Orang miskin dilarang sakit.Orang miskin jangan bermimpi kuliahDemikian ungkapan miris yang sering kita dengar. Namun itulah kenyataan kehidupan kita hari ini. Bertepatan dengan pengumuman hasil
Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) yang kebatulan hari ini, Jumat, 3 Agustus 2007. Penulis ini ingin mencermati dunia pendidikan, khususnya perguruan tinggi. Salah satu masalah pendidikan yang sangat krusial adalah mahalnya biaya pendidikan.
Mulai dari Taman Kanak-kanak (TK) sampai Perguruan Tinggi (PT), semuanya mahal. Tidak ada yang gratis. Kalau pun gratis cuma di bibir saja, tapi kenyataanya, ya harus bayar. Sampai-sampai sejumlah kepala daerah saat ini ”digugat” karena tidak bisa memberikan pendidikan gratis sebagaimana dijanjikan pada masa kampanye.
Hari ini, bagi yang lulus maupun yang gagal SPMB, sama-sama pusing. Bagi yang lulus, dari kalangan orang tuanya yang kurang mampu, mereka saat ini berpikir keras bagaimana mendapatkan uang kuliah. Termasuk biaya kos di kota yang kian mahal. Sampai-sampai karena mahalnya biaya kos, sejumlah mahasiswa pun menjadi gharim di masjid. Ya, itulah kenyataannya.
Bagaimana bagi yang tidak lulus? Tentunya makin berat lagi, sebab iklan biaya pendidikan yang ditawarkan PTS lebih mahal lagi, atau tak jauh beda dengan negeri.
Kondisi ini menggambarkan bahwa pendidikan itu menjadi barang yang mahal. Kendati bagi sebagian orang yang mampu, dianggap biaya tersebut masih murah, bahkan mereka berani mengambil jalur khusus. Kabarnya dengan uang, sejumlah bangku di perguruan tinggi elit pun dapat dibeli, dengan alasan otonomi perguruan tinggi. Siapa yang tidak ingin anaknya menjadi sarjana?
Hal ini disebabkan ketimpangan antara yang kaya dan miskin di negeri sangat kontras. Sehingga kebijakan pemerintah sering kali menggenalisir antara si miskin dan kaya. Padahal yang mampu membayar uang kuliah itu dari kalangan yang mampu saja, akibatnya si miskin dianggap mampu membayar uang kuliah juga, kendati harus banting tulang —itupun kalau masih tahan banting.
Sejumlah jurus sudah dilakukan pemerintah, seperti mengupayakan pendidikan gratis mulai dari SD sampai SMA, bahkan subsidi untuk perguruan tinggi di daerah pun ditingkatkan, namun semua belum sesuai dengan yang diharapkan. Masih banyak sejumlah remaja yang terpaksa harus berhenti sekolah dan kuliah karena miskin.
Belajar dari Sejarah Islam
Ada baiknya kita merenung sejenak, bagaimana belajar dari kejayaan Islam di masa Rasulullah SAW dan sahabatnya.
Mengapa Islam dalam waktu singkat menjadi kiblat ilmu pengetahuan di dunia? Jawabannya karena pendidikan gratis —lebih dari 20 persen menganggarkan dana pendidikannya.
Kita masih ingat sejumlah perguruan tinggi fenomenal seperti Al-Azhar yang dibangun masa Bani Fatimiyah, perguruan tinggi Nizamiah yang dipimpin Al-Gazali dan sejumlah perguruan tinggi Islam di Spanyol yang menyumbang kemajuan peradaban Barat.
Pendidikan gratis yang dijalankan pemerintah Islam saat itu terbukti berbuah zaman keemasan. Inilah yang ditiru Jepang di saat kalau perang, sebagiamana pernah ditulis tokoh pendidikan Riau, yakni Pak Djauzak Achmad yang saat ini menjabat sebagai Kepala Majelis Pendidikan Riau. Di setiap tulisannya, beliau sering kalau mengutip strategi Jepang di saat kalah perang melawan Amerika.
Bukan hanya Jepang, strategi kebijakan pendidikan di zaman keemasan Islam, saat ini juga ditiru negeri jiran kita, Singapura. Mereka tidak ragu-ragu berinvestasi di bidang pendidikan. Sampai-sampai siswa Riau yang berhasil meraih medali emas saat Olimpiade Fisika pun ditawari menjadi warga negara Singapura. Artinya, mereka sangat menghargai orang-orang pintar.
Hal ini juga dilakukan Jerman, di mana mereka berhasil ‘’meminang’’ BJ Habiebie untuk bekerja di sana. Anehnya, pemerintah negara kita tidak memanfaatkannya. Bahkan kabarnya, sejumlah doktor alumni Jerman yang pernah bekerja di IPTN saat ini mereka berhamburan pergi ke Malaysia, Jerman dan sejumlah negara yang menawari mereka dengan pekerjaan tetap dan gaji yang lumayan.
Aneh bin ajaib, mengapa orang-orang pintar di negeri ini kita lepas ke luar. Artinya apa? Kita enggan berinvestasi di bidang pendidikan dan kurang menghargai orang pintar.
Sejarah Islam menjelaskan sejumlah ulama besar seperti Ibnu Sina, Arrazy, Alkhawarijmi dan lainnya mereka didukung pemerintah melakukan riset. Bahkan tak tanggung-tanggung sang khilafah pun rela membangun labor dan perguruan tinggi yang megah.
Tapi sayang, bangsa Tartar memberangus kejayaan Islam. Sampai-sampai Sungai Tiggris di Irak pun berwarna hitam karena buku-buku mereka bakar dibuang ke sungai. Hal ini juga yang dilakukan Amerika Serikat saat ini di Irak, mereka meruntuhkan peninggalan Islam.
Kita memang tidak bisa mendapatkan pendidikan yang ideal, karena banyak keterbatasan kita, tapi kita dianjurkan berusaha bagaimana mendapatkannya.
Melihat potret buram pendidikan kita saat ini, sudah saatnya kita melakukan koreksi dan perbaikan. Baik bagi pemerintah maupun pengusaha yang berinvestasi di bidang pendidikan.
Kita jangan hanya menginstruksi wajib belajar enam tahun, sembilan tahun dan seterusnya, sementara mereka tidak mampu membayarnya. Wajib belajar, tapi mengapa harus bayar?***
Bagus Santoso SAg MP, dosen STAI Bengkalis.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar