Menyertai nasib bangsa besar Indonesia yang terus didera murka alam bencana dan musibah akibat tangan-tangan jahil manusia. Maka menambah panjang rintihan pilu perjalanan sejarah, selama kurun era reformasi dan puncaknya dua tahun terakhir. Di masa penuh cobaan yakni sejak terpilihnya Susilo Bambang Yudoyono presiden pertama kali hasil pilihan rakyat secara langsung.Berbagai program dan kebijakan pemerintah sudah dimulakan untuk mengatasi segala problema dengan harapan untuk menyejahterakan rakyat.
Sebenarnya beberapa kegiatan demi memberikan rasa aman dan nyaman bagi rakyat sudah ditempuhnya. Di antaranya telah dinaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dari listrik, telepon, gaji pegawai dan pejabat. Tidak itu saja berlanjut hingga pemberian uang tunai, jatah raskin serta operasi pasar murah.
Kebijakan yang populis begitu komentar dan pendapat sebagian masyarakat yang setuju. Sebalikmya bagi yang tidak sepaham menyebut tidak lebih dari sekadar pengaplikasian teknis bermain catur, karena dipandang hanya sebuah pendekatan berisiko ‘’coba-coba’’ padahal dapat berakibat fatal. Tetapi setidak-tidaknya pemerintah sudah menunjukkan kesungguhannya dalam meretas kesengsaraan dan kemiskinan
Naiknya harga minyak, listrik, telepon secara teori dikabarkan demi rakyat. Coba tanya pada mereka apakah rasa aman dan nyaman betul terpenuhi. Naiknya harga-harga keperluan dasar hidup diimbangi dengan kenaikan gaji abdi negara.
Padahal menurut hitungan penduduk Indonesia dari 165 juta jiwa cuma berapa persen yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sekali lagi mari bertanya pada suara mayoritas masyarakat bawah.
Eit, sabar dulu dimaklumkan untuk rakyat Indonesia syarat punya identitas kartu miskin berhak atas bantuan langsung tunai Rp300 ribu per bulan.
Sekarang mari dihitung bersama berapa tingkat keberhasilan pendekatan pemerintah yang bertekad memberikan rasa aman dan nyaman pada rakyat. Di Tangerang Banten meskipun pemerintah melalui Bulog mengadakan operasi pasar, yakni penjualan beras dengan harga lebih murah sekalipun, ternyata tidak semua masyarakat kelas bawah mampu membelinya, di Sumatera Selatan warga terpaksa makan oyek, nasi di campur tiwul.
Bagaimana di negeri kita Riau, dampak melonjaknya harga beras, memaksa 30 orang warga Kecamatan Rumbai Pekanbaru harus mencampur nasi dengan tiwul, mereka tak mampu lagi membeli beras sementara operasi pasar beras tak pernah singgah ke daerah mereka.
Apa yang terjadi pada episode pemberian dana uang tunai kepala RT/RW terpaksa mengundurkan diri karena tak tahan didemo warga di lingkungannya yang rata-rata miskin, namun tidak terdata kecuali hanya beberapa orang saja.
Sementara akibat melonjaknya harga BBM, nelayan tidak bergairah lagi melaut karena hasil tangkapannya tidak dapat menutup membeli solar.
Petani enggan menanam padi karena harga pupuk tidak terjangkau, sementara di beberapa tempat pupuk subsisi diperjulbelikan di pasaran. Bahkan petani tak berani membuka lahan karena takut ditangkap, sudah puluhan petani yang mendatangi penulis, karena keluarganya dipenjara.
Dapat ditarik benang merah, bahwa setiap terjadi kenaikan harga dasar keperluan hidup yang paling terkena dampaknya adalah masyarakat kelas bawah; buruh, petani, dan nelayan.
Lalu apa yang mesti kita perbuat bersama untuk dapat menyejahterakan bangsa ini supaya masyarakat negeri ini mengenyam nikmat kesejahteraan, perut kenyang, lingkungan aman dan nyaman.
Pertama, kita memaklumi bahwa negara kita selama ini menganut prinsip harga murah, namun dengan memakai dana subsidi. Di antaranya: Listrik oleh PLN dijual dengan harga murah tidak lebih dari Rp650 per Kwh, padahal mereka harus mengeluarkan biaya mahal untuk menghasilkan energi listrik Rp1.550 per Kwh.
Sebuah teori ekonomi yang jelas-jelas tak dapat diterapkan, jangankan berharap untung balik modal saja sampai kiamat pun tak akan bisa. Maka perlu rumusan yang tepat untuk kebijakan subsidi kemudian perlahan memberikan pemahaman kepada rakyat dan menyediakan lapangan pekerjaan, sehingga terjadi peningkatan pendapatan.
Negeri ini penghasil minyak bumi, tetapi tetap saja tergantung dengan negara luar karena bangsa ini hanya mampu menjadi penjual bahan mentah dengan harga super murah.
Sementara untuk menjadikan barang mentahan menjadi barang konsumsi untuk warga, bangsa yang hebat ini belum dapat lepas.
Secara gentlemen kita mengakui ketangguhan Singapura, tidak memiliki sumber daya alam, tetapi mereka lebih piawai memerankan sebagai negera penjual jasa.
Thailand negeri berkembang tidak memiliki sumber minyak, tetapi tidak pernah kelangkaan minyak. Jiran kita Malaysia yang dahulu belajar kepada Pertamina sekarang laju meninggalkan Indonesia. Dengan Petronasnya melesak hebat menggurita ke berbagai belahan dunia. Sementara apa yang dapat dibanggakan, dari negeri yang alamnya subur dan kaya raya ini.
Kedua, pemimpin negeri yang bersungguh-sungguh mesti menerapkan pepatah Anjing Mengongong Kafilah Berlalu. Maknanya program kegiatan yang sudah melalui serangkaian perencanaan matang harus konsisten dilaksanakan. Berbagai kritik anggap sebagai sebuah tantangan untuk cepat mewujudkan kegiatan yang dirancang.
Kata finalnya buktikan bahwa output yang dihasilkan terbukti berhasil guna. Jika ternak yang dikembangkan terbukti menambah pendapatan dan berdampak menggairahkan perekonomian lainnya, kalau proyek padi teruji petani sejahtera, jika membangun berbagai sarana infrastruktur teknologi hasil produksinya nyata, bukan menjadi onggokan besi tua.
Masukan, kritik saran jangan ditabukan, program pembangunan senantisa dievaluasi. Bahkan hentikan jika ternyata kegiatan yang tidak terencana karena hasilnya tidak lebih kepada unsur pemubaziran.
Sebab marwah, wibawa sang pemimpin tidak akan jatuh gara-gara menghentikan proyek yang diluar perkiraan nalar apalagi terbukti setelah jadi tidak optimal atau sama sekali tak dapat difungsikan.
Tidak keliru meniru langkah berani Gubernur DKI Sutiyoso konsisten membangun transportasi trans Jakarta meskipun dihadang tantangan demontrasi. Tetapi Sutiyoso berhasil membuktikan diri sebagai penyedia transportasi lancar dan murah bagi masyarakat. Sebuah mega proyek yang perlu keberanian karena sudah terencana dan terukur.
Ketiga, bersama mari ciptakan ketertiban dan kenyamanan mulai dari lingkungan masing-masing. Karena suasana yang tertib dan nyaman adalah syarat mutlak untuk memulai menata harapan hidup.
Salah satu dari keengganan pemilik modal masuk ke negeri kita karena unsur tertib dan aman belum terpenuhi. Kalangan kaya pemilik modal banyak yang lari tunggang langgang karena berbelitnya proses birokrasi dan merebaknya preman di sembarang tempat.
Sudah saatnya negeri kacau-balau ini kita tinggalkan menuju bangsa yang tertib dan nyaman. Semoga dengan mengakui ‘’kekurangan’’ serta ikhtiar menata dengan derap optimisme, insya Allah bangsa kita dijauhkan dari bala dan bencana. Amin.***
Bagus Santoso SAg MP, Wakil Ketua DPRD Bengkalis, dosen STAI Bengkalis.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar