinvestasi akhirat, lakukan sekarang juga, selagi masih banyak orang yang memerlukan pikiran, dana dan perhatian kita. Jangan tunggu ketika orang-orang tidak memerlukan hartamu lagi, jika saat itu kamu berinfak, maka tidak ada satu pun yang mau menerimanya.***

Tidak ada komentar: